1 Komentar

Pertemuan dengan Kawan-kawan

Odi Shalahuddin

Setelah selesai berkegiatan bersama anak-anak yang dilacurkan di wilayah Bandungan yang diselenggarakan Yayasan Setara, aku menunggu jemputan dari seorang sahabat. Rencananya sore sudah datang, tapi mengalami keterlambatan lantaran hujan deras terus menerus sejak siang dan juga terhambat perjalanannya lantaran ada karnaval di wilayah Sleman. Barulah selepas Maghrib jemputan tiba. 

Dialah Antun Sasongko Hadi, sahabatku sejak SMA. Pada saat kelas satu, kami pernah tinggal satu Rumah di kawasan Gentan, Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Bisa dikatakan ia seorang wiraswastawan yang ulet dan selalu mencari peluang usaha yang bisa dilakukan. Kegagalan demi kegagalan pernah dilalui dan ia tidak pernah menyesali kegagalannya. Sungguh aku salut dengan caranya mensikapi situasi buruk yang dialaminya.

Selepas SMA, awalnya ia merintis usaha fotocopy di depan sebuah kantor pemerintahan yang selalu banyak dikunjungi orang. Namun ini tidak berjalan begitu baik, lalu beralih ke penjualan CD/VCD bajakan. Hasilnya lumayan. Sebelum perkembangan pesat beberapa media seperti flasdisk tempat penyimpanan data atau fasilitas HP yang memungkinkan penyimpanan data besar untuk lagu-lagu, ia sempat menikmati penjualan yang mencapai tujuh juta rupiah per harinya. Sekarang memang jauh berkurang. Seputaran satu juta rupiah seharilah kira-kira omsetnya.

Bisnis penjualan CD/VCD lagu dan film tetap jalan dan dijaga oleh adik bungsunya, ia juga merintis beberapa usaha lainnya. Bermodalkan lima belas juta rupiah ia membuka warung sop ayam. Tidak sampai satu bulan, tutup. ”Lokasinya tidak bagus. Daripada berkepanjangan kerugian yang diderita, lebih baik ditutup saja,” katanya suatu hari menjelaskan kepadaku.

Lalu ia menceritakan tentang bisnis rental mobil yang juga tengah dirintisnya. Ada empat mobil miliknya hasil kreditan dan empat mobil titipan dari kawan-kawannya. Baru berjalan sesaat, ia telah kehilangan tujuh mobil yang digelapkan oleh penyewanya. Ia berusaha melacak sendiri, menggunakan jaringannya di dunia gelap, dan satu persatu mobilnya bisa ditemukan. ”Tinggal satu lagi yang belum ketemu,” katanya.

Empat mobil dipasang fasilitas GPS. Ia melacak, dan menemukan satu mobil tengah di garasi sebuah perumahan. Sontak ia mengetuk pintu, lalu mengambilnya. Kedua ia temukan di jalan raya. Ia menunggu sampai sang pengemudi datang. Begitu datang, ia langsung memintanya dan membawa pulang mobil itu. Satu lagi ditemukan tengah terparkir di sebuah halaman kantor kepolisian. Ia tunggu berjam-jam, tidak ada pengemudi yang masuk, lalu ia bongkar sendiri, membawanya pulang. Lainnya, ia dapatkan dari informasi-informasi orang dengan imbalan yang diminta di atas 20 juta hanya untuk menunjukkan lokasi mobilnya. ”Ya, sudah habis banyak untuk mencari mobil-mobil itu,” katanya.

”Mengapa tidak lapor polisi?”

”Wah, kalau lapor malah repot. Kita sudah kehilangan banyak, bila dilaporkan, malah akan kehilangan banyak lagi. Juga mobilnya bisa disita sebagai barang bukti. Lebih baik, tidak usahlah,” ia memberikan penjelasan, yang juga tak aku pahami. Pada pikiranku, berarti enak sekali para pelakunya. Bagaimana kalau ada kerjasama antara pelaku, orang-orang yang memberikan informasi atau bahkan dengan oknum-oknum bejad di kepolisian? Pertanyaan yang menggantung di kepala.

”Tapi, aku sekarang lagi merintis peternakan ayam dan akan membuka peternakan bebek,”

Wah, luar biasa menurutku. Luar biasa juga perubahan sikap dan perilakunya. Waktu SMA, ia termasuk barisan orang-orang yang dikenal oleh para guru dan para murid karena ”kenakalannya”. Orangnya mudah emosi. Apalagi bila ada kawan yang mendapat cilaka dari orang lain. Bisa dipastikan ia akan turun tangan.

”Sekarang sudah bedalah. Kita sudah semakin tua, harus semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Hal-hal buruk sudah saya tinggalkan. Sudah menjadi pengalaman dan sejarah,” katanya memberi penjelasan.

Memang,  yang kutahu ia tidak pernah ”nongkrong malam” lagi, selalu berusaha shalat lima waktu, shalat malam, dan bersikap sabar.

Nah, bersama sahabat Antun ini, ikut serta sahabat lain. Seorang kawan sejak SMP. Pernah tinggal satu rumah denganku. Artinya juga pernah satu rumah dengan Antun. Tapi pengalamanku tinggal bersama sahabatku yang satu ini lebih lama. Sejak tahun 1985-1990. Dialah Joko Utomo.

Dia banyak berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial, masuk pula dalam barisan gerakan pro demokrasi. Bila ada kasus-kasus yang menyangkut masalah rakyat di wilayah DIY, bisa dipastikan ia akan turut terlibat membantu. Beberapa tahun terakhir, ia juga aktif sebagai salah orang yang mendorong terbentuknya forum politisi di DIY dan terlibat dalam kegiatan-kegiatannya.

Ia banyak mengenal dan dikenal oleh para aktivis gerakan sosial dan para politisi di wilayah DIY dan juga wilayah-wilayah lainnya. Kini ia mengelola sebuah cafe. Cafe Gendong namanya. Cafenya ini menjadi salah satu tempat berkumpul para aktivis dan sering menjadi tempat diskusi persoalan-persoalan politik atau launching buku.

Sejak kecil ia dikenal sebagai sosok yang ringan hati untuk membantu siapapun. Ia tak segan-segan turun tangan secara langsung membantu kawan yang kesusahan. Walaupun sama-sama susah, ia bisa merelakan uangnya terbagi dua dengan kawan yang membutuhkan. Aku salah satunya. He.he.h.e.h.e.he

Kukira ia bisa jatuh sakit apabila ada seorang kawan membutuhkan pertolongan, namun ia sama sekali tidak bisa membantunya. Jadi, agar tidak sakit, maka ia akan bersakit-sakitan, berusaha keras agar kawannya bisa tertolong. Bila ada kawan yang membutuhkan uang untuk membeli beras atau membiayai sekolah anaknya, maka ia akan mencari kawan-kawan lainnya agar bisa meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkan dengan jaminan dirinya sendiri.

Ya, mereka berdualah yang datang menjemputku di Bandungan, Ambarawa.

Lantaran ada seorang sahabat pula yang dulu pernah kuliah dan berkegiatan bersama kami di Semarang pada awal 2000-an, kini bekerja di sekretariat parlemen di Ibukota, tengah mendapat tugas di Semarang,  maka kesempatan baik untuk bertemu dengannya. Juga ada janji untuk mengunjungi rumah seorang sahabat sekaligus guru yang pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, maka kami tidak langsung ke Yogyakarta, tapi meluncur ke Semarang.

Kami berlima. Dua sahabat lainnya adalah Hening Budiyawati, direktur Yayasan Setara dan Catur Adilaksono yang dikenal dengan panggilan Yoyok atau Wak Yok, orang setara juga yang dikenal sebagai seniman musik di Jawa Tengah. Kami meluncur ke kantor Yayasan Setara.

Di tempat ini, sudah ada beberapa orang. Salah satunya adalah Kelana. Seorang penyair yang suka membuat puisi-puisi kerakyatan dengan syair yang tetap enak untuk dibaca atau didengarkan. Ia salah seorang pengurus Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) tinggal di Kendal, dan sangat aktif menyelenggarakan acara-acara kesenian yang bernuansa kerakyatan. Acara-acara yang digelar di teras-teras rumah atau di kebun. Saat kami datang, Kelana tengah latihan musikalisasi puisi, bersama Arifin dan Adi ”Bolot”, mantan anak jalanan yang menemukan dunianya di musik.

Setelah berbasa-basi, aku pamit masuk ke ruang belakang, menulis tulisan awal tentang anak-anak yang aku jumpai dalam workshop di Bandungan. Maksudnya aku akan menulis agak panjang dalam beberapa bagian. Selesai menulis, tulisan berjudul ”Masih ada Sisa Cahaya” langsung aku posting ke Kompasiana. Untuk bagian-bagian lainnya, sudah tersedia judul-judulnya. He.h.e.he.h.ehe

Sesuai janji, datang sahabat dari Jakarta. Ketut Puji Rahmanto namanya. Ia pernah menjadi relawan di yayasan Setara. Istrinya, pernah bekerja di Yayasan Setara pula. Kini mereka tinggal di Jakarta bersama satu anak tunggal mereka.

Maka perbincangan yang terjadi adalah kenangan-kenangan. Bercerita tentang kegiatan yang pernah dilalui, menanyakan kabar dan perkembangan para sahabat lainnya. Begitulah. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11. Aku memutuskan untuk tidak berkunjung ke rumah sahabat/guru yang lain (cilakanya aku lupa untuk memberi kabar kepada dirinya), tapi langsung kembali ke Yogya.

Kami mengantarkan rekan Hening kembali ke kost-nya. Ketika melewati Taman Tugu Muda, Antun menyatakan ingin foto-foto dulu di Lawang Sewu dan di Taman. Kami semua langsung bersepakat.

Aku sendiri baru menyadari. Sejak awal pertama datang ke Semarang pada Juli 1996, tempat yang dituju adalah Taman Tugu Muda. Periode berikutnya untuk beberapa tahun, tak lepas dari kawasan ini. Namun tersadar, sama sekali tak pernah berfoto ria di sini. Jadi, boleh juga usulan rekan Antun untuk disetujui, bukan?

Odi, Joko, dan Antun

Ya, akhirnya, narsi-narsisan deh. “Kita kayaknya orang-orang tua yang bernafsu banget berpose,” celetukan yang muncul sambil melihat sekeliling yang dipenuhi oleh pasangan-pasangan atau kerumunan orang-orang muda, walau waktu hampir menjangkau jam 12.

Begitulah. Selesai. Mengantar dulu rekan Hening sampai pinggiran jalan di depan gang menuju kost-nya. Lalu melajulah ke Yogya.

Mobil melaju menembus dinginnya malam dan pekatnya alam walau saat tengah purnama. Di pikiranku terbayang anak perempuanku yang tengah kemah bersama kawan-kawan sekolahnya tertimpa hujan deras. ”Agak sakit,” begitu sms dari istriku.  ”Juga Bara” kata sms istriku lagi tentang anak keduaku. Ah, istri dan anakku, segeralah sehat dan tetaplah terjaga kesehatannya.

Yogyakarta, 16 mei 2011

Iklan

One comment on “Pertemuan dengan Kawan-kawan

  1. duh,…kau marah ya?
    aku ‘kan gagap
    wajar aku masih lelet…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: