Tinggalkan komentar

Ketika Admin Bermain-main

Odi Shalahuddin

Berulang kali saya mencoba menulis, berulang kali pula saya hapus. “Ah, soal kayak begini, buat apalah ditulis. Tidak akan banyak pengaruhnya,” demikian saya mencoba menentramkan hati.

Akhirnya lahir pula satu tulisan: Masa lalu, biarlah berlalu, yang saya posting tanggal 2 September 2011. Setidaknya mengurangi beban di kepala dan hati. Tapi masih saja ada ganjalan. Beberapa tulisan para sahabat, hampir senada.  Sampailah pada hari ini, saya membaca postingan dari Bung Eric atawa Kimi Raiko yang menurut saya patut mendapatkan apresiasi lantaran memberikan warning yang tidak main-main kepada kita semua. ”Risiko Menjadi Blogger di Kompasiana”. Saya merasakan kegelisahan yang menggelayut terwakili dalam tulisan tersebut.

Tapi merasa saja ada ganjalan. Ada dorongan menulis, tetap saya tahan. Sampai akhirnya saya mengalah dengan keinginan dari diri sendiri. Lalu mulai memainkan jemari, walau dalam hati saya merasa yakin bahwa tulisan saya juga tidak akan berguna dan memberikan manfaat apa-apa.

Untuk beberapa waktu, sebenarnya saya memang tengah memilih menjadi pembaca saja di Kompasiana. Mengunjungi berbagai postingan dan seringkali tidak meninggalkan jejak. Hanya beberapa saja komentar tertorehkan. Saya mencoba menikmati hobi baru ini. Melalui cara ini saya berupaya menjaga jarak. Mencoba mengamati berbagai postingan yang muncul, termasuk juga ruang-ruang yang menjadi kewenangan admin sebagai penentunya: Highlight, Headline dan Terekomendasi.

Di luar suka atau tidak suka, di luar himbauan sesama kompasianer agar tidak perlu mempersoalkan dan membiarkan menjadi kewenangan admin yang harus diterima, saya berkeyakinan, siapakah kompasianer yang tidak berbangga bila postingannya bisa terpilih dalam ketiga ruang tersebut? Saya yakin tidak akan ada seorang kompasianer-pun yang akan protes dan meminta tulisannya sendiri untuk dilepas dari ketiga ruang tersebut. Jadi, memang, di luar suka atau tidak suka, disitulah letak kompetisi diam-diam para kompasianer yang menggairahkan. Apalagi fakta telah menunjukkan postingan yang bisa bertahan di terekomendasi misalnya, bisa meraup tidak sekedar ribuan pembaca, tapi juga bisa menjaring puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu pembaca.

Di luar posisi sebagai kompasianer, ketika kita menempatkan diri sebagai pembaca umum, tentulah ketiga ruang itu yang menjadi perhatian. Penilaian orang-orang ketika memasuki dunia kompasiana, akan sangat ditentukan pada tulisan-tulisan yang berada di ruang-ruang tersebut. Tidak percaya? Cobalah buat penelitian kecil yang melibatkan orang-orang di luar kompasianer, apa yang mereka lihat dan baca ketika mengunjungi kompasiana?

Maka, tiadalah berlebihan bila pencitraan atau image kompasiana akan ditentukan pada tulisan-tulisan yang berada pada tiga ruang tersebut.

Saya kira, sudah tidak relevan lagi bila saya mengkaitkan dengan kriteria-kriteria yang pernah diposting oleh admin sendiri mengenai ketiga ruang tersebut. Toh, pada kenyataannya, puluhan tulisan yang menyampaikan dan menanyakan tentang hal itu, tidak mendapatkan tanggapan dari admin. Walaupun secara prosedur, selama belum ada pengumuman dari admin tentang perubahan kriteria highlight, headline dan terekomendasi, pada prakteknya bisa kita lihat, tampak sudah tidak mengacu pada kriteria yang ada. Admin mungkin sudah menggunakan kriteria baru dan mungkin pula berpandangan masyarakat kita adalah orang-orang yang mudah lupa, orang-orang yang gampang beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada. Sehingga kemudian bukan menjadi hal yang patut dipersoalkan.

Lantas apa masalahnya? Saya pribadi, dalam pandangan subyektif saya, admin tengah bermain-main. Keberhasilan suatu postingan mencapai pembaca ribuan, bukan saja prestasi yang berhasil diraih oleh penulisnya, tapi juga bagi kompasiana, dalam hal ini pengelolanya. ”Uji coba” (istilah yang saya gunakan) yang dilakukan setidaknya dalam beberapa bulan terakhir tampaknya menunjukkan keberhasilan meraup pembaca yang diduga bukan hanya dari para kompasianer, tetapi juga dari pembaca non-kompasianer.

Admin secara jeli menampilkan tulisan-tulisan yang berpotensi kontroversi, seperti hal yang menyangkut agama, judul bombastis dan hal-hal yang bersifat magis. Bila kelak ada persoalan, admin dengan kewenangan yang ada, bisa melakukan penghapusan postingan tersebut. Tapi bila lebih dari itu, seandainya saja suatu postingan menimbulkan reaksi yang bisa berbuntut pada tuntutan hukum kepada penulisnya? Admin bisa dengan bebas mengelak, bahwa suatu tulisan adalah menjadi tanggung jawab penuh dari para penulisnya masing-masing. Bukankah itu yang ada dalam tata-tertib Kompasiana. Bahkan admin memiliki kewenangan untuk memberikan data-data kita kepada pihak yang berwenang. Maka, resiko tinggi pula bagi para kompasianer yang justru telah terverifikasi!!! Karena data yang dimiliki kompasiana bukan sekedar IP tapi juga identitas diri dari kompasianer.

Pasal 11:

Sebelum menayangkan Tulisan, Kompasianer diminta memilih kategori atau rubrik yang sesuai dengan isi, tema atau konteks Tulisan; serta memerhatikan ketentuan Jenis Tulisan yang berlaku sebagai berikut:

a. Reportase: Tulisan yang berisi berita, kejadian atau pengalaman pribadi tanpa disertai pendapat, opini atau gagasan dari Penulis.
b. Artikel: Tulisan yang berisi pendapat, gagasan, tips atau tutorial.
c. Fiksi: Karya sastra dan fiksi seperti puisi, cerita pendek, dan novel.

Pasal 7:

Kompasianer bertanggung jawab penuh atas seluruh Konten yang ditempatkan dan atau ditayangkan di Kompasiana. Dan dengan ini menyatakan bahwa Konten tersebut ditempatkan dan atau ditayangkan atas kesadaran dan kemauan sendiri.

Pasal 17:

Kompasiana dan KOMPAS.com tunduk kepada peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku di Republik Indonesia. Oleh karena itu, saat terjadi keluhan, protes, klaim dan atau permasalahan hukum yang disebabkan oleh Konten yang dimasukkan dan atau ditayangkan oleh Kompasianer, Kompasiana berhak menyampaikan segala informasi terkait pemilik Konten, termasuk alamat Internet Protocol (IP) yang terekam di dalam sistem Kompasiana kepada Pihak Berwenang. 

Jadi, benarkah admin tengah bermain-main?

Yogyakarta, 6 September 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: