Tinggalkan komentar

Catatan-catatan Berserak yang Terbaca

Odi Shalahuddin

Beberapa tahun ini, semakin sedikit saja bendera merah putih berkibar di pinggiran jalan, apalagi di rumah-rumah. Padahal masa-masa sebelumnya, seakan menjadi kewajiban bagi semua. Terlupa mengibarkan bendera, akan segera  pejabat kampung datang memberi teguran. Mencoba memberikan argumentasi, akan dianggap sebagai pembangkang, yang tidak tertutup kemungkinan kembali dikunjungi pejabat kampung disertai polisi dan tentara.

66 tahun lalu, bila saja para Pemuda tidak menculik Soekarno-Hatta, apakah 17 Agustus akan menjadi sejarah bagi Bangsa Indonesia?  Setelah beratus tahun dalam genggaman penjajahan, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. PEMUDA TELAH MENGGERAKKAN PERCEPATAN KEMERDEKAAN. 

1965-1966, sejarah kelam. Peralihan kekuasaan. Ratusan ribu nyawa melayang. Banjir darah. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan, lubang-lubang, dan sungai-sungai. Keluarga yang ditinggalkan, dilekatkan sebagai sosok tak bersih lingkungan, yang membuatnya menjadi mayat hidup yang tak bisa mempertahankan kehidupannya. Tersingkirkan dan terasing. Para Pemuda dan Mahasiswa Bergerak. Angkatan 66. Dekat dengan militer. ORDE BARU LAHIR.

1967, di bulan November,  para ekonom Orde Baru menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar, kepada para CEO koorporasi multi nasional. Korporasi multinasional diantaranya diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, dan Chase Manhattan. Kekayaan alam Indonesia dibagi-bagi bagaikan rampasan perang oleh perusahaan asing pasca jatuhnya Soekarno. Freeport mendapat emas di Papua Barat, Caltex mendapatkan ladang minyak di Riau, Mobil Oil mendapatkan ladang gas di Natuna, perusahaan lain mendapat hutan tropis. Kebijakan ekonomi pro liberal sejak saat itu diterapkan. Itulah sebabnya: INDONESIA KAYA RAYA, TAPI RAKYATNYA MENDERITA. PENJAJAHAN BARU. 

Roti tak terbagi rata. Segelintir saja, mendapat kue nasional. Selanjutnya makin berjaya, remah-remahnya-pun masih diambil pula. Kota bercahaya, membuat jutaan warga desa, bagaikan laron mendatanginya. Cahaya ternyata bukan untuk mereka. Berada di pinggiran, mengais-ngais remah sisa. ”YANG KAYA MAKIN KAYA, YANG MISKIN MAKIN MISKIN” sang Raja Dangdut lantunannya menggema Indonesia.

1970, mahasiswa dan Pemuda membangun Komite Anti Korupsi.

1971, deklarasi Golongan Putih

1972, anti pembangunan Taman Mini

1974. ANTI MODAL ASING. ANTI JEPANG. MALARI (Malapetaka Limabelas Januari).

Lalu sepi. Mahasiswa sibuk di kampus.

1977, 28 Oktober, ribuan mahasiswa di ITB berseru sama: ”Turunkan Soeharto!”

1977, 10 November, padamu pahlawan kami mengadu.

1978, 10 Januari, peringatan 12 tahun Tritura. Seluruh kampus bergerak. Tentara masuk kampus.

1979-1989, sepi, hening, mahasiswa sibuk di kampus. NKK/BKK.

1989. Kedung Ombo. Mahasiswa Bersatu. Mahasiswa keluar kampus. Membangun basis masa rakyat. Terus bergerak.

SUMPAH MAHASISWA
(Afnan Malay)

Kami mahasiswa Indonesia Bersumpah
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah
Berbangsa satu bangsa cinta keadilan
Kami mahasiswa indonesia bersumpah
Berbahasa satu bahasa tanpa kebohongan

Peringatan
(Wiji Thukul)

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar 

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Darah Juang
(Jhonsoni Tobing dkk)

Di sini negeri kami,
tempat padi terhampar
Samuderanya.. kaya raya
Tanah kami subur Tuhan….

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk bebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami

Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti

Rakyat Bersatu 

(Yayak Iskra & Chris Lontar)

Satukanlah dirimu semua
jadi bangsa senasib seraga
sakit suka dirasa sama
bangun-bangun segera

Satukanlah berai jemarimu
kepalkanlah dan jadikan tinju
bara lapar jadikan palu
‘tuk pukul lawan tak perlu meragu

Reff:

Pasti menang, harus menang
Rakyat berjuang
Pasti menang, harus menang
Rakyat merdeka

Hari terus berganti
Haruskah kalah lagi
Si Penindas harus pergi
Tuk hari esok yang lebih baik

Reff:

Pasti menang, harus menang
Rakyat berjuang
Pasti menang, harus menang
Rakyat merdeka

Jangan mau ditindas
Jangan mau dijajah
Jiwa dan pikiran kita
Tuk hari esok yang lebih baik

Reff.  (10 X)

Pasti menang, harus menang
Rakyat berjuang
Pasti menang, harus menang
Rakyat merdeka

(1987-1996)

Ah, syair dan lirik-lirik penyemangat yang menyirami jiwa-jiwa muda. Bermimpi tentang segala perubahan. Bagi bangsa dan Negara.

1998. Mei, gema suara menguat. Mahasiswa, pemuda dan massa rakyat. SOEHARTO MUNDUR. ORDE REFORMASI.

1998-2011: APA SAJAKAH CATATAN-CATATANMU????  

Yogyakarta, 16 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: