Tinggalkan komentar

Ketika Kembali Terulang

Bersama Istriku

Tahun kemarin, saya merasakan kebahagiaan luar biasa, ketika tepat pada waktunya, ingatan tidak terlarut dengan lupa. Saya berjuang keras untuk mengingat dalam kepala, meluruh dalam kesadaran sejak lima hari sebelumnya.Memang, media kompasiana saya jadikan sarana dengan memposting tulisan. Keinginan agar tak lupa. Sehingga beragam komentar, menjadi pengingatnya. Jadi, terlahirlah dua postingan pada masa itu.

Tapi tahun ini, kembali pengulangan sama dari tahun-tahun sebelumnya. Nyaris terlupa atau memang benar-benar lupa. Padahal seminggu sebelumnya, saya sudah kasih warning ke otak saya: Jangan sampai lupa!

Saya memang tidak ingin memasukkan unsur lupa sebagai hal yang manusiawi. Menjadi pembenar dari segala tindakan saya. Berharap ada pemakluman. Berharap wajah cemberut hanya selintas lalu berubah senyum menyatu dalam pelukan dengan ciuman di kening.

Ah, sebaiknya kuceritakan pengalamanku dulu:

Seminggu ini, kebetulan jadwal ke luar kota. Senin-Rabu di Jakarta, pagi di Yogya, mengisi sebuah acara, dan siang sudah bergerak lagi ke Kebumen hingga hari Minggu. Pada hari Sabtu, badan terasa tidak enak sama sekali. Meriang, badan panas, tapi terasa kedinginan. Sempat kukirimkan sebuah sms kepada istriku, ada kemungkinan jatuh sakit. Setelah itu HP terlupakan.

Kenikmatan rasa sakit, yang biasa kulakukan, tampaknya saat ini tak mempan untuk meredamkan rasa. Maka ketika tuan rumah menyatakan ada tukang pijat, segera kusambar tawaran itu. Sayang, tukang pijat yang dimaksud juga lagi sakit. Ia kasih pilihan lain.”Tapi perempuan,” katanya. Aku menganggukkan tanda setuju.

Maka selepas Maghrib, seorang perempuan paruh baya datang. Dibasuhlah tubuhku dengan minyak, tercampur bawang merah, dan kerokan di beberapa Pijatan yang walau tak memuaskan, tapi cukup untuk mengurangi rasa sakit dari beberapa bagian tubuh. Hingga bisa tertidur, walau berkali pula terbangun. ”Maafkan, bila terlalu banyak suara erangan, itu hal biasa kalau sakit,” kataku pada seorang kawan, yang kutahu tetap terjaga bersama tuan rumah lantaran aku sakit. Duh, terima kasih kawan.

Keesokan harinya, bisa terbangun dan tubuh yang lebih baik dirasa dari sebelumnya. Cuci-muka, seduh air, buat kopi. Lama kemudian melihat HP dalam kondisi mati. Ah, pastilah sang istri cemas. Segera mencharge, beberapa saat kemudian saya menelpon istri. Selesai mengabarkan tentang kondisi yang lebih baik, dan mengucapkan maaf atas kekhawatirannya yang tidak jelas tentang diri saya lantaran berkali menelpon tak bisa menyambung, sang istripun bercerita:

Saat enak tertidur, tiba-tiba terjaga selepas tengah malam. Keadaan gelap gulita. Kecemasan melanda. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Ah..! Meraba, mencari pintu lalu terbuka. Terlihat Vira dan Bara – dua anak kami – memegang lilin dan kue tart, diiringi beberapa kawan kami…

Belum sempat, sang istri melanjutkan ceritanya, langsung saja saya sela: ”Maaf… maaf istriku… Selamat ulang tahun ya…. bahagia selalu, panjang umur dalam sehat,”

Ah, betapa, saya selalu saja terlupa peristiwa yang mungkin ditunggunya, ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang terdekatnya lebih dahulu, sebelum ucapan para saudara dan sahabat melalui  HP dan dinding di jejaring sosialnya.  ”Sekali lagi maaf, ya istriku..”

Wah, tiada terpikir kado, apalagi kado istimewa. Ingin membuat rangkaian kata-kata saja, otak masih terasa beku. Pikiran melayang-layang, sambil membaca ulang, puisi persembahan baginya, pada tahun lalu:

Kepada Istriku di Hari Ulang Tahunnya

walau belum berjumpa,
dan kutahu kau masih terlelap
aku tetap bertahan untuk terjaga
berhasil melewati pergantian hari
dan tepatlah bisa dikata
25 Desember ini tanggalnya

kuucapkan padamu
”selamat ulang tahun istriku,”

aku bisa tersenyum
membayangkan mengecup keningmu
sambil menyaksikan wajah renyahmu
bukan wajah masam seperti tahun-tahun yang sudah
lantaran ucapan datang dariku
setelah berulang isyarat tersampaikan

sehatlah selalu wahai sang istri,
senantiasa kejernihan berpikir mengarungi hari-hari
ringan langkah tapak kaki meniti
penuh semangat, hidup saling berbagi
dipanjangkan umur dan saling mengasihi,

Berdoa kesehatanmu selalu

25 Desember 2010

___________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: