1 Komentar

Mengapa Saya Menulis Fiksi ?

Odi Shalahuddin

Mengapa saya menulis fiksi? Bila itu ditanyakan kepada saya, agak susah bagi saya untuk menjawabnya, walau banyak kata untuk menyatakannya. Tapi, terus terang pada saat ini saya terus berusaha membangkitkan kecintaan terhadap fiksi. Apalagi sejak SD saya suka menulis yang saya sebut sebagai puisi. Kemudian berkembang pada penulisan cerita pendek. Maksud hati ingin berlanjut lagi pada penulisan novel, beberapa gagasan yang sudah tertuang dalam beberapa bagian, tidak pernah terselesaikan hingga kini. Jadi bisa dikatakan gagal. 

Saya kira adalah suatu keberuntungan bahwa sejak kecil saya banyak bersentuhan dengan orang-orang yang aktif dan menyukai fiksi. Keberuntungan pula ketika pada masa SMP dan SMA saya mengelola sebuah bulletin sederhana yang memaksa saya untuk terus menulis. Kebetulan pula bahwa saya pernah berkesempatan kuliah di Fakultas Sastra sehingga berkesempatan pula berinteraksi dengan orang-orang yang suka menulis fiksi.

Karya fiksi yang saya buat terutama adalah cerita pendek. Untuk puisi saya selalu saja merasa meragu apakah yang saya tulis bisa disebut puisi. Cerpen inilah, kemudian menjadi saluran ekpresi saya. Merasa menggila pada awal tahun 1990-an. Tiada hari tanpa menulis cerita pendek. Setidaknya lebih dari seratusan cerpen tercipta. Aktif mengirim ke berbagai mediamassa. Setidaknya separo dari tulisan pernah termuat. Secara jujur, ada kebanggaan menyelimuti diri ini. Apalagi ketika bersama beberapa kawan di Forum Pecinta Sastra Bulaksumur (FPSB) menggagas penerbitan buku yang disambut baik oleh penerbit Pustaka Pelajar, dan buku pertama dengan judul “Maling” yang terbit pada tahun 1994 dalam waktu satu bulan sudah cetak ulang. Buku ini tampaknya memberikan kontribusi bagi maraknya pembahasan mengenai cerita pendek di berbagai media. Menyusul kemudian diterbitkan kumpulan cerpen sampai lima buku.

Pada masa itu, secara sadar kami memilih tema-tema sosial. Mengangkat persoalan-persoalan kerakyatan. Bukan hanya sekedar dalam imajinasi belaka, namun tidak jarang kami harus melakukan pengamatan, penelitian, ataupun berada dalam masyarakat yang temanya kemudian diangkat ke dalam karya cerpen. Satu kebetulan, saya juga berada di dalam satu organisasi yang banyak berkegiatan bersama masyarakat bawah. Ini memudahkan saya untuk memilih tema-tema yang telah menjadi komitmen kami.

Pilihan ini, bukan tanpa resiko. Pada masa itu, menulis fiksi bertema sosial masih dibutuhkan keberanian. Setidaknya jangan terlalu kaget bila tiba-tiba diri kita di cap sebagai gerakan kiri, dianggap terpengaruh oleh Lekra, atau bisa dikelompokkan sebagai bagian dari gerakan kiri baru. Bila sudah terkena cap semacam itu, bukan tidak mungkin kawan-kawan dekat sendiri bisa lari menghindari.

Sepuluh tahun sebelumnya, atau sekitar tahun 1985, dalam jagad sastra sempat muncul perdebatan yang cukup keras dan berkepanjangan. Suatu seminar yang diorganisir oleh Halim Hade (seorang yang saat ini memposisikan dirinya sebagai networker kebudayaan),  memunculkan istilah yang digagas oleh Arief Budiman sebagai sastra kontekstual. Gagasan ini mendapatkan banyak reaksi dari para kritikus sastra dan para sastrawan sendiri. Perdebatan yang terjadi dihimpun dan disunting oleh Ariel Heryanto ke dalam buku ”Perdebatan Sastra Kontekstual” (1985).

Menurut Arief Budiman (dalam Kertas, lihat di SINI)  sastra kontekstual adalah karya sastra yang berpublik. Sastra yang sejak kemunculannya sedapat mungkin mendapat apresiasi secara luas, bahkan oleh kalangan awam yang kurang mengerti tentang seluk-beluk teori sastra. Dalam sastra kontekstual, dimensi estetika relatif dinafikan. Yang lebih diperhatikan adalah kebermaknaan, dimana tidak hanya masyarakat sastra saja yang mampu memberi apresiasi dari lahirnya karya itu, akan tetapi para nelayan, para petani, para buruh yang nota bene asing terhadap teori kesusastraan, juga bisa mengambil hikmah darinya.

Di luar sastra kontekstual terdapat aliran yang disebut Arief sebagai sastra estetisme. Dia menyitir istilah estetisme untuk menyebut golongan yang bertentangan dengan sastra kontekstual, yakni golongan yang menekankan aspek estetika. Kategori ini dipertentangkan dengan sastra kontekstual karena kecendrungan mengkultuskan universalitas dimensi estetis dalam karya sastra. Bahkan baik-buruknya karya sastra diukur dari parameter estetika ini, bukan dari aspek kebermaknaan  sebagaimana dalam kriteria sastra kontekstual. Tentu publik dari aliran estetisme ini sangat sempit, yakni sekelompok kecil orang yang disebut masyarakat sastra. Istilah masyarakat sastra dipakai untuk menyebut kalangan terpelajar yang meliputi pengamat, kritikus, peneliti, peminat, penikmat, serta tentu saja para satrawan yang betul-betul paham tentang teori sastra.

Gagasan Sastra Kontekstual, tampaknya juga tidak terlepas dari hadirnya karya novel tetralogi Pulau Buru Karya Pramudya Ananta Toer yang pada masa itu masih beredar dalam bentuk stensilan dan juga mulai tumbuhnya gerakan kesenian terutama teater sebagai media penyadaran bagi rakyat, yang digunakan oleh para aktivis gerakan sosial untuk membangun dan memperkuat organisasi-organisasi rakyat di tengah berlangsungnya sistem rejim orde baru yang sangat represif terhadap kemunculan kekuatan rakyat.

Saya kira, proses diskusi sehingga melahirkan pilihan untuk mengangkat tema sosial terpengaruh oleh gagasan sastra kontekstual ini. Perkembangan kemudian, menguatnya sastra koran, yang menunjukkan karakteristiknya untuk menampilkan realitas sosial yang tengah hadir, membuka ruang bagi lahirnya karya-karya sosial. Kita bisa melihat bahwa para penulis cerita pendek di surat kabar periode pertengahan tahun 90-an hampir semuanya mengangkat tema-tema sosial.

Sayang, memasuki tahun 1996, suatu alasan klasik, yaitu kesibukan, membuat saya berhenti menulis cerpen. Pada perjalanannya ada kerinduan untuk kembali menulis. Namun sekedar niat yang tidak pernah kesampaian. Termasuk juga ketika bertemu kawan-kawan yang mengalami hal serupa dengan mengkambinghitamkan kesibukan sebagai salah satu faktor utamanya.

Ketika jejaring sosial Facebook mulai marak, saya melihat ada ruang untuk menulis. Sayapun mencoba berlatih menulis lagi dengan tulisan-tulisan pendek. Saya lebih menempatkannya sebagai suatu ocehan, walau bisa dikatakan pula sebagai puisi.

Selanjutnya, saya mengenal dan mulai mencumbui kompasiana. Semangat untuk latihan menulis semakin tinggi. Ini dipengaruhi oleh interaksi sesama kompasianer yang secara tidak langsung memprovokasi agar senantiasa menulis dan memposting lalu bersapa melalui ruang komentar. Pada masa ini, Saya merasa lumpuh, tidak bisa membuat karya fiksi. Puisi (bila boleh dikatakan demikian) dan cerita pendek yang saya posting, lebih merupakan karya-karya lama saya yang masih terselamatkan.

Ketika terjadi hiruk-pikuk akibat sinyalemen fiksi sampah yang dilontarkan seorang kompasianer, saya mulai terpancing untuk mencoba membuat karya fiksi. Tapi selalu saja gagal. Keberuntungan kembali menghampiri saya ketika bersentuhan dengan komunitas di kompasiana yang kemudian menyebut dirinya warga Desa Rangkat yang digagas oleh Mommy. Interaksi yang sangat tinggi di kalangan warga Rangkat memaksa saya untuk berlatih membuat karya fiksi. Walaupun pada akhirnya saya bisa menulis, saya masih merasa belum mendapatkan kepuasan. Saya merasa belum bisa menyatu, belum bisa memainkan imajinasi dan menuangkannya dengan baik. Tapi saya terus berusaha.

Memasuki tahun 2011, saya menanamkan pada diri saya untuk lebih banyak menulis fiksi dibandingkan tulisan lain yang akan saya posting di kompasiana. Saya berhasil membuat beberapa cerpen baru. Tapi, sekali lagi cerpen yang masih buruk. Tidak memiliki kedalaman, tidak ada penghayatan. Ya, saya sangat menyadari hal itu. Tapi terus saja saya meyakinkan diri untuk tetap mencoba untuk belajar menulis fiksi. Belajar berdisiplin tiada satu hari-pun terlewat tanpa tulisan sebagaimana semangat yang dihidupkan oleh para kompasianer.

Lantas bagaimana sekarang? Ya, saya masih berniat belajar menulis fiksi. Saya mencoba mencari situs-situs lain yang berhubungan dengan fiksi. Beberapa karya fiksi, walau bukan tulisan baru, telah saya posting di beberapa tempat.

Semangat menulis fiksi setidaknya akan membuat saya banyak belajar untuk memberikan pengamatan terhadap suatu keadaan, mengamati sosok dan tingkah laku orang, menghayati dan belajar memahami suatu persoalan. Hal itu pula yang akan membuat saya menjadi banyak belajar dari kehidupan sehari-hari. Semoga saja bisa bertahan dalam semangat ini.

Yogyakarta, 19 Juni 2011

Ilustrasidari SINI:


Iklan

One comment on “Mengapa Saya Menulis Fiksi ?

  1. kau kok sangat produktif di…
    om din

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: