Tinggalkan komentar

Obrolan Soal Kompasiana

Odi Shalahuddin

Kamu pasti bisa membayangkan dan merasakan ketika tengah menikmati sesuatu, lalu ada yang mengganggu kenikmatan itu. Ah, kutahu, pasti engkau pasti pernah pula mengalaminya. Coba lagi enak-enak sendirian, asyik ngupil, tiba-tiba tanpa ketuk pintu seorang tamu sudah berdiri di depan kita. Kenikmatan terganggu, malah jadi rasa malu yang menyelimuti. 

Demikian pula diriku. Lagi asyik-asyik mencumbui kompasiana, tiba-tiba saja ada suara keras yang menggelegar hampir meledakkan isi kepala. “Ngapain sih ngabisin waktu untuk kompasiana?! Lebih baik kerja! Kalau sudah selesai kerja, barengan sama anak-istri. Di depan komputer melulu! Alasannya lembur terus!”

“Loh, kompasiana ini bukan main-main loh. Ini serius. Jurnalisme warga je. Citizen Journalism. Tempat warga bisa melaporkan berbagai peristiwa walau bukan seorang jurnalis yang punya media. Beberapa kali nama kompasiana disebut-sebut para politisi loh. Beberapa kali berita warga menjadi inspirasi dan menjadi pemberitaan di tingkat nasional. Beberapa kali kompasiana mendapat penghargaan dari luar negeri. Beberapa kali… wah, banyak kali deh yang baik-baik.,”

”Bodo… Gak peduli. Emang bisa menghasilkan duit?”

”Loh, hidup itu jangan hanya berpikir soal duit semata. Harus dilihat dari sisi lain pula. Kepuasan seseorang bisa mengungkapkan ekspresi dan perasaannya, pastilah sungguh luar biasa dan tak ternilai harganya,”

”Mbelgedes…. Hidup itu real butuh duit. Ini malah ngabisin waktu dan buang-buang duit lagi. Gak mikir kamu bisa menyambung ke internet itu bayar. Gak ngitung laptop kamu itu menggunakan listrik. Gak ngitung kamu pakai laptop itu beli,”

“Ya, ngapain dihitung. Wong orang plesiran aja bisa ngabisin puluhan juta atau bahkan ratusan juta. Padahal pelesiran di sini, makan minum di warung kopi gak sampe 10 ribu dah puas. Bisa ngobrol soal apa aja,”

”Ah, kamu itu selalu banyak alasan! Sekarang ngapain?”

”Ya, lihat-lihat kompasiana. Eh, gak ding, baca juga, nulis juga walau nulis komentar,”

”Terus itu, kamu kok nulis komentar panjang banget mengalahkan postingannya,”

”Malah lebih asyik kalau begitu,”

”Terus, kamu kok tulisannya miring-miring sih soal admin?”

”Hidup kalau lurus terus bisa nabrak. Wong jalan aja berliku-liku,”

”Terus, apaan tuch?”

”Mana?”

”Oh, itu namanya headline. Itu highlight. Itu Tulisan terbaru. Itu Terekomendasi. Itu rub… Wah, kamu itu bukan nanya. Cuma nyindir aja dari tadi. Kamu kan bisa baca sendiri. Malah cengengesan,”

“Asyik, ya?”

“Asyik banget,”

“Pantes betah,”

“Emang”

“terus kapan kerjanya?”

”Ya kerja tetap aja sih,”

”Korupsi waktu ya…?”

”Enggak kok,”

”Terus sama anak-istrinya kapan?”

”Ya, tiap pagi pasti ketemu. Ngantar anak sekolah,”

”Terus….”

”Udah ah, maumu apa sih?”

”Maunya ya ngingetin kamu itu!”

”Gak usah diingetin, juga pasti inget….”

”Alah.. sok ah… Trus mana tulisanmu?”

”Ini, dah banyak kan?”

”Walau nulis kayak gitu. Cuma ngeluh aja. Lalu ngritik admin aja. Pasti tulisanmu gak mutu. Cari kesalahan ke orang lain. Soal kriteria kek, soal tugas kek. Padahal kamu emang gak bisa nulis. Hayo ngaku….,”

”Tapi tulisanku kan banyak. Kamu pura-pura lupa lagi. Tuch juga ada banyak buku,”

”Hm, kalau gitu lagi gak punya ide ya?”

”banyak banget ide.”

”Sombong”

”Memang”

”Eh, tapi admin itu apaan sih,”

”Admin, ya yang ngelola,”

”Memang boleh dikritik?”

”Ya, boleh saja. Presiden, politisi, dan pembesar-pembesar negeri ini saja bisa dikritik. Tuch lihat saja di kompasiana. Masak adminnya gak boleh dikritik,”

”Ya, tapi beda loh. Mereka kan yang memiliki rumah,”

”Memang sih. Tapi mereka kan bilang jurnalisme warga. Lha, kalau gak ada warganya?”

”Kan Cuma satu aja. Kamu ngilang juga gak ada artinya,”

”Iya juga sih,”

”Terus ngapain sok-sok-an kayak gitu?’

”Bukan sok, tapi kewajiban,”

”Mbel…. kewajibanmu itu ya kerja, menikmati sore bersama anak-istri,”

”Wah, kamu kok nyinggung itu lagi sih,”

”Habis, kamu sok-sok-an gitu sih. Biar aja orang lain yang mikir. Kalau ada salah biar orang lain yang mengingatkan. Jangan cari perkara yang merepotkan diri sendiri,”

:Lha, kalau orang lain yang melakukan. Dia juga pasti bertemu dengan sosok sepertimu, dikritik hal yang sama, gak beda dong,”

”Biar aja. Yang penting orang lain. Orang lain kan bukan dirimu,”

”Wah, kalau ini aku protes. Itu artinya gak perhatian. Aku sayang kok sama Kompasiana. Apalagi di belakangnya ada perusahaan media yangtak diragukan. KOMPAS. Kritik kan untuk kemajuan bersama juga,”

”Tapi tidak semua kritik itu baik kalau disampaikan secara terbuka. Orang bisa defensif. Bisa membalas.”

”Lha, yang buat negara kita gak maju ya pikiran seperti itu. Lobi, main belakang, tuntas. Justru harus belajar konflik. Konflik berbeda dengan intrik. Konflik,masalah dibuka, semua tahu,”

”Ini Indonesia, loh..”

”Ya, tahu. Dari dulu juga Indonesia. Lha, wong belum melanglang buana kemana-mana kok,”

”Ya, dijaga etika,”

”Sudahlah, jangan ganggu aku dulu deh,”

”terus kamu mau ngapain?”

”Mau ngitik-ngitik admin aja, biar pada tertawa… Tertawa, penuh canda, pasti bisa awet muda. Awet muda, berarti bisa lebih awet bekerja,”

”Begitu ya,”

”Ya, begitu. Sudah pergi sana,”

”Ya, aku gak bisa pergi.”

”Lho, kamu itu siapa sih? Kok bisa datang nyelonong trus bisa deket-deket aku,”

”Kan aku dirimu sendiri,”

”Masak sih?!,”

Yogya, 8 Juni 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: