Tinggalkan komentar

Saya itu Penulis Pemalas

Odi Shalahuddin 

Sebagai orang yang senang menulis, saya itu pemalas. Saya cuma bisa curhat. Bercerita tentang apa yang dialami, dirasakan dan dipikirkan. Lalu ditulis. Mengalir saja. Ketika merasa selesai, ya sudah. Lalu posting. Lalu menulis lagi. Begitu, biasanya. 

Saya menyadari bahwa kebiasaan itu jelek. Tapi lantaran sebagai pemalas, saya tetap membiarkan kebiasaan jelek itu terus terbawa hingga saat ini. Akibatnya-pun sangat saya sadari. Laksana orang membangun rumah, mungkin baru terbatas menggali dan membuat fondasi.

Bangunan yang berdiri, mungkin bisa membuat-mu tersenyum atau bahkan terbahak. Ia bisa terlihat menjadi bangunan miring yang mudah rubuh, tanpa pernak-pernik yang bisa membangkitkan gairah orang untuk menikmatinya. Hanya banyak jendela yang membawa udara keluar-masuk dengan bebas, itu yang secara sadar saya ciptakan. Maka, bila engkau adalah orang yang terbiasa melihat kesempurnaan, memang bangunan yang terlihat bisa menjijikkan, tidak membawa pada decak kagum, atau bahkan melihat sedetik saja sudah membuat mual dan ingin muntah.

Maka kepadamu, kuingatkan, janganlah bertanya pada saya tentang bagaimana membuat tulisan yang baik. Lantaran jawaban saya selalu saja sama: Menulis adalah kebiasaan, maka teruslah menulis. Apapun yang engkau tulis, semakin lama akan semakin berkembang baik cara penyampaiannya, terlebih lagi pada subtansi isinya. Secara alamiah, tidak ada orang yang bisa berpuas diri tentang apa yang diraihnya. Maka orang akan selalu melakukan pencarian-pencarian.

Bila saya menjawab hal demikian, itu sendiri sebenarnya sudah menunjukkan bahwa saya itu adalah orang yang tidak tahu apa-apa tentang penulisan. Saya tidak bisa menyampaikan secara sistematis mengenai teknik-teknik penulisan, tentang kiat-kiat bagaimana mensiasati sebuah tulisan agar bisa menarik perhatian dalam kompetisi diam-diam yang sesungguhnya tiada pernah henti berlangsung.

Bila-pun engkau masih bertanya lagi, saya pastilah akan menjawab ngawur saja: Buatlah bungkus yang menarik. Seperti singkong yang dibuat keripik, harganya bisa berbeda-beda. Engkau mungkin bisa mengambil dari kebun sendiri, mengupas sendiri, membuat irisan-irisannya dengan tangan sendiri, menggoreng sendiri, lalu saat menikmatinya, bisa mengajak anggota keluarga dan atau teman-teman. Tapi Engkau bisa juga membeli di warung sebelah, keripik singkong yang masih bertumpuk pada wadahnya, lalu dimasukkan ke plastik sesuai dengan berat yang engkau beli. Atau mungkin juga sudah terbungkus plastik dengan beraneka berat yang bisa engkau pilih sendiri. Atau engkau bisa ke supermarket, tersedia berbagai pilihan keripik singkong dengan beraneka macam merek dan bungkus yang teramat indah. Nah, pada setiap pilihan, walaupun sama-sama kita hendak menikmati yang namanya keripik singkong, kocek yang kita keluarkan bisa berbeda. Setiap pilihan bisa menentukan kelas tersendiri, demikian hembusan iklan yang akan bertubi-tubi mempengaruhi kesadaran kita.

Tentang bungkus atau istilah kerennya kemasan, saya teringat tentang kiat seorang pemilik penerbitan yang pada saat ini sudah sangat berkembang. ”Terpenting itu adalah covernya. Isi belakangan. Cover harus dibuat sebaik mungkin sehingga bila buku kita dijejer dengan buku-buku lainnya ia akan terlihat menonjol. Orang sering membeli buku bukan lantaran isinya, tapi ketertarikannya ketika melihat cover. Apalagi bila penulisnya adalah penulis terkenal, kita buat namanya juga menonjol. Bisa jadi orang membeli juga bukan untuk membaca tapi untuk menjadi penghias di rak bukunya. Memiliki buku dengan nama penulis terkenal bisa menjadi kebanggaan tersendiri pula. Nah, kalau di blog macam ini, kemasan bisa dikaitkan dengan judul. Buatlah judul semenarik mungkin yang memancing pembaca.

Orang bisa kecewa ketika sudah dipengaruhi oleh kemasan yang menarik sehingga meraihnya tatkala mendapatkan isinya berbeda dengan harapan. Engkau pasti senang bila banyak yang tertarik dengan produkmu. Tapi pastilah engkau menginginkan orang tertarik tidak hanya pada produksi pertama saja, bukan? Engkau harus mempertahankan agar orang-orang bisa selalu tertarik. Maka isi haruslah diperhatikan, hal minimal isi mencerminkan kemasan.

Pada sebuah tulisan, alenia pertama menjadi perhatian serius. Tidak percaya? Tanyalah pada para jurnalis atau para penulis ternama. Alinie pertama inilah yang bisa menggerakkan keinginan seseorang untuk berhenti atau meneruskan membaca. Tidak mengherankan apabila dalam kursus-kursus jurnalistik, membuat alenia pertama adalah bagian yang diajarkan dan dipraktekkan.

Apa yang bisa membuat orang tertarik? Ini bisa berupa pernyataan dari seorang tokoh ternama, tentang persoalan yang tengah mengemuka, atau pernyataan kontroversi. Lainnya bisa engkau kembangkan sendiri dengan fokus bisa mengambil hati dan minat pembaca.

Tentang isi, janganlah berpanjang-panjang. Buatlah secara ringkas, tapi mengena. Para pembaca di media online adalah orang-orang sibuk, mereka membutuhkan bacaan yang cepat bisa terhabiskan, untuk segera beralih ke raturan atau ribuan tulisan lainnya yang melambai-lambai pada mereka. Bila engkau merasa sangat dibatasi lantaran banyak yang hendak kau sampaikan, ya, tekanlah sedikit ego itu, atau tulisanmu kau gunakan saja untuk peruntukan lain. Tapi, soal-soal begini, janganlah bertanya pada diri saya, lantaran saya sering lalai dan asyik sendiri hingga tulisan berkepanjangan.

Setelah itu? Ah, kok saya jadi ngelantur begini sih. Bertanya saja deh ke Mbah Google, si Mbah kita yang maha tahu. Atau di Kompasiana juga banyak tulisan mengenai teknik-teknik dan strategi penulisan.

Nah, tuh, kan, tulisan ini sendiri saja, sama sekali tidak berbentuk.

Salam,

Yogyakarta, 10 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: