2 Komentar

Saya Menulis, Kritiklah Tulisan Saya

Odi Shalahuddin

Saya menulis. Menulislah. Menulis apa yang hendak saya tulis. Tentu saja saya sadar bahwa setiap menulis, selalu tidak pernah berada dalam ruang kosong. Ketika kata-kata muncrat dari benak, dan tertangkap, lalu jemari menuangkannya membentuk kata, membentuk kalimat, membentuk satu tulisan, maka sadar atau tidak sadar, ada referensi yang menyelinap. 

Kadang saya menulis untuk diri sendiri, pada secarik kertas, atau pada lembaran-lembaran buku yang umum disebut sebagai catatan harian (walau sekarang kuakui hampir dikatakan tidak pernah lagi), kadang saya menuangkan apa yang dirasa berbaur dengan imajinasi dan meletakkan fakta-fakta sehingga lahirlah apa yang disebut fiksi, kadang pula menulis sekelebatan pemikiran tentang sesuatu (seringkali hanya penggalan, belum menjadi pemikiran yang utuh) dan lahirlah apa yang disebut esai atau artikel atau entahlah, tak begitu kupeduli namanya, kadang saya melihat, menyaksikan, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada yang berkepentingan sehingga lahirlah berita reportase.

Saya menulis. Menulislah. Untuk saya baca sendiri pada lembaran halaman di file-file elektronik. Tapi, seringkali saya merasa tidak puas dengan ini. Masak sudah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran hanya saya baca sendiri. Maka saya lepaskan ia keluar dari sarangnya. Beruntunglah hidup pada masa sekarang. Kita bisa melepas dan meletakkannya pada ruang-ruang bebas tanpa perlu menunggu lama untuk menyaksikannya terpampang. Bisa dalam blog-blog pribadi atau seperti di sini, di kompasiana. Tidak seperti dulu, ruang sangat terbatas. Mengirim ke media cetak-pun seperti berjudi, menanti hari, hingga hitungan waktu tertentu bisa menentukan termuat atau tidak.

Saya lepaskan tulisan, jujur saja tanpa perlu malu saya tutupi dengan kepentingan agar dapat terbaca oleh sebanyak mungkin orang. Berharap dibaca oleh ribuan, puluhan ribu, atau bahkan melebihi angka seratus ribu. Boleh kan orang berharap? Tidak berdosakan? He.he.h.e.he.h.e

Tapi saya cukup sadar diri. Emangnya siapalah saya? Seorang buruh harian lepas, yang bisa mendapatkan pekerjaan bila ada yang menangkap dan mengikatnya untuk beberapa saat. Saya bukanlah seorang selebritis, ketika men-tweet akan dicermati atau diikuti oleh ribuan penggemar. Saya bukanlah tokoh politik yang memiliki masa untuk menggalang para pembaca dan menorehkan komentar-komentar memuji diri saya. Saya juga bukan sosok kontroversi yang suka atau tidak suka tapi tulisannya selalu terbaca dan tersisa jejak komentar-komentar dengan semangat mendukung ataupun mencerca. Saya juga bukan seorang yang memiliki status pendidikan tinggi sehingga layak untuk diperhatikan atau layak mendapat perhatian. Saya orang biasa-biasa saja. Bisa menulis dan memposting saja sudah bisa menyukuri nikmat atas ruang yang disediakan.

Lantaran sebagai orang biasa-biasa saja, maka tolong jangan ditertawakan ketika saya bersorak ada pertambahan angka-angka pembaca dari sebuah tulisan yang saya lepaskan. Janganlah ditertawakan pula bila saya berjingkratan ketika ruang komentar mulai terisi. Sungguh, ini merupakan kebahagiaan bagi saya. Saya akan membaca berbagai komentar yang masuk. Sungguh berbahagia, walau komentar yang masuk hanya menulis angka. Sungguh berbahagia, bila komentar singkat berupa pujian (atau barangkali saya tidak memiliki sensitivitas tinggi untuk memahami sebagai sebuah sindiran untuk menegur saya agar menulis lebih baik lagi) seperti: menarik, inspiratif, aktual, tanpa memberikan keterangan di mana letak yang dimaksud.

Jangan tertawakan pula bila saya terkejut, mengernyitkan kening, lalu bertanya-tanya, ketika sebuah komentar masuk dengan kritikan sehalus apapun. Apalagi bila kritik terbuka dengan tajam yang anak-anak-pun bisa segera memahaminya. Ya, jangan tertawakan saya. Tapi terus-terang sajalah, komentar semacam ini-pun tetap membuat saya bahagia. Lantaran dari kritik itu pula saya jadi melihat kelemahan saya. Kritik sekeras apapun, itu menunjukkan orang lain mencintai saya sehingga merasa perlu untuk menyampaikannya. Maka saya akan berbangga karenanya.

Kebanggaan saya, akan saya lekatkan komentar-komentar keras itu tetap dalam ruangnya. Saya percaya, bila ada rekan lain yang membaca, ia akan mendapat pencerahan dari kritik-kritik tersebut, sehingga bisa mensikapi tulisan saya secara bijak lantaran mengetahui kelemahan-kelemahan dari tulisan itu. Pembaca menjadi tidak disesatkan oleh tulisan saya, yang walaupun tidak ada maksud untuk itu, tapi bisa berada di luar kemampuan saya sendiri.

Tenang sajalah, saya tetap akan memberikan jawaban atas komentar-komentar yang ada (walau saya akui, seringkali pada tulisan-tulisan saya yang lewat, sering tidak tertengok lagi, sedang ada komentar-komentar yang baru masuk. Mohon maafkan saya tentang hal ini), mengucapkan terima kasih padamu yang telah mengkritik tulisan saya, mengamininya apabila memang benar adanya. Saya juga akan mencoba memberikan penjelasan manakala pandangan yang disampaikan bisa berbeda dengan apa yang saya maksud, sehingga terjadilah proses diskusi, yang bisa sama-sama mencerahkan. Atau setidaknya kita bisa bersepakat bahwa kita memang tidak bersepakat dalam memandang satu persoalan. Ah, bahagianya dunia macam ini, bila tercipta dan terjaga.

Sungguh, itu akan menjadi coretan sejarah setidaknya dalam diri saya untuk selalu bercermin. Saya tidak memiliki apapun yang harus saya pertaruhkan untuk menjaga kewibawaan saya, sehingga harus menghadirkan situasi ”seolah-olah” saya adalah orang hebat. Sama sekali tidak. Saya bukanlah apa-apa. Mungkin bahkan Saya adalah seorang pemalas, yang harus diingatkan tentang berkembangnya jaman dan persoalan.

Sungguh, kawan, kritiklah saya, hujatlah saya, dan saya akan membacanya, akan menerimanya, akan mengajak untuk berdialog bila saya anggap kritik itu tidak tepat, dan tetap akan menghargai segala perbedaan. Tentang hal ini, saya sangat terkesan dengan seorang sahabat yang pernah mengkritik saya secara terbuka: Herry HF.

Bila engkau bertanya pada saya, tentang tulisan-tulisan yang pernah saya hapus dari kompasiana, dan kemudian saya pindahkan ke blog-blog pribadi, bukan berarti saya anti kritik atau tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis. Sungguh, saya akan tetap menggelar apa yang sudah tertulis pada postingan di blog saya, termasuk juga menyimpan dan menampilkan segenap komentar-komentar yang pernah ada. Ya, saya telah mendokumentasikan hampir seluruh tulisan saya berikut komentar-komentarnya, karena dari situlah saya juga banyak belajar.

Tentang menghapus tulisan di kompasiana, ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi dari tulisan-tulisan saya. Saya tetap akan bertanggung jawab tentang apa yang saya tulis dan tidak akan melenyapkannya dalam sejarah kehidupan saya. Saya menghapus lantaran secara emosional mengalami kekecewaan luar biasa ketika secara beruntun puluhan tulisan saya Hanya Lewat. Kekecewaan ini (yang bagi sebagian orang bisa dianggap sebagai kecengengan) tidak saya tutup-tutupi. Saya sangat terbuka dan menyampaikan pula secara terbuka melalui tulisan-tulisan saya berikutnya di Kompasiana, termasuk mempertanyakan dan memberikan kritik keras kepada admin. Beberapa tulisan yang saya maksud saya kira sebagian besar masih ada di dalam lapak saya.

Saya menulis. Menulislah. Ketika saya memposting, jujur saya memiliki harapan. Selain harapan-harapan yang telah saya ungkapkan di atas, jujur pada banyak tulisan (kecuali tulisan yang memang saya buat secara iseng), saya berharap ia bisa masuk ke Highlight. Pada tulisan-tulisan tertentu bahkan memiliki harapan bisa menjadi Headline ataupun terekomendasi. Tapi dua terakhir, pastilah bukan urusan saya lagi untuk menentukannya, tapi menjadi kewenangan penuh dari admin. Jadi jujur pula saya katakan bahwa saya berharap tulisan saya tidak terlewatkan dan terbaca oleh admin.

Memang tentang highlight, headline dan terekomendasi, kita hanya bisa berharap. Harapan yang seringkali jungkir balik. Sesuatu yang kita tulis secara serius, hanya terlewat saja. Tapi yang kita tulis dengan iseng-iseng, malah bisa masuk ke highlight dan bahkan terpilih sebagai headline atau bahkan terekomendasi.

Jujur bila saya pernah merasa sangat kecewa ketika menulis tentang meninggalnya Ibu Ade Rostiana, seorang aktivis pro demokrasi yang jauh dari publikasi, tapi sangat berperan besar dan dikenal oleh para aktivis dan kemudian dijuluki Ibu dua bangsa (Indonesia dan Timor Leste, yang pengakuannya bisa dilihat dari karangan bunga dari SBY dan Pemimpin negara Timor Leste), ia hanya lewat saja tanpa tersentuh Highlight, sedang pada saat bersamaan kisah tentang kematian anak seorang pejabat menjadi headline. Padahal saya menulis sebelum banyak media menulisnya. Demikian pula ketika saya menulis tentang ”Wanita Bercadar Tanpa Jarak” tentang seorang kawan yang saya kenal sejak puluhan tahun telah mengenakan cadar tapi aktif berkegiatan bersama anak-anak jalanan dan juga prostitusi anak, tanpa membatasi diri, inipun lewat dari highlight. Sedang saya merasa sangat yakin, kita sulit menjumpai orang macam sosok ini. Demikian pula ketika hari anak, tulisan tentang ”Bebaskan anak dari Penjara Australia”, luput dari Highlight. Ada beberapa lagi tulisan yang membutuhkan waktu untuk menghimpun bahan-bahannya, melakukan wawancara baik secara langsung ataupun melalui telpon, itu kadang terlewat. Atau yang baru saja terjadi, ketika saya mempersiapkan tulisan tentang pandangan Cak Nun terhadap Rendra di mana saya harus mendengarkan seluruh rekamannya, saya menulis reportase singkat sebagai pengantar, yang justru di luar dugaan saya malah menjadi headline. Jadi memang hal-hal semacam itu tentulah di luar dugaan kita.

Tentu saja semua pengalaman adalah guru yang baik. Saya banyak belajar dari pengalaman yang saya alami, juga belajar dari seluruh sahabat, para kompasianer. Semua adalah guru-guru terbaik bagi saya, siapapun dia. Saya mohon maaf bila saya yang justru tidak bersikap baik dengan mengabaikan sindiran, teguran ataupun kritik dari para sahabat semua.

Saya menulis. Menulislah. Berharap bisa akan terus menulis dan berbagi di sini. Tentu saja, tanpa mengurangi penghargaan terhadap semuanya, saya memiliki kepentingan dan obsesi saat menulis dan mempostingnya. Kepentingan sederhana, ada yang membaca tulisan saya.

Salam, dan semangat selalu bagi semua…..

Yogyakarta,  9 Agustus 2011

Iklan

2 comments on “Saya Menulis, Kritiklah Tulisan Saya

  1. satu hal dari tulisan saya sendiri yang sejak lama menjadi kritikan kental adalah

    “TYPO”

    hehehehe

    sala om da selamt pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: