Tinggalkan komentar

Bersama Para Sahabat

Odi Shalahuddin

Bertemu para sahabat lama dalam suasana santai untuk  mengenang masa-masa lalu, membahas masa kini dan merancang masa depan, tentulah bisa menyenangkan hati. Berbagai kesalahan dan kelemahan yang terjadi, bisa disikapi secara dingin tanpa membangkitkan emosi dan menimbulkan perselisihan. Justru menimbulkan tawa getir atas kelakuan yang pernah terjadi yang kita anggap sebagai ketololan yang manusiawi. 

Dunia terus bergerak. Kita berhenti-pun dinamika kehidupan masyarakat terus akan berlangsung dan hinggap dari satu perubahan ke perubahan lainnya. Baik ataupun buruk. Sayang, kita sering luput mencermati atau mengabaikan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri kita sendiri. Sehingga penilaian-penilaian menggunakan ukuran yang sama, dan ini menimbulkan konflik. Ya, kita sendiri memang berubah. Tapi merasa saja tetap sama kondisinya dengan masa lalu. Begitulah, pembicaraan diriku dengan para sahabat.

Mereka adalah bagian generasi awal yang terlibat di dalam pendampingan anak jalanan di Semarang yang sudah dimulai sejak tahun 1993 oleh seorang sahabat, Winarso (yang sayang sejak tahun 2000 tidak aktif lagi), dan pada tahun 1996, mulai terbangun kelompok anak bernama Paguyuban Anak Jalanan Semarang yang digerakkan oleh para relawan yang berasal dari unsur mahasiswa dan komunitas anak jalanan sendiri. Para relawan membangun ”organisasi X” dan perkembangan kemudian, mereka mengorganisir dirinya membangun organisasi berbadan hukum dengan nama Yayasan Setara, dengan menggandeng beberapa tokoh masyarakat di Semarang, semisal Darmanto Jatman SU, Prof. DR. Dewanto MEd, DR. Esmi Warasih, Andriani Sumampau dan Frieda NRH. Ya, merekalah para sahabat di mana sedikitnya selama lima tahun aku menjadi intens menjadi bagian dari kerja-kerja bersama bersama. Itu pada periode 1996-2001, selanjutnya secara berkala aku masih berkunjung ke Semarang. Selanjutnya sudah mulai berkurang dengan waktu yang tidak rutin lagi.

Maka, berbahagialah, aku bisa bertemu dengan kawan-kawan, diberi ruang untuk turut bersama merefleksikan perjalanan kerja-kerja mereka dalam pertemuan yang berlangsung pada tanggal 4 – 7 Maret 2011 di sebuah vila di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Ira-Hana-Novi

Masih lekat rasanya perjalanan lima belas tahun lalu, ketika bersama-sama mengarungi hidup bersama para anak jalanan dengan tinggal di sebuah rumah yang dimulai tanpa ada isi apapun. Tidur tanpa alas, perlahan menggunakan kardus-kardus, selanjutnya saling bahu-membahu membuat dipan-dipan, meja, loker, dengan menggunakan kayu-kayu dan papan-papan yang disumbangkan oleh sebuah Yayasan. Bersama-sama membangun solidaritas sosial, membuat peraturan tata-tertib yang melibatkan seluruh penghuni yang berkisar antara 30-50-an anak setiap harinya, dan membuat jadwal piket untuk menjaga kebersihan rumah.

Di luar itu, puluhan anak jalanan lainnya masih banyak yang tinggal di sembarang tempat seperti di Taman Tugu Muda, Gedung Lawang Sewu, Pasar Bulu, Pasar Johar, Simpang Lima, dan berbagai tempat lainnya. Tidak hanya anak laki-laki, tetapi juga anak-anak perempuan.

Kebersamaan bisa terbangun. Hampir seluruh anak jalanan turut bergabung dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS). Berbagai bentuk ekspresi lahir dalam karya gambar, tulis dan lagu. Anak jalanan Semarang yang pada masa itu didominasi oleh para pengamen, lebih banyak melantunkan lagu-lagu karya sendiri dibandingkan lagu-lagu yang tengah ngetop di media televisi atau radio. Jamak, seperti umumnya, karya-karya ini pastilah bersentuhan dengan masalah-masalah sosial. Maka kisah tentang anak jalanan tengah menyanyi dan tiba-tiba ditegur atau diseret oleh polisi, diinterogasi mengenai sumber dan maksud dari lagu-lagu sosial itu, bukanlah menjadi peristiwa yang aneh bagi kami. Ya, itulah masa-masa kekuasaan orde baru yang menancap kuat dan alat-alat kekuasaannya bisa merespon dengan cepat berbagai suara dan tindakan yang dinilai tidak sejalan. Apalagi bila ada kelompok terorganisir yang bukan hasil bentukan para penguasa. Maka itu harus segera dibungkam.

Begitu pula yang terjadi pada himpunan ini. Beberapa relawan sempat diculik dan diinterogasi secara terpisah oleh sekelompok orang yang diduga petugas/aparat keamanan mengenai segala hal mengenai PAJS. Pemerintah Kota mengeluarkan pernyataan melarang seluruh kegiatan PAJS karena dianggap ilegal. Informasi sesat tersebar ke berbagai kalangan yang dinilai membantu kegiatan-kegiatan PAJS bahwa kelompok ini diorganisir oleh kader-kader PKI, kemudian paska kerusuhan Juli 1997 di Jakarta, dituduh sebagai kader-kader PRD dan para anak jalanan adalah para kurir yang menghubungkan organ-organ antar kota. Berbagai teror dialami pula oleh anak-anak jalanan dengan ancaman agar tidak bergabung di dalamnya. Hal ini tampaknya disebabkan oleh keaktifan PAJS untuk menyuarakan semangat anti kekerasan terhadap anak jalanan yang sangat sering terjadi. Kami semua tidak peduli dengan berbagai macam larangan dan informasi sesat yang disebarkan kelompok tertentu, dengan jalan tetap aktif melakukan kegiatan-kegiatan.

Entah kekuasaan mana yang mampu mengorganisir para preman (termasuk para sesepuh preman) untuk bergerak dan menghancurkan tempat tinggal yang dihuni para anak jalanan yang tergabung dalam PAJS, dilanjutkan dengan perburuan terhadap anak-anak ini di setiap tempat mangkal. Mensikapi hal ini, anak-anak tersebar ke berbagai kota, terbesar ke kota Yogyakarta. Satu dua bulan masih saja terdengar kabar pencarian masih dilakukan sekelompok orang. Namun, secara perlahan, para relawan yang sempat shock, mulai memberanikan diri membuat kegiatan-kegiatan kecil bersama anak-anak yang mulai kembali ke Semarang.

Berbagai kasus yang dialami itulah yang kemudian menggerakan para relawan ini membentuk organisasi berbadan hukum. Keberadaan organisasi memang melahirkan perubahan cara kerja. Sangat lama baru bisa beradaptasi bekerja dengan menggunakan mekanisme kerja yang lebih tertata. Namun nyatanya, mereka mampu bertahan hingga saat ini.

Tapi, dengan perjalanan waktu, ketika masing-masing personil mulai menempuh hidup baru dengan pasangannya dan memiliki anak-anak, ini tentu saja menyebabkan adanya perubahan. Perubahan ini yang memang terabaikan. Waktu yang kian terbatas, tidak bisa menggila bersiap selama 24 jam, menjadi persoalan.

Ah, beruntung pertemuan ini mampu mempertemukan kami semua, dalam suasana yang santai. Sehingga memunculkan kesadaran baru, kita tidak mempersiapkan regenerasi dan malu atas perubahan diri sendiri!

Nah, ayolah, segera bangun kader-kader baru yang lebih muda yang masih memiliki mimpi-mimpi besar tentang perubahan dan memiliki militansi untuk bekerja bagi kemanusiaan.

Semarang,   8 Maret 2011

__________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: