1 Komentar

Dokumentasi Tulisan tentang Tim Kemanusiaan Merdeka untuk Merapi #3

UNTUK TUAN MENTERI AM

 

“Menurut saya penting memberikan kegiatan positif bagi pengungsi. Saya lihat mereka itu sudah enak sebenarnya (huruf tebal dari penulis), makan sudah siapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu  makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam,” kata Andi Mallarangeng di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu (7/11/2010). Demikian kutipan pemberitaan dari detiknews.com (http://pendek.in/02cuk).

Pernyataan Menpora ini tentu saja akan menyinggung perasaan ratusan ribu pengungsi korban letusan gunung Merapi di Yogyakarta apabila mendengar atau mengetahuinya. Ini menambah sederetan pernyataan para pemimpin bangsa yang menciderai para saudara yang tengah dilanda duka. Menunjukkan watak sebenarnya para pemimpin kita yang sama sekali tidak memiliki sensitivitas terhadap penderitaan warganya.

Salah satu tempat pengungsian

Saya kira tidak ada satupun orang di dunia ini yang menginginkan diri, keluarga dan komunitasnya mengungsi, meninggalkan tempat tinggalnya. Lantaran situasi yang memaksa-lah mengharuskan mereka harus pindah sementara.

Pada kasus bencana letusan Merapi, kita juga telah mendengar informasi bertambahnya korban meninggal dunia karena mencoba kembali ke desa asalnya untuk mencari rumput bagi pangan ternak-ternaknya. Upaya untuk menjenguk desanya banyak dilakukan para pengungsi, walau sudah dihimbau untuk tidak kembali mengingat ancaman Merapi masih merupakan ancaman nyata. Tindakan warga yang sesungguhnya merupakan cerminan dari ketidaknyamanan berada di pengungsian, inipun disikapi sebagai ”kebodohan” oleh banyak kalangan.

Dua ratus ribu jiwa lebih dari DIY, dan Jawa Tengah yang berada di seputar gunung Merapi telah terpaksa meninggalkan desanya. Menyebar ke berbagai tempat pengungsian, yang kemudian harus berpindah lagi, menjauh karena daerah berbahaya menjadi semakin luas. Semula daerah berbahaya hanya 10 km dari puncak merapi kini telah menjadi 20 km, dan ada kemungkinan bisa diperluas lagi bila Merapi menunjukkan tanda-tanda akan lebih berbahaya.

Pernyataan AM atau Anto, panggilan akrab Andi Malarangeng, sang Mentri ini,  memang sangat menyederhanakan persoalan, bahwa kenikmatan hidup seolah-olah hanya untuk kebutuhan makan saja (walau makan memang menjadi kebutuhan dasar manusia), tanpa memperhitungkan aspek-aspek kebutuhan lainnya.

Seandainya beliau berkesempatan atau dipaksa untuk hidup bersama pengungsi, tentu akan bisa memahami betapa tidak menyenangkannya hidup di dalam pengungsian. Mereka berada pada ruang-ruang terbuka, kadang tanpa dinding, tidur berdesakan tanpa batas, seringkali dengan alas yang terbatas pada tikar saja. Jangan dibayangkan misalnya ketika para pejabat mengunjungi sebuah pengungsian di Yogya melihat para pengungsi sudah mendapatkan kasur, namun setelah para pejabat mengakhiri kunjungannya, kasur-kasur itu kembali menghilang. Hal yang menjadi perhatian dari seorang wakil bupati yang wilayahnya terkena bencana, mempertanyakan hilangnya kasur-kasur itu dalam status FB-nya (ketika saya menulis ini, status tersebut sudah tidak ada lagi).

Seandainya beliau hadir, tanpa embel-embel pejabat, datang menyamar, menyaksikan kehidupan sesungguhnya di pengungsian, pastilah akan paham bagaimana untuk mandi dan buang air kecil, tempatnya (dan airnya tidak memadai). Seperti di GOR Maguwoharjo yang dihuni oleh lebih dari 30 ribu pengungsi, ada 60 MCK, apakah bisa menampung kebutuhan seluruh pengungsi. Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar bisa berkesempatan mandi? Antrian terakhir untuk mandi pagi, ketika gilirannya mungkin sudah mandi sore. Belum lagi perhitungan yang dibuat oleh seorang narasumber di salah satu stasiun televisi swasta, bila satu orang membutuhkan 5 liter air, air yang tersedia tidak mencukupi. Masih kurang 120 ribu liter per harinya. Ini baru di satu lokasi pengungsian. Bagaimana dengan pengungsi yang berada di tanah lapang, yang tidak memiliki fasilitas MCK?

Soal makan? Ah, jangan dibayangkan makan yang dihidangkan untuk para mentri dan tamu-tamunya dong. Dapur-dapur umum banyak yang memasak tidak sampai matang. Seorang relawan pernah mendengar pernyataan dari seorang aparat negara yang bekerja di dapur umum, ”Tidak matang-pun pasti akan dimakan oleh pengungsi,”

Belum lagi kalau bicara tentang para pengungsi anak, siapakah yang pernah bertindak untuk benar-benar mempersiapkan menu makanan yang sesuai dengan anak? Makanan yang tersedia, cenderung untuk orang dewasa. Terlalu pedas atau asin. Pada akhirnya anak-anak hanya bisa menikmati nasinya saja. Belum lagi keterlambatan jadwal makan yang sering terjadi di berbagai lokasi pengungsian.

Di tengah kebutuhan pangan, seorang pegawai satu kecamatan di Kabupaten Klaten terlihat marah ketika ditanya salah seorang relawan tentang bantuan yang menumpuk. ”Belum ada instruksi status tanggap darurat dari Pak Camat,” Lho?! Sekarang ini lagi masa tanggap darurat, Pak!!!

Soal makan yang dibarengi kebutuhan lain bila makanan tidak cocok, misalnya pada kebelet bareng. Bisakah membayangkan tuan Mentri? Pada pertemuan koordinasi, sebuah lembaga yang menyatakan bisa mengerahkan 30 mobil MCK tidak berani mengoperasionalkannya lantaran tidak ada jaminan dari pemerintah untuk mensuplai kebutuhan airnya.

Dan siang tadi, ketika gemuruh dari puncak merapi terdengar sampai 40 km, ada sebuah rumah sakit yang dokter dan perawatnya lari terbirit-birit meninggalkan para pasiennya. Beberapa kawan yang menjadi relawan yang kebetulan ada di lokasi, menemukan ada satu orangtua yang tertinggal dan satu orang yang sudah meninggal. Lantaran salah seorang kawan kenal dengan seorang anggota DPRD setempat dan bisa menghubunginya melalui komunikasi HP, maka ambulan bisa segera datang untuk menjemput sang nenek itu.

Klarifikasi yang dilakukan direktur rumah sakit tersebut kepada salah seorang relawan menyatakan bahwa keluarga pasienlah yang panik yang segera mengevakuasi anggota keluarganya sehingga dokter dan para perawat jadi ikut-ikutan menyelamatkan diri.

Ah, tuan Mentri, dan para pejabat lainnya, memang seharusnyalah kalian menyingsingkan lengan baju untuk bergabung, setidaknya belajar menjadi pengungsi.

 Yogyakarta, 8 November 2010

Catatan: Foto-foto dokumentasi SAMIN dan Foto Andi Malarangeng diambil dari SINI

______________________________________

JANGAN MEMPERMAINKAN NYAWA

Bencana, seperti yang terjadi pada Gunung Merapi di Yogyakarta, yang pada situasi sekarang ini senantiasa berkembang, tentulah kebenaran perkembangan informasi situasinya sangat dibutuhkan. Berbeda dengan bencana lainnya seperti gempa, sekali terjadi, setelah itu tinggal melakukan evakuasi terhadap korban dan menyelamatkan para korban yang terluka atau masih hidup, bencana meletusnya gunung Merapi selalu masih dibayang-bayangi ancaman atas situasi yang bisa bertambah buruk.

Gunung Merapi menjadi salah satu yang dikenal sebagai Gunung teraktif di dunia (letusan-letusan kecil terjadi setiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali), dengan ketinggian 2968 meter, telah menunjukkan geliatnya. Gunung yang secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten (Jawa Tengah), pada tanggal 20 September 2010 statusnya dinaikan dari normal menjadi waspada oleh BPPTK. Pada tanggal 21 Oktober 2010, kembali dinaikan menjadi siaga. Status kembali berubah menjadi awas oleh BPPTK Yogyakarta pada tanggal 25 Oktober 2010. Dan pada tanggal 26 Oktober 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi dengan menyemburkan awan panas setinggi 1,5 meter dan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km. Lalu tanggal 27 Oktober, Gunung Merapi pun meletus yang menimbulkan korban jiwa.

Perkembangan kemudian, ancaman letusan yang lebih besar terus membayang-bayangi. Pada tanggal 5 November 2010, sesaat pergantian hari, letusan yang dinilai sebagai letusan terbesar selama 100 tahun terakhir terjadi dan mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia.

Sampai hari ini, wedhus gembel, demikian disebut oleh warga Yogyakarta untuk menyebut awan panas yang keluar dari merapi, masih saja berulang kali menyembur. Daerah bahaya yang semula 10 km ditingkatkan menjadi 15 km, kemudian menjadi 20 Km. Daerah-daerah yang semula menjadi tempat pengungsian, menjadi tidak aman lagi, dan harus berpindah tempat. Lebih dari 200,000 orang terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya demi keselamatan.

Perkembangan situasi yang tak terduga dari Merapi, dapat termonitor oleh gerakan para relawan yang melakukan pemantauan dan mengabarkan perkembangan-perkembangan yang terjadi dari pos-pos yang telah disiapkan. Informasi-informasi yang disiarkan melalui alat komunikasi dengan frekuensi 149.070 Pos Pemantauan Balerante dari Jaringan Informasi Lingkar Merapi  ini bisa menjadi  arahan bagi penduduk dan para relawan yang bekerja untuk para pengungsi. Sayangnya, keberadaan saluran informasi ini ternodai oleh para jammer yang sering membuat kekacauan dengan mengganggu sinyal, melontarkan pernyataan-pernyataan provokatif, seperti yang baru saya dengan dua-tiga jam lalu ketika para pemantau diminta untuk mundur, ada suara provokatif yang meminta mereka untuk terus maju dan jangan takut. Gangguan lainnya adalah komunikasi yang tidak berhubungan dengan informasi situasi merapi.

Ini adalah persoalan yang menyangkut puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan nyawa. Para Jammer seolah tidak memiliki keprihatinan, apalagi kepedulian terhadap nasib para penduduk dan para relawan. Seolah-olah mereka mencari kepuasan pribadi bila bisa mengganggu.

Tindakan semacam ini bisa dikatakan telah mempermainkan nyawa banyak orang. Sebuah tindakan keji tidak berperikemanusiaan yang bisa dikategorikan tindakannya lebih kejam dari para teroris. Aparat keamanan seharusnya tidak membiarkan para jammer beraksi. Segeralah bertindak!

 Yogyakarta, 8 November 2010

Iklan

One comment on “Dokumentasi Tulisan tentang Tim Kemanusiaan Merdeka untuk Merapi #3

  1. […] Pernyataan yang baru saja terjadi dan menimbulkan reaksi, terutama dari para facebooker adalah pernyataan dari Andi Malarangeng mengenai pengungsi. Dikatakannya: “Menurut saya penting memberikan kegiatan positif bagi pengungsi. Saya lihat mereka itu sudah enak sebenarnya (huruf tebal dari penulis), makan sudah siapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu  makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam,” kata Andi Mallarangeng di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu (7/11/2010). Demikian kutipan pemberitaan dari detiknews.com (http://pendek.in/02cuk). (Sikap saya tentang pernyataan ini sudah saya posting di Sini juga, lihat: Untuk Tuan  Mentri AM) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: