Tinggalkan komentar

Lintasan-lintasan Peristiwa Pribadi

Lintasan-lintasan Peristiwa Pribadi
(Odi Shalahuddin) 

Kebiasaan mencatat peristiwa sehari-hari, terlewatkan mungkin sekitar sebulan ini. Benar-benar dengan kesadaran ada rasa malas untuk menuliskannya. Walau menulis untuk kebutuhan lain masih terus berjalan kendati tertatih. Mencatat peristiwa, atau katakan sajalah semacam catatan harian, bisa menjadi pengingat dan seringkali berguna pada suatu masa, setidaknya untuk diri sendiri.

Saat ini, aku ingin menulisnya. Apa yang teringat, walau pasti banyak pula yang terlupa. Hanya lintasan-lintasan peristiwa. Berlompat-lompatan. Tidak berurutan. Tapi setidaknya tercatat.

Seorang kawan, yang namanya disangkutkan dengan suatu ”peristiwa bohong” yang sempat menggegerkan pemberitaan media massa di Indonesia datang. Menginap empat malam. ”Nah, selebritis kita datang,” selorohku kepadanya. Ia hanya tertawa saja. Bercerita mendalam tentang peristiwa yang dialaminya. Tentang kasus ini sendiri, entahlah bagaimana akhirnya. Seakan lenyap. Sama halnya dengan beragam kasus di Indonesia, yang melenyap perlahan, lalu terlupa, lantaran disibukkan dengan berbagai peristiwa panas lainnya, yang terus berganti. Jadi ingat apa kata Munir: Berjuang melawan Lupa!

Seorang kawan, dari suatu kota di Sumatra, menelpon tiba-tiba, menyatakan dirinya telah di Solo dan akan beranjak ke Yogya. Ah, senang rasanya. Walau sebenarnya, tahun kemarin telah sempat berjumpa dengannya ketika salah satu kota yang kukunjungi adalah kota tempat ia tinggal sekarang. Bertahun tak berjumpa, tentu banyak cerita. Sampai Yogya, malam, berulang kontak dengannya tak bersaut. Pagi baru ia katakan, semalam langsung tertidur, janji dengan para kawan, terlewatkan. Tapi beruntung, ia sempat singgah, walau tak genap dua jam berbincang, lantaran jadwal penerbangannya. Ia, seorang kawan yang pernah ikut kampanye menjadi anggota DPD, berada pada urutan ke lima. Jadi tetap saja tak berhasil. Besar uang yang telah dikeluarkan, sebagian besar dari hutangan, juga dari modal usahanya. Sempat sakit, untungnya tak berkepanjangan. Ia kembali bangkit, merintis dari kecil, hingga kembali menjadi pengusaha. Ah, bila kau katakan perebutan kursi kekuasaan perlu modal, kukira engkau benar! (jadi terbuka kemungkinan prasangka untuk bekerja keras mengembalikan modal.. he.he.h.e.h.e.he)

Ke Semarang. Seorang kawan mengabarkan. Ada seorang anak jalanan meninggal. Tapi kemudian teralat, bahwa masih kondisi koma. Bersama empat orang kawan, sempat menjenguknya ke RS. Karyadi. Kebetulan satpam penjaga tidak terlihat sehingga bisa menjenguk hingga kamarnya. Anggota komunitas jalanan, menunjukkan solidaritasnya, sepuluhan lebih menunggu di lorong rumah sakit. ”kata dokter, tinggal menunggu,” kabar seorang. ”Semoga ada keajaiban” harapku. ”Semoga” sahut kawan-kawan. Kawan ini, kecelakaan ketika menolong memboncengkan kawannya yang baru saja kecelakaan. Esoknya kabar duka datang, pada saat perjalanan menuju Yogya. Di Yogya, seorang kawan mengabarkan, ada kawan, adik kelas saat SMA, tengah kritis. Gagal ginjal.  Berencana bersama istri menjenguk, tapi terabaikan, esoknya kabar duka yang tiba. Ah, maafkan aku kawan. Kawan, selamat jalan menuju ke keabadian. Semoga Tuhan memberikan jalan dan tempat terbaik di dalam dunia baru. Aku Tercenung. Memang Kematian senantiasa membayangi perjalanan hidup kita, tanpa kita tahu, kapan ia akan menyapa. Tidak perduli usia. Jadi, apa yang kita persiapkan?

Ons Untoro buat acara, pembacaan puisi di malam purnama bertempat di Rumah Budaya Tembi (RBT). Bersama istri dan kawan turut hadir. Sudah terlalu lama tak menikmati acara semacam ini. Sekaligus menjawab saran dari sang istri, ”mencari kegiatan atau hobi yang bisa dinikmati, bisa terpisahkan dari kerja. Jangan hanya di depan komputer,”. Sampai di sana, malah berpisah. Istri dan kawan menikmati menonton, aku ke belakang, bertemu kawan-kawan lama. Ah, jadi kangen dengan aksi-aksi para seniman Yogya.  Berjanji pada diri sendiri akan berusaha menyempatkan hadir menyaksikannya. Apalagi RBT akan menggelar acara rutin bulanan setiap purnama.

Hampir terlupa. Beruntung istri mengingatkan. Segera meluncur ke rumah seorang kawan. Telah banyak kawan lama hadir di sana. Angkatan 80-90-an saat mahasiswa. ”A” dan ”B” tadi juga ke sini. Sekarang sudah pamit pulang,” bisik seorang kawan. Ketika tiba, saat seorang kawan yang menjadi staff ahli Bupati, tengah menceritakan pengalamannya. ”Kita harus mempertegas posisi. Jangan nanggung. Saat jadi aktivis kita berperan seolah menjadi penguasa. Ketika dekat dengan kekuasaan malah memposisikan diri seakan menjadi aktivis. Jadi gak jelas. Apapun pilihannya, tetapkan dan konsisten, Saat sekarang siapa cepat dialah yang dapat, bukan soal orang pintar dan berpengalaman,”. Hal lazim dalam pertemuan semacam ini, maka bergosip sedikitlah tentang kawan-kawan yang berada dekat dengan kekuasaan, kawan-kawan yang tetap konsisten sebagai aktivis, dan kawan-kawan yang kurang beruntung menjalani kehidupan. WAKTU, memang bisa merubah seseorang.

Mau nonton pementasan teater dari kelompok teater Fakultas Hukum UGM di Taman Budaya Yogyakarta. Terlambat datang tak bisa masuk. Berpindah ke Fakultas Filsafat UGM, menonton pementasan musik menyambut 15 tahun Sande Monink. ”Selamat ulang tahun, sukses selalu para sahabat! Khusunya untuk Bung Hamcrut, salah seorang pendiri, yang juga dikenal sebagai pawang hujan, dan sekarang menjadi juragan warung kopi

Beberapa kawan, mengabarkan akan berada di Yogya. Bingung juga. Ah, tapi baru teringat. Raja Jogja mantu. Ada yang akan hadir dalam resepsi. Ada yang hadir untuk membuat liputan. Ada juga yang cuti dan sengaja ke Yogya. Atau ada acara lain. Pada saat yang hampir bersamaan. Membagi waktu, tetap saja, tidak semua bisa tersambangi. Bahkan ada yang terlupa. Dasar, baru sadar merasa diri sedikit tua dan pelupa. Ha.h.ah.a.h.aha.ha

Menyempatkan bertemu dengan seorang kawan yang ke Yogya bersama anak-istrinya. ”kupikir dirimu mau meliput,” kataku padanya sambil menyebutkan beberapa nama kawan yang juga datang ke Yogya untuk melakukan peliputan. Kawanku ini, biasanya menjadi kawan menikmati malam bila aku ke Jakarta. Nongkrong di TIM atau beberapa tempat lainnya. Ia seorang jurnalis di salah satu media milik Kompas Group. Dua tiga tahun belakangan, sama-sama sibuk, dan sulit untuk berjumpa saat aku ke Jakarta atau ia tengah mampir ke Yogya. ”Maaf, aku tidak bisa ikut kumpul, sudah ada janji dengan kawan lain. Salamku untuk kawan-kawan ya,” aku berpamitan, ketika ia bersiap menuju satu tempat untuk bertemu kawan-kawan lama juga.

Aku sendiri kemudian meluncur ke penginapan kawan lain, seorang anggota DPD, di sebuah hotel berbintang. Kelihatan sibuk, orang lalu-lalang. Datang-pergi. ”Sudah penuh semua. Juga hotel-hotel di seputaran Malioboro,” kata kawanku. ”Jakarta kosong dong,” candaku. Ia tertawa. Memperkenalkan dengan beberapa orang anggota DPD. Menunjuk dan memberikan keterangan tentang orang-orang yang baru memasuki lobi hotel. Ya, banyak petinggi negeri di sini. Nah, untuk kawan ini, perlu dicatat sendiri. Ia, tidak banyak menghabiskan uang untuk kampanye. ”Hanya 50 juta,” katanya pada suatu saat kutanya tentang biaya pribadi yang dikeluarkannya, ”itupun juga menjual perhiasan istri,”. Ia seorang aktivis jauh di atas saya. Pernah menjadi pendamping anak jalanan, menghabiskan seluruh waktunya bersama mereka. Juga pernah menjadi fasilitator dalam pelatihan di berbagai kota di Indonesia bagi pemberdayaan kaum miskin. Ia orang yang rajin menjaga jaringan. Termasuk ketika telah menjadi anggota DPD. Gayanya, masih saja seperti aktivis anak jalanan. Ya, Orang bisa berubah, kadang juga tak berubah, Cuma nasib yang berbeda. Ha.h.ah.a.h.ah.a. Tetaplah pada kerja berpikir tentang rakyat jelata.  Bila demikian, aku akan senantiasa berdoa. Untukmu kawan!

Menikmati dua malam di salah satu desa. Mati lampu. Hujan deras. Nyala lilin. Seorang tetua hadir, terlibat dalam perbincangan. Justru ia terpancing, banyak bercerita tentang masa lalu. Masa-masa 60-an. Kisahnya pula pada masa-masa sekarang, berbau mistis, tentang negara dan kekuasaan. Kisah yang menarik dan jujur. Ah, sejarah yang masih menyisakan beragam sisi gelap!

Telpon dari kawan penyelenggara pelatihan tentang HAM se-asia tenggara yang merencanakan akan mengadakan kunjungan ke tempatku bekerja. Kunyatakan kesediaan, walau aku sendiri pada tanggal tersebut ke luar kota. He.he.h.e.he.he. Untung ada teman yang bisa dimintai tolong untuk menerima tamu-tamu tersebut.

Seorang kawan lama datang. Jadi dosen sekarang. Mau buat seminar nasional, meminta ada pementasan musik lagu-lagu kritik sosial. ”Kujanjikan akan menginformasikan ke kawan-kawan, dan kupastikan kesediaan”. Beruntung seorang kawan yang tinggal di luar kota memastikan bisa datang ke Yogya untuk turut dalam pementasan. Siang tadi ia kembali memastikan. Kukatakan sudah siap. Tapi aku sendiri tidak bisa hadir lantaran acara lain.

Telpon dari salah satu dinas kabupaten, mengabarkan tentang  acara pengukuhan anggota Forum di rumah Dinas Bupati. Ah, datang tidak ya…. ? Paling sulit bagiku berpakaian formal.

Sore terasa lega. Kode booking sudah di tangan. Jadwal perjalanan untuk esok sore. Jadi. Kuhentikan saja menulis catatan ini. He.he.h.e.he.h.e…

Mari buat kopi, menikmati senja.

Berita hari ini, bisakah kau kata?

Yogyakarta, 25 Oktober 2011

_________________________


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: