Tinggalkan komentar

Mencurigai Diri Sendiri

Odi Shalahuddin 

Saya putuskan untuk berhenti menulis dulu. Saya harus meyakinkan diri dan mengetahui persis, apa sebenarnya yang ada dalam diri sendiri. Saya melihat ada perkembangan yang tidak beres. Saya harus mencurigai. Saya harus melakukan investigasi. Saya harus mendapatkan data dan informasi yang valid agar keputusan bisa tepat. Satu-satunya jalan adalah berhenti menulis dulu.

Buat apa saya menulis? Saya harus mencari motifnya. Bukankah pernah saya sampaikan bahwa setiap tindakan selalu ada motif, baik secara terbuka ataupun secara tersembunyi. Apapun bentuknya. Termasuk menulis, apalagi ketika dipublish di ruang publik. Tentu motif akan semakin kuat. Apakah itu?

Bertanyalah saya pada otak:
+ ”Hai otak, buat apa diri saya menulis?”

– ”Biar kamu menyadari bahwa kamu punya otak,”

+ ”Maksudmu? Bukankah semua tahu manusia punya otak?”

– ”Dengan menulis aku jadi bekerja. Sebagai otak tidak hanya bercokol di kepalamu, terdiam membisu sehingga menjadi beku. Karena itulah engkau menjadi manusia,”

Bertanyalah saya pada hati dan rasa:

+ ”Hai, hati, engkau selalu dipuja-puji. Menulis dengan hati, apakah maksudmu?”

–  ”karena engkau manusia, punya hati dan rasa. Bila engkau bermain-main, dalam kehidupan manusia yang makin kacau saja, seringkali engkau sembunyikan hati dan rasamu, sehingga apa yang terucap dan tertulis, sungguh berbeda dengan apa yang kau rasa. Jadi, bermainlah dengan hati, walau tetap berhati-hati,”

+ ”Bila aku hendak menulis tanpa hati, bukankah bisa pula tercipta sebuah tulisan,”

– ”Lantas mengapa engkau harus bertanya pada diriku? Bukankah itu berarti pengingkaran?

+ ”Maksudmu?”

– ” Engkau hanya akan  berlari-lari tak karuan. Bisa tak memiliki sikap akan ketetapan. Tanpa hati, engkau bisa mati..”

Bertanyalah saya pada nafsu:

+ ”Hai, nafsu, buat apa diri saya menulis,”

– ”Ha.h.ah.a.h.a.ha., buat apalah engkau bertanya? Engkau bertanya pada nafsu sisi mana?”

+ ”Pada yang mana saja? Bukankah sama?”

– ”Oh, tidak.. tentu berbeda… Biasanya engkau manusia, menginginkan jawaban yang menyenangkan,”

+ ”Bukan mungkin, tapi pasti, iya…”

– ”Ok. Berikanlah jawaban apa saja biar kutahu dan tak penasaran karenanya,”

+ ”Engkau menulis untuk berbagi,”

– ”Ya, ya, ya, begitulah,”

+ ”Tapi engkau menulis juga demi ambisi,”

– ”Benarkah?”

+ ”Itulah penyebab engkau bertanya. Bukankah begitu? Tanpa ambisi, engkau tak akan resah, terus menulis, tak peduli badai menerpa, tak peduli berada pada senyap. Tapi, tanpa ambisi, engkau juga akan mati. Karena suatu saat bisa terjebak pada basa-basi,”

Ah, aku merasa belum menemukan kepuasan. Pada mereka semua, aku tak melanjutkan pertanyaan yang mungkin bisa menghujam diriku dan aku mungkin masih takut merasakannya. Ah, mencurigai diri sendiri-pun, aku masih berbasa-basi…

Lantas, apakah yang kumau?

Bisakah engkau membantu?

Yogyakarta, 11 September 2011

______________

Ocehan tak tuntas. Mengambang sajalah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: