Tinggalkan komentar

Masa Lalu, Biarkanlah Berlalu

Odi Shalahuddin

Sudah satu tahun lebih saya berada di kompasiana. Secara personal, saya telah mengalami berbagai rasa yang tidak bisa saya pungkiri. Ada masa saat sangat bergairah, terasa tak pernah mati dengan nafsu besar untuk selalu hadir setiap hari dengan beberapa tulisan, hati berbunga-bunga ketika tulisan banyak terbaca dan mendapatkan apresiasi dengan kehadiran komentar para sahabat, apalagi tatkala tulisan terpilih menjadi headline, atau hati yang cemas tatkala tulisan hanya terbaca di bawah 50 pembaca, ada kekesalan terhadap admin dan menyampaikannya, atau semangat merasuk tatkala terjadi diskusi-diskusi yang semakin membuka mata terhadap kelemahan diri dan sebuah pertanggung-jawaban atas sebuah tulisan yang terposting. 

Kompasiana memang luar biasa. Bagaikan magnet yang menyedot perhatian puluhan ribu orang, dan menjadi orang yang gelisah apabila tak melongok kompasiana, juga tak menghadirkan tulisan, untuk menambah jumlah tulisan yang terposting ataupun menorehkan dalam ruang-ruang komentar di berbagai lapak. Kompasiana telah berhasil membius dan membangun rasa kebanggaan bagi orang yang bergabung di dalamnya. Aku adalah kompasianer.

Hidup kita adalah hari ini dan masa depan. Jangan terhanyut pada masa lalu, yang akhirnya akan menghanyutkan dirimu, tidak dalam irama yang nyata. Berpijaklah pada hari ini. Masa lalu biarkan menjadi sejarah yang tercatat. Tapi, ingat juga bahwa pendiri Bangsa ini pernah menyatakan: Jas Merah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Ya, masa lalu, bisa menjadi cermin, untuk melakukan hal terbaik pada masa kini.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap apa yang tengah terjadi, hal yang sangat terkesan bagi saya pada masa lalu, ketika awal-awal bergabung dengan kompasiana, adalah peran admin yang meluruskan dan menempatkan tulisan kita sesuai dengan tempatnya. Saya mengalami beberapa kali, tulisan yang saya tempatkan di salah satu rubrik, tidak berapa lama telah berubah ke rubrik yang lain, yang sesuai. Ya, tulisan yang bukan highlight, bukan pula masuk headline. Saya sangat mengapresiasi hal macam ini, bukan saja memberikan pelajaran kepada saya tentang kesesuaian tulisan dengan rubrik, melainkan juga kebahagiaan bahwa hal tersebut menunjukkan admin membaca tulisan kita.

Saya juga merasakan kebahagiaan ketika para sahabat kompasianer yang tidak jarang mempermasalahkan apa yang saya tulis. Sebagai contoh, kompasianer menanyakan alasan mengapa saya menggunakan judul tertentu. Atau kompasianer lain yang memberikan penilaian dengan mencermati dulu tulisan yang akan dinilainya apakah berbentuk reportase, opini ataupun fiksi. Situasi ini benar-benar bisa menjadi pembelajaran yang baik bagi diri saya sendiri agar dapat berhati-hati.

Tapi, itu memang masa lalu. Biarkan saja berlalu. Bukankah hidup memang hari ini dan kelak. Jadi tak perlu untuk berpanjang-panjang untuk mengenangnya. Bukankah kompasiana semakin menunjukkan kharismanya? Semakin banyak anggota, beberapa penghargaan telah teraih, membuat terobosan-terobosan termasuk menghadirkan edisi cetaknya, dan banyak orang-orang hebat turut andil untuk saling berbagi, menginspirasi dan berdiskusi.

Seraya berupaya mengakhiri tulisan ini, saya tengah membaca kembali tata-tertib yang ada di kompasiana, dengan menyimak beberapa pasal pada bagian ”Syarat dan Ketentuan”, antara lain:

Pasal  11: 

Sebelum menayangkan Tulisan, Kompasianer diminta memilih kategori atau rubrik yang sesuai dengan isi, tema atau konteks Tulisan; serta memerhatikan ketentuan Jenis Tulisan yang berlaku sebagai berikut:

  1. Reportase: Tulisan yang berisi berita, kejadian atau pengalaman pribadi tanpa disertai pendapat, opini atau gagasan dari Penulis.
  2. Artikel: Tulisan yang berisi pendapat, gagasan, tips atau tutorial.
  3. Fiksi: Karya sastra dan fiksi seperti puisi, cerita pendek, dan novel.

Pasal 7: 

Kompasianer bertanggung jawab penuh atas seluruh Konten yang ditempatkan dan atau ditayangkan di Kompasiana. Dan dengan ini menyatakan bahwa Konten tersebut ditempatkan dan atau ditayangkan atas kesadaran dan kemauan sendiri.

Pasal 17: 

Kompasiana dan KOMPAS.com tunduk kepada peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku di Republik Indonesia. Oleh karena itu, saat terjadi keluhan, protes, klaim dan atau permasalahan hukum yang disebabkan oleh Konten yang dimasukkan dan atau ditayangkan oleh Kompasianer, Kompasiana berhak menyampaikan segala informasi terkait pemilik Konten, termasuk alamat Internet Protocol (IP) yang terekam di dalam sistem Kompasiana kepada Pihak Berwenang.

Yogyakarta, 2 September 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: