2 Komentar

Tamu Tak Terduga (M. Ryana Veta)

Siang tadi, tiba-tiba saja HP berbunyi. Kulihat nama yang muncul. Ah. Segera saja kutekan tombol hijau untuk segera menjawabnya.

”Ada dimana, Di?” pertanyaan terdengar

“Di Yogya, Mi,”  sahutku cepat. Mi, maksudku Ami, artinya Om.

“Saya di Yogya nih. Alamatmu di mana?”

“Umbulharjo,”

“Kalau dari Malioboro?”

“Naik bus No. 15 turun di Polsek Umbulharjo. Tiba di sana, kontak aja lagi ya, Mi. Biar saya jemput,”

Orang yang menelpon saya bernama Mahfud. Dia adalah sahabat terdekat Bapak saya selain Fauzi Abdullah (profilnya pernah saya tulis. Lihat, Klik DI SINI).

Mereka bertiga pernah berhimpun di Studi Teater Bogor (STB) yang didirikan pada tahun 1966. STB merupakan salah satu teater yang aktif melakukan pertunjukan baik di Bogor maupun di kota-kota lain. Beberapa kali STB pentas di TIM pada awal tahun 70-an dan mengisi acara sandiwara di televisi.  Beberapa nama yang pernah aktif di STB antara lain Derry Sirna dan Mayawati Diredja (Teater Keliling) dan konon Maria Hartiningsih (wartawan Kompas) ketika masih SMA pernah tergabung di dalamnya. Demikian pula dengan FX Poniman (mantan wartawan Kompas). Namun sejak tahun 1974, setelah pementasan ”Salman El Farisy” di TIM Jakarta dan Surabaya, yang juga melibatkan Arn Batarfie, A Rafik dan Mark Sungkar, STB tidak aktif lagi.

Mahfud, selain bekerja di Departemen Agama, juga dikenal sebagai penulis. Ia sering menulis mengenai seni-budaya pada tahun 60-80-an dengan nama samaran M Ryana Veta. Tulisannya tersebar di berbagai media nasional, seperti di Kompas.

Tapi terus terang saja, sudah lama aku tidak bertemu fisik dengannya. Aku sering bertemu dengannya pada saat aku masih SD. Itu artinya pada tahun 70-an. Memang setahun yang lalu sempat bertemu ketika pernikahan adikku di Klaten. Ia datang, memotret beberapa kali, tiba-tiba sudah menghilang sebelum aku mendekat dan menyapanya. ”Ada acara di Salatiga,” kata adikku yang lain mengabarkan.

Kami sering berkomunikasi melalui HP ketika saya mencoba mengumpulkan bahan-bahan dokumentasi tentang Bapak dan STB (Dokumentasi yang ada saya posting di Blog. Lihat klik DI SINI). Salah satu orang yang kuanggap memiliki dokumentasi adalah dirinya. Tapi sayang, dua kali berkesempatan ke Bogor, selalu saja ia tengah berada diluar kota.

Kini ia ada di Yogya. Menghubungi untuk singgah. Wah, sungguh kejutan luar biasa.

HP berbunyi, segera saya mengangkatnya.

”Saya sudah di depan Polsek”

”Ok, saya jemput sekarang, Mi,”

Tidak sampai lima menit. Aku sudah sampai di depan Polsek, langsung mengajaknya ke tempat kerjaku.

”Kebetulan lagi di Solo sama kawan. Ia pergi ke Surabaya, saya ke Yogya saja. Odi kan sudah dua kali ke Bogor tapi tidak ketemu. Jadi saya saja yang ke sini,” ia memberikan penjelasan.

Aku memperkenalkan kedua anakku. Ia, yang usianya sudah di atas 60 tahun, masih terlihat semangat. Ia menolak ditawari makan dan minum kopi. ”Sudah saya Cuma sebentar saja,” alasannya.

Kami duduk di ruang tamu. Ia menanyakan tentang perkembangan dokumentasi yang coba saya himpun. Saya katakan saja agak mentok. Jadi belum berlanjut.

“Saya belum lama ketemu Poniman. Ia berjanji akan mencari dari dokumentasi di Kompas,”

Wah, senang juga bila bisa mengumpulkan bahan lagi. Semakin melengkapi yang sudah ada yang memang masih sangat terbatas.

Kami berbincang sebentar tentang tulis-menulis.

”Dulu kalau saya menulis, biasanya terilhami dari perbincangan-perbincangan dalam pertemuan. Waktu itu pada sering kumpul di Gramedia, bertemu dengan Poniman, Taufik Ismail, WS Rendra,”.

Aku lalu mengatakan mencoba aktif menulis lagi. Terutama di Kompasiana. Kutunjukkan tulisan-tulisanku di Kompasiana. ”Wah, produktif kamu, Di,” komentarnya.

Aku tertawa mendengarnya. ”Ya, latihan menulis. Setidaknya belajar menulis minimal satu tulisan setiap harinya,” jawabku mengutip hal yang sering dikatakan oleh seorang kompasianer, Omjay.

”Ok, saya pamit dulu, ya. Ke Solo lagi, nanti sore sudah ke Jakarta,”

Ups. Tidak ada 15 menit kami bertemu. Tidak banyak yang dibicarakan. Tapi kedatangannya telah membuat kejutan tersendiri bagi saya. Saya hanya bisa berjanji akan secepatnya ke Bogor bila ada kesempatan.

Semoga tetap sehat dan semangat, Mi… kataku dalam hati, sambil mengiringi kepergiannya diantar oleh kawan kerjaku ke terminal.

(Setelahnya aku menyesal. Kebiasaanku adalah bila bertemu orang/kawan lama, biasanya mengabadikan ke dalam foto. Tapi ini terlewatkan dan tidak terpikirkan sama sekali.)

Yogyakarta, 14 Desember 2010

Iklan

2 comments on “Tamu Tak Terduga (M. Ryana Veta)

  1. salam kenal, saya suka tulisan-tulisannya….

  2. Odi , boleh minta HP Mahfud, saya coba hubungi kalau ke bogor nanti .
    Terima kasih sebelum dan sesudahnya.
    Wassalam
    Maya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: