Tinggalkan komentar

Selamat, Fiksi Segeralah Menyingkir

Rubrik Sosbud di Kompasiana menjadi rubrik paling banyak dikunjungi, bahkan mengalahkan Halaman Muka! Rubrik Fiksi turun jauh di bawah Teknologi. (sumber: Alexa.com)

Berawal dari status Facebook dari Bung Isjet atawa Iskandar Zulkarnaen seperti saya kutip di atas mendorong saya untuk melihat data di Alexa dan mendorong pula lahirnya tulisan ini. 

Ya, benarlah informasi yang dikemukakan oleh oleh Bung Isjet, yang merupakan admin Kompasiana. Fiksi yang biasanya menempati urutan pertama kini melorot jauh hingga ke urutan ke sembilan.

Terlihat ada nada kegembiraan (disadari ataupun tidak olehnya) yang tercermin dari kalimat yang menjadi statusnya. Hal ini bisa dinilai sebagai kewajaran bila kita berada dalam posisi admin atau sebagai pengelola Kompasiana.

Selama ini tampaknya ada kesan bahwa menonjolnya fiksi sebagai penyumbang besar pengunjung kompasiana membuat pengelola kompasiana menjadi jengah dalam artian mensikapi fiksi sebagai kendala untuk membangun imaje mewujudkan Kompasiana sebagai jurnalisme warga. Tentu saja sebagai jurnalisme warga, tulisan-tulisan yang diharapkan bisa meraih pengunjung adalah  tulisan reportase menyangkut persoalan-persoalan kemasyarakatan, salah satunya pada sub-rubrik sosial-budaya.

Mengenai perkembangan situasi semacam ini, tampaknya kita memang bisa mengacu kepada berbagai tulisan Bung Kimi Raikko yang rajin mencermati perkembangan data alexa.

Memang, menonjolnya fiksi di media jurnalisme warga, dalam hal ini adalah Kompasiana merupakan hal yang aneh. Bisa dikatakan unik atau bahkan luar biasa. Menurut penilaian saya yang tentunya subyektif, ini bisa diakibatkan oleh sifat dari Kompasiana yang menerafkan motto sharing and connecting dan tidak menggunakan moderasi bagi aliran tulisan yang masuk.

Rubrik fiksi, kendati menjadi menyumbang pengunjung terbesar sebelum ini, namun sangat jelas terabaikan oleh admin, kerapkali melahirkan berbagai protes dari para fiksioner Kompasiana. Saya sendiri berulang kali membuat postingan yang memprotes dan mengharapkan admin memberikan perhatian pula kepada fiksi. Sikap-sikap protes yang pada akhirnya bisa terjinakkan dengan rencana akan membentuk kanal khusus bagi fiksi, dengan nama yang akhirnya dipilih berdasarkan masukan-masukan dari para fiksioner, yaitu: FIKSIANA. Sayang hingga saat ini belum terwujud.

Pada posisi menunggu, (anggap saja ini sebagai prasangka), pengelola kompasiana terlihat melakukan perubahan-perubahan cara kerja dengan melakukan terobosan-terobosan baru, terutama dalam pengelolaan wilayah yang menjadi kekuasaan penuh admin, yaitu highlight, headline dan terekomendasi. Penayangan yang lama pada ketiga ruang tersebut, bukan menunjukkan pengelola tidak bekerja, melainkan sebagai strategi baru untuk membiasakan pembaca (kompasianer ataupun non-kompasianer). Protes-protes yang bermunculan terabaikan, hingga akhirnya kita menjadi terbiasa pula dengan penampilan dan mekanisme baru.

Upaya ini saya kira merupakan langkah efektif  untuk menjaring pembaca pada postingan-postingan pilihan admin, yang tentunya dipengaruhi pula untuk mewujudkan arah, visi dan misi Kompasiana utamanya sebagai jurnalisme warga. Salah satu tolok ukur keberhasilan adalah menepiskan anggapan selama ini bahwa tulisan headline, pembacanya belum tentu sebanyak tulisan yang tidak headline. Ini benar-benar sudah berubah. Cobalah periksa kembali postingan-postingan dalam dua bulan terakhir misalnya. Hal luar biasa, postingan di kompasiana yang menempati “ruang terhormat” sedikitnya bisa mencapai 1,000 pembaca. Bahkan bukan mimpi pula bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu pembaca. Terlebih bila dikaitkan dengan system penghitungan satu IP terhitung satu pembaca. Benar-benar luar biasa.

Nah, pada terobosan-terobosan yang dilakukan oleh pengelola kompasiana yang tidak dipungkiri sangat sukses dan mencapai keberhasilannya ini, rubrik fiksi tidak masuk hitungan.

Apapun alasannya, berdasarkan pengamatan saya, hal ini mempengaruhi perubahan dari para fiksioner. Pertama, meninggalkan kompasiana dan membangun komunitas fiksi sendiri atau memanfaatkan ruang-ruang fiksi di jejaring lain; Kedua, menulis hal lain di luar fiksi yang mendapatkan respon dari admin sehingga tanpa sadar pada perkembangannya justru lebih banyak menulis non-fiksi; Ketiga,  mencoba tetap bertahan menulis fiksi dengan dukungan yang semakin mengecil.

Jadi, bila pengamatan dan penilaian saya tidak salah (yang secara jujur berupa asumsi-asumsi), turunnya pengunjung rubrik fiksi hingga di peringkat ke sembilan, bukanlah sesuatu yang berjalan secara alamiah.

Kepada admin dan segenap pengelola kompasiana, saya kira perhatian terhadap rubrik fiksi tetaplah harus diberikan walau tidak perlu berlebihan. Ini bisa menjadi kekuatan dari Kompasiana pula. Di tengah keterpinggiran fiksi (karya sastra di seluruh media mainstraim), Kompasiana menyimpan penulis-penulis berbakat yang berpotensi dapat menyemarakkan kehidupan sastra Indonesia. Tentu merupakan kebanggaan bila dari kompasiana ini terlahirkan para penulis fiksi yang disegani dan mampu melahirkan karya-karya besar.

Selanjutnya…? Monggo sajalah…..

Yogyakarta, 20 September 2011

Catatan: Inilah data alexa:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: