15 Komentar

Bertemu Muka dengan Dua Sahabat (Mbahwo dan Hilda)

Mbahwo tampak samping (Doc. Hilda Rumambi)

Sekitar seminggu yang lalu, seorang sahabat mengontak saya, tentang kedatangan seorang sahabat dari Palu yang tengah berada di Yogya. Ia mengajak untuk kopi darat. Maklum, dengan para Sahabat ini, sesungguhnya kami satu sama lain memang belum pernah berjumpa langsung. Saya mengenal dan berkomunikasi dengan mereka berdua hanya melalui tulisan dalam sebuah site jurnalisme warga dan melalui komunikasi telpon.

Tentu saja kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan. Selama ini sebenarnya berulangkali berjanji untuk bertemu, selalu saja gagal lantaran tidak ada waktu yang cocok. Akhirnya untuk kali ini terpilih tanggal 3 Januari. OK.

Maka pada tanggal tersebut, saya mengosongkan dari jadwal kegiatan apapun. Janjian kami pukul 09.00. Dasar saya termasuk orang yang suka jam karet, baru pada jam 09.00 itu pula saya meluncur dari Yogya bagian selatan ke Yogya bagian utara, yang sudah masuk wilayah Kabupaten Sleman. Sekitar 20 menitan, akhirnya saya tiba di tempat tujuan.

Saya hanya mengenakan kaos, celana jeans dan sandal, sebagaimana penampilan yang saya suka. Penampilan yang juga saya sengaja sekaligus untuk menguji pandangan dari sahabat saya ini, apakah benar dengan karakter yang saya bayangkan.

Begitu masuk halaman, tulisan besar terpampang dengan jelas. Dilarang masuk dengan menggunakan kaos dan sandal. Nah, loh!

Saya berhenti di dekat kantor pos Satpam, menelpon sahabat saya ini. Langsung terjawab, dan rupanya ia sudah menunggu di depan pula, sehingga langsung terlihat. Ah, senangnya. Saya-pun melanggar aturan dengan parkir motor  di dekat kantor Satpam, tepat di depan spanduk bertuliskan: Motor Dilarang Parkir di Sini. He.h.e.he.h.eh.e.

Ia menyalami dan menyapa saya dengan hangat, seperti seorang kawan yang sudah lama tak berjumpa. Wah, benarlah dugaan saya, juga dugaan dari banyak sahabat-sahabat lain mengenai dirinya. Penampilannya sangat santai. Berpakaian kemeja coklat, tanpa dimasukkan, dengan alas kaki, sepatu sandal. Melanggar aturan di sini pula dirinya!

”Sebaiknya kita tidak di ruangan kerja saya. Mas Odi merokok kan, kita cari tempat yang nyaman bisa ngobrol sekaligus merokok,”  katanya sambil mengajak menuju sebuah ruang kerja di bagian sebelah Timur bangunan besar ini. Memang ada banyak tulisan di berbagai tempat yang tertera di dinding: Terima kasih sudah tidak merokok di tempat ini.

”Bagaimana, sehat, Mbah?” tanyaku.

”Alhamdullillah, lebih sehat,” jawabnya santai. Ya, beberapa waktu lalu kudengar kabar ia sempat diopname di rumah sakit, selanjutnya masih dalam perawatan.

Sahabat kami yang dari Palu belum datang. Maka kami mengobrol saja ngalor-ngidul tentang apapun. Tentunya juga menyerempet tentang situasi terakhir di Website satu jurnalisme warga, juga tentang kasus yang tengah dialaminya.

Sekitar pukul setengah sebelas, datanglah sahabat kami. Seorang perempuan yang pernah menggegerkan jurnalisme warga dengan lontaran tulisan mengenai situasi karya fiksi yang disebutnya sastra instan. Termasuk pula tulisan-tulisan berikutnya yang dianggap sebagai kritikan sangat keras seperti: cerpen basi dan garing. Bolehlah kita berbeda pendapat dalam pikiran, namun dalam nyata, kami tetap bisa menjalin persahabatan. Dialah Hilda Rumambi yang pada situs jurnalisme warga menggunakan nama Hilda Hammercity. Jauh sebelumnya sebenarnya kami telah berkomunikasi melalui telpon lantaran suatu tulisan saya dikomentari oleh seorang rekan kerjanya. Pada saat ramai tentang sastra instan dan ketika berkomunikasi kembali melalui telpon, tampaknya ia lupa, walau kemudian berusaha mengingat diri saya. “Oh, ya saya ingat, tapi dulu foto profilnya berambut gondrong,” setelahnya komunikasi kami lancar kembali.

Dengan kehadiran Hilda, pembicaraan-pun semakin hangat, tentang berbagai persoalan lain, saling bercerita tentang pengalaman masing-masing, di sebuah ruang kerja di sudut gedung utama yang konon menghabiskan dana 40 miyar rupiah untuk pembangunannya.

”Pak Rektor ketika tahu kalian mau datang, sebenarnya ingin juga ikutan ngobrol. Tapi sekarang lagi ada pertemuan dan agak kurang sehat. Tapi semoga nanti bisa gabung ke sini,”  sahabat yang menjadi tuan rumah berkata. Ya, kami mengunjungi tempat kerjanya, sebuah kampus yang tengah berkembang pesat di Yogyakarta. Tempat yang kami kunjungi adalah kampus utama dari tiga kampus yang tersebar di berbagai tempat dan ia merupakan salah satu pimpinannya.

“Sejak kecil, banyak pengalaman tentang kehidupan sulit yang harus saya jalani. Jujur juga, saya pernah menjadi tukang parkir, berteman dengan para preman-preman di kota ini,” sepenggal kisah dari sahabat. “Sampai sekarang, saya mencoba untuk tidak berubah. Saya sering hanya naik motor ke sini. Kalau pakai mobil-pun, mobil tua. Kecuali, kalau memang ada tamu pejabat seperti menteri, ya kita gunakan mobil yang layak-lah untuk menyambut mereka.”

Pada penggalan-penggalan tentang kegiatannya, ia menceritakan keterlibatannya dalam berbagai organisasi ataupun usaha-usaha penting di tingkat nasional, kesibukannya sebagai dosen untuk mahasiswa S1 dan S2 di beberapa kampus di Yogya, dan juga memberikan bimbingan kepada para kandidat doktor.

”Di Yogya itu seabrek-abrek orang yang memiliki pendidikan tinggi, sekolah di luar negeri, mendapat anugrah profesor, tapi tidak peduli dengan gelar-gelar yang disandangnya, tetap menjalani kehidupan secara sederhana,” katanya dengan memberikan contoh beberapa nama. ”Masak saya mau menyombongkan diri dengan status dan kemampuan yang masih kalah dengan mereka-mereka itu, bisa di ”tutuk-i” saya,”

Pembicaraan yang benar-benar hangat, berlangsung santai, ditemani segelas besar kopi yang sayangnya kurang kental, dan nasi dari sebuah warung ayam yang cukup terkenal di Yogya.

Sahabat ini sempat memperlihatkan sebuah jurnal internasional berbahasa Inggris, dan tertera namanya sebagai anggota board, bersama dengan sederetan nama dari berbagai negara.

”Nah, itu juga doktor,” katanya sambil menunjuk ke luar ruangan ketika ada sesosok yang melambaikan tangan, dengan penampilan yang tidak berbeda jauh dengan sahabat kita ini.

Selanjutnya kita tertawa terbahak-bahak ketika membahas tentang adanya gosip terhadap dirinya yang mempermasalahkan gelar yang sebenarnya tidak pernah ditonjol-tonjolkan oleh dirinya, dan memaksa untuk menunjukkan copy ijazah agar tidak dianggap sebagai penipuan.

”Ya, sudah, buat apa. Lebih baik menyatakan tidak punya gelar apa-apa,” katanya santai sambil tertawa pula. ”Banyak orang-orang hebat di sana – menyebut nama jurnalisme warga – dengan gelar profesor Doktor, tapi sangat bersahaja tidak pernah mengunggul-unggulkan gelar ataupun jabatan yang pernah disandangnya,” ia-pun menyebutkan beberapa nama yang hanya menggunakan nama pendek dan kadang inisial tanpa menyatakan profil sesungguhnya padahal sesungguhnya menjadi dosen di universitas terkemuka di luar negeri, ada yang merupakan pengusaha besar,  guru besar dan juga beberapa mantan menteri.

”Di atas langit ada langit,” katanya lagi. ”Biarlah orang menganggap saya rendah lantaran menyatakan sebagai ketua Jamaah perbambungan. Padahal anggotanya ada yang profesor Doktor,”

Tak terasa memang. Apa yang tertulis hanya penggalan kecil dari dialog yang berlangsung. Tentu anda tidak salah bila menduga siapa sahabat kita ini. Dialah Mbahwo, yang sering membuat kita gemas lantaran Pic profilnya adalah sosok tua gila tengah tertawa dan menunjukkan keompongannya. Walaupun sering dipanggil Mbah, umurnya sendiri belumlah terlalu tua. Saya kira Saya malah lebih tua sedikit darinya. Ha.ha.h.a.ha.h.a.ha…

Jujur, saya banyak belajar dari perbincangan ini tentang kesederhanaan dan kesahajaan. Terima kasih Mbahwo. Terima kasih pula Hilda.

Yogyakarta, 4 Januari 2011

Iklan

15 comments on “Bertemu Muka dengan Dua Sahabat (Mbahwo dan Hilda)

  1. Salam saya untuk Mbahwo dan Hilda, Bro Odi. Iya, kesederhanaan itu memang satu hal yang selalu indah, saya kira. Cuman, dalam tulisan ini agak kurang informasi tentang Hilda, padahal saya juga mengaguminya.

    • Ha.ha.h.ah.a nah, loh Hilda sudah ada di bawah tuch.. Sebenarnya, ingin menulis tentang dia, tapi kemarin kosentrasi dengan Mbahwo… Sama Hilda pingin deh ngobrol banyak. Semoga sempat bertemu lagi sebelum ia kembali ke Palu..

  2. hihihiii…..aku kirim pp nya mbahwo disini gimana mas?
    😀

  3. wkwkwkwkwkwkwkwk. Iya bener kopinya encer buanget. Akhirnya kmrn saya langsung ke warung nyari kopi lagi. xixixixixi

    • He.he.h.eh.e, padahal dah pesan kopi kental. Tapi memang bisa berbeda makna kekentalan kopi dari setiap orang, ya, Mbahwo.. Makasih atas kunjungan ke sini, Mbah. Makasih pula atas waktu dan sambutan yang hangat ketika kami datang berkunjung. Selalu sehat, Mbah..

    • Mbah…kalau ada kesempatan kita kopdaran di Yogya, berarti boleh ya, sy pake “seragam” kayak Pak Odi…kaos n sandal hihihihi #moga2 nggak diusir satpam…

  4. sami2, mas Odi. Sedikit ralat, saya bukanlah salah satu pimpinan disana, tetapi lbh tepat yg suaranya sering didengar oleh pimpinan tertinggi disana. 🙂

  5. Kalau sama calon2 doktor, sala lbh tepat sbg teman diskusi yg mengasyikkan. Itu menurut mereka. 🙂

  6. nggak perlu diganti lah. wkwkwkwkwkwk

  7. thanks udah sharing ceritanya di sini Pak Odi, kmrn waktu ngobrol di FB kan sepotong2 aja tuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: