Tinggalkan komentar

Sentilan-sentilan Cak Nun Tentang Korupsi

Saya tidak ikut menyediakan pemikiran apa-apa pada malam ini. Apalagi pakai mengatur-ngatur. Saya hanya menyediakan tempat dan mengundang hadirin yang saya jamin berpikir obyektif dan hatinya tidak memiliki kepentingan apa-apa hanya untuk Indonesia. Saya jamin semua memiliki kejujuran pikiran dan kelapangan hati serta bergalon-galon cinta.

Indonesia tidak bisa dibuat susah, karena sesusah-susahnya Indonesia, kita masih bisa tertawa-tawa.

Saya punya banyak pertanyaan, punya banyak pemikiran, tapi saya ingin memberikan ruang kritis terhadap acara ini. Saya memiliki satu doa, semoga KPK cepat bubar.  Di dalam setiap birokrasi negara, dalam konstitusi resmi, aparat hukum itu adalah kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. KPK adalah adhock. Itu pemain pengganti. Kalau ada pemain pengganti, berarti ada masalah dengan yang diganti. Jadi, nanti kalau sudah tidak ada masalah dengan yang diganti, maka KPK tidak dibutuhkan lagi. Harus begitu. Jadi ketua KPK harus berani berdoa ”Ya, Allah, cepat bubarkan KPK,”

Malam ini saya mau karena menurut Pak Busyro: ”jangan di gebyah uyah, Di Kejaksaan banyak orang yang mau membenahi diri, di kepolisian juga begitu,” Optimisme ini harus diakomodasi dengan membuat acara bersama. Bagaimanapun kita harus bersama-sama berjuang untuk membangun bangsa ini.

Saya ingin merespon beberapa hal. Hukum itu letaknya berada di luar diri manusia , mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Sedangkan yang berada di dalam diri  manusia adalah nurani dan akhlak. Jadi kalau ingin preventif, ya itu tugasnya ulama, pastur, serta orang-orang tua. Malam ini kita bicara di luar diri manusia, ya yang tadi disebut hukum. Tadi Pak Sutarman mengatakan bahwa orang Jawa sering mengatakan kepada anak-anaknya yang nakal: “Nanti kamu dilaporkan ke polisi,”. Sebenarnya, secara psikologis, orangtua menakut-nakuti anak-anaknya dengan sesuatu yang sesungguhnya orangtua itu memang takut. Jadi kalau orangtua takutnya dengan anjing, maka anaknya akan ditakut-takuti dengan anjing. Kalau takutnya dengan polisi, maka anaknya ditakut-takuti dengan polisi. Jadi itu memang begitu. Bukan rakyat mengatur strategi untuk menjelek-jelekkan polisi dengan cara itu. Tidak seperti itu. Dasarnya memang turun temurun takut dengan polisi, begitu Pak.

Saya ingin transparan tentang acara yang digagas Pak Busyro (ketua KPK) ini dengan cara orang ndesa saja. Rakyat jangan diajak diskusi intelektual. Rakyat itu sederhana saja. Ia ingin merasa aman dan nyaman.  Kalau saya tanya, anda itu merasa aman atau tidak man dengan polisi? (tidak!) dengan kejaksaan (tidak!) dengan KPK? (ada dua jawaban, yang menyatakan tidak aman ada yang mengatakan aman).

Malam hari ini, tujuan Pak Busyro adalah merintis sinergi antara  untuk menumbuhkan rasa aman rakyat kepada tiga institusi ini. Cuma kalau kalah, kalau proses tidak stimultan dan tidak strategis secara kebudayaan atau dengan apapun, maka kelak KPK juga bisa membuat rakyat tidak aman.

Mudah-mudahan kita semua bisa saling membantu dengan cara terus mengontrol kepolisian, mengontrol kejaksaan dan mengontrol KPK agar bisa tercipta rasa aman bagi rakyat. Itu yang obyektif. Menurut saya urusan dalam hidup ini adalah rasa aman dan tidak aman. Karena itulah anda yang orang Islam, yang nomor satu adalah menjadi mukmin. Dikatakan oleh Allah, yang bersaudara itu adalah mukmin. Mukmin adalah pejuang yang memperjuangkan amanat. Pelakunya mukmin; Metodenya Iman; Doanya Amin; Pelaksanaannya adalah amanah. Jadi mereka ini adalah Amirul Mukminin.

Mereka adalah penegak keamanan. Keamanan apa saja, keamanan beras, keluarga, harga diri, dan ilmu. Malam ini Pak Busyro sesungguhnya sedang berjanji tengah merintis upaya bahwa pejabat-pejabat negara di negeri ini bisa menjadi Amirul Mukminin yang bisa membuat aman seluruh rakyat Indonesia.

Di seluruh dunia tidak ada acara kulturan seperti ini. Tidak ada di negara lain, Kejaksaan Agung dan Kepolisian terlibat dalam acara keagamaan dan kebudayaan. Hanya di Indonesia, semua bisa dirajut jadi satu. Malam ini adalah malam peneguhan bagi para pejabat di tiga institusi untuk membuat rasa aman. Korupsi bisa benar-benar diberantas. Sekarang rakyat bebas saja bertanya kepada mereka tentang Sri Mulyani, SBY , Budiono, century, Nazarudin, dan apapun. Bebas saja, walau tidak tahu apakah akan dijawab atau tidak.

Nikmatilah kemerdekaan malam ini, sambil Allah menyaksikan setiap kata-kata kita, yang baik akan dikabulkan oleh Allah, membahagiakan anak-cucu kita dan menjadi kemaslahatan kita semua. Semua sangat ingin aman dengan kepolisian, kejaksaan dan KPK. Tapi malam ini kita harus dapat keyakinan bisa berjalan bersama sebagai satu tim. Sebagai satu tim jangan “antem-anteman”.

Khusus untuk penanganan kasus Century saya percaya dengan Beliau (Busyro Muqodas). Saya Lillahi Taala, dan siap menanggung resiko moral bersama beliau. Untuk itu saya meminta wakil dari Police Watch untuk mengemukakan dan menyerahkan salah satu data yang menyangkut SBY, Sri Mulyani dan Budiono. Saya kira ini sangat dibutuhkan oleh KPK, entah benar atau tidaknya data yang akan diserahkan itu, saya tidak tahu. Kalau diserahkan data-data yang tidak faktual secara hukum, tentu ada pasal-pasal yang bisa menjerat beliau, bukankah begitu? Ok, secara resmi bisa diserahkan ke KPK.

Century lolos,
menyusahkan ibu
Kalau ibu susah,
Tuhan langsung marah
Kalau Tuhan marah,
maka Dia akan melakukan
pencabutan alang-alang secara masal,
hal mana alang-alang
telah memenuhi sawah-sawah Republik Indonesia
karena padi-padi tidak berani menjadi padi
padi-padi malah berbuah gabuk,
kemudian tidak berbuah
sehingga padi-padi itu akan menjadi ilalang-ilalang
karena semua tidak berani berbuat baik

kalau ibu marah,
maka Tuhan akan juga marah
semoga malam ini
Pak Busyro akan menjawab
”Tidak!
century tidak akan lolos!”

Salam,

Odi Shalahuddin
Yogyakarta, 1 Desember 2011

Catatan: Tulisan ini dibuat dan disusun berdasarkan potongan-potongan pembicaraan Cak Nun ketika memoderatori acara ”Dialog Kebudayaan: Negara Hukum, Manusia Akhlak” yang berlangsung di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta, tanggal 30 November 2011. Pernyataan-pernyataan yang terkutip pada saat ia memberikan pengantar dan mengomentari pernyataan-pernyataan pembicara. Tulisan ini pernah diposting di Kompasiana (klik di SINI)

Liputan atas acara dialog kebudayaan dapat dilihat di:

Bicara Korupsi dalam Dialog Kebudayaan


HL_111201_Sentilan-sentilan Cak Nun_Crop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: