Tinggalkan komentar

Kita dan Kompasiana

Odi Shalahuddin

Saya yakin, seluruh para kompasianer tentunya juga memiliki blog pribadi. Pada awal perkenalan dengan kompasiana, saya yakin sebagian besar dari kita sangat bernafsu untuk memindahkan isi blog ke kompasiana. Saking tidak sabarannya, sampai menumpahkan puluhan tulisan dalam waktu hampir bersamaan. Akibatnya, admin akan berperan untuk meluruskan dengan membuat penjadwalan ulang. 

Saya yakin pula, ketika sudah semakin mengenal kompasiana, bertemu dengan para kompasianer yang sangat hangat, walau dengan pikiran berbeda, tetap saja membuat kita jatuh cinta. Maka terbukalah kemungkinkan, tangan akan terasa gatal, kepala akan terasa panas, gerak-pun jadi salah tingkah, bila dalam sehari belum melongok ke kompasiana.

Ketika sudah berada di halaman muka, segera saja beralih ke dashboard, mencermati berbagai tulisan baru dari kawan, membaca dan menikmati berbagai komentar dan balasannya, dan klik, meluncurlah kita ke berbagai lapak para sahabat. Walau sering pula dijengkelkan dengan dashboard yang meledak.

Bila sudah mempersiapkan tulisan, maka memposting segera. Lalu beberapa waktu mencermati berapa sudah yang melongok lapak kita. Dari angka yang tertera. Pun juga tak lupa mengecek kolom komentar yang telah hadir. Ada perasaan berbunga-bunga, bila dalam sekejab sudah puluhan angka tertera. Tapi ada perasaan sedikit resah, apabila telah sejam, pembaca belum mencapai angka sepuluh.

Maka, bergegas pula kita menyebar link tulisan. Ke sesama kompasianer di lapaknya atau pada tulisan-tulisan yang tengah hadir, ke berbagai jejaring sosial. Bukankah itu pertanda sebagai pengumuman akan tulisan kita untuk meraih pembaca? Saya tidak percaya bila anda mengaku tidak pernah melakukannya.

Seringkali ketika membaca sebuah tulisan ataupun dialog dalam ruang komentar, melahirkan inspirasi bagi kita untuk membuat tulisan. Menunda, seringkali terlupa, maka segera saja membuka halaman kosong untuk menuliskannya atau langsung pada ruang untuk mengirim tulisan. Ah, kuyakin engkau pernah mengalaminya pula.

Pada posisi ini, tanpa sadar kita telah menetapkan pilihan, kompasiana sebagai tempat pertama kita memposting tulisan. Ada yang bahkan melupakan blog pribadinya. Atau pada satu titik tertentu, baru teringat, kemudian mulai memindahkan berbagai tulisan  ke blog pribadi. Menjadi kebalikan dari proses awal kita bersentuhan dengan kompasiana. Bagaimana dengan pengalamanmu sendiri?

Kompasiana memang menawarkan berbagai kemungkinan. Ruang yang terbuka bagi kita untuk saling menyapa, bercanda, berdiskusi, kadang juga berdebat. Ruang yang terbuka bagi admin untuk meminta pandangan para kompasianer atas suatu gagasan yang akan dikembangkan oleh admin.

Hal paling menarik yang tampaknya tidak bisa kita jumpai di media blog keroyokan ataupun media jurnalisme warga lainnya adalah ruang yang sangat terbuka untuk menyoroti kebijakan dan kinerja admin. Hal mana, diamini bahkan didorong oleh Taufik H. Mihardja yang sering disebut super admin dalam tulisannya berjudul: ”Kompasianer Memang Harus Bawel”. Dikatakannya:

”…Nah salah satu resiko menjadi admin atau superadmin ya dibaweli tadi itu, diprotesi, tapi kan nggak ditimpukin. Dan, salah satu tugas Kompasianer memang adalah membaweli. Jadi kalau Kompasianer tidak bawel, malah menurut saya, “tidak bertanggungjawab.” Misalnya, sudah tahu ada masalah, kok diam saja. Itu berarti tidak ingin terlibat dalam perbaikan rumah kita….” 

Maka, di luar suka ataupun tidak suka, kita sering menyaksikan banyak postingan yang menegur, mengkritik, atau bahkan menghujat admin. Postingan yang hadir, dan tidak ada sangsi apapun sejauh tidak melanggar tata tertib. Penghapusan suatu akun, tidak menyebabkan seseorang kemudian di black-list. Sama sekali tidak. Bila itu terjadi pada kita, maka kita bisa kembali muncul dengan akun baru, dan sah pula untuk  kembali berinteraksi seperti biasa.

Kita, dan kompasiana, ah, menurutmu bagaimana?

Catatan iseng tengah hari
Semarang, 1 Agustus 2011

____________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: