Tinggalkan komentar

Kepentingan dan Obsesi Saya dalam Menulis


 Odi Shalahuddin

Saya itu adalah seorang pembohong. Saya bilang saya menulis tanpa kepentingan. Padahal nyatanya di dalam hati dan kepala, beragam kepentingan beterbangan. Kepentingan yang paling sederhana adalah saya bisa menyelesaikan suatu tulisan. Tulisan yang utuh. Tapi inipun sering teringkari oleh ketidaksabaran. Berbagai tulisan dipaksakan untuk “menjadi” padahal dia baru sebagai tumpahan ekspresi ataupun gagasan. Saya juga bersiap, bila ada orang mempersoalkan, maka saya mempersiapkan berbagai argumentasi, seperti, ya, ini saya sengaja untuk memancing diskusi. Benar, saya adalah seorang penulis bohong. 

Ketika sebuah tulisan yang saya anggap “selesai”  kemudian saya posting. Di kompasiana, misalnya, dan saya katakan bahwa saya tengah berbagi, maka hal itu patutlah anda curigai. Lantaran sesungguhnya, besar kemungkinan niat saya itu betul-betul tidak bermaksud berbagi. Tapi bagaimana tulisan itu dapat menarik hati, orang-orang bergerak untuk mengklik-nya, melihat selintas, syukur membacanya, lebih merasa bahagia bila ada komentar yang ditorehkan, apalagi ditambah dengan pemberian nilai. Wah, saya bisa berjingkrat-jingkratan.

Apalagi, bila tulisan itu kebetulan terbaca oleh admin yang kebetulan hendak beristirahat, sehingga bisa terambil sebagai tulisan yang dimasukkan ke kolom highlight, untuk waktu yang sangat lama. Apalagi bila berlanjut pada Headline, yang dilanjutkan kembali pada ruang terekomendasi. Uh, jujur, hati saya senang sekali. Itu harapan. Harapan menulis dan memposting di kompasiana.

Saya menulis dengan sarat kepentingan. Itu harus saya akui. Betapapun kecilnya kepentingan itu. Tanpa ada kepentingan, maka saya tidak akan bisa lagi menulis.

Saya jadi teringat, pada awal belajar menulis adalah menulis puisi. Kalau tidak salah sekitar kelas tiga atau empat SD. Saya tidak tahu awal mula terdorong untuk menulis. Bisa jadi dipengaruhi oleh tulisan kawan-kawan sebaya yang termuat di majalah bobo dan kawanku. Tapi saya sendiri, memang tidak pernah mengirimkan tulisan itu kemana-mana.

Waktu SMP, saya makin giat menulis. Utamanya puisi. Mungkin itu yang paling gampang dibuat oleh saya. Gampang pula dibagi ke teman-teman sekolah. Pernah sekali mengirim ke sebuah majalah. Dimuat. Hati senang bukan kepalang. Tapi sesudahnya tidak pernah mengirim lagi.

Lantas kebetulan saya mengelola sebuah buletin. ASPIRE namanya, kependekan dari Aspirasi Remaja. Buletin yang diterbitkan sebulan sekali dan didistribusikan ke berbagai kelompok teater di daerah pedesaan di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Hanya 1000 eksemplar setiap penerbitannya. Lantaran posisi, agar bisa terbit secara rutin, maka saya terpaksa harus menulis. Menulis puisi, menulis cerpen, menulis liputan. Beruntung tiga tahun lebih buletin itu bisa hadir dan hanya sesekali saja mengalami keterlambatan terbit.

Pada saat SMP, kebetulan lagi saya membuat teater di sekolah. Kemudian berkembang ikut membantu proses latihan berbagai kelompok teater di beberapa desa. Nah, di sini saya belajar membuat naskah teater. Wah, bangganya kalau naskah itu bisa dimainkan. Apalagi pernah, satu naskah saya dibawakan oleh satu kelompok teater di salah satu universitas. Pada saat itu, muncul obsesi bahwa kelak saya bisa melahirkan naskah-naskah teater yang hebat.

Pada saat SMA, saya dan beberapa kawan saat kelas satu, menerbitkan buletin kelas. Buletin yang diterbitkan bulanan, dan hanya bertahan tiga kali penerbitan, walau sambutannya meriah. Lantaran setelah itu diasyikkan dengan lingkaran pergaulan masa SMA yang kata orang sangatlah menyenangkan.

Saat awal kuliah, beberapa kawan kebetulan suka menulis cerpen, saya ikut-ikutan menulis juga. Sedangkan untuk puisi, saya merasa malu menganggap apa yang saya tulis sebagai puisi itu bisa dinamakan puisi. Ini lantaran diskusi-diskusi mengenai puisi, membuat saya merasa sangat minder. Jadi, saya tetap menulis, walau tidak pernah menunjukkan kepada kawan-kawan dan hanya disimpan sendiri saja. Saya lebih banyak menulis cerpen. Mengirimkan ke media, dimuat, membuat saya semakin bersemangat, dimuat lagi, tambah semangat. Sehingga bisa dikatakan untuk dua tiga tahun, tiada hari tanpa menulis cerpen.

Dengan alasan kesibukan, saya mulai membatasi menulis sampai akhirnya benar-benar tidak menulis cerpen lagi.

Sejak tahun 1996, saya mulai banyak menulis tentang persoalan-persoalan anak, terutama anak jalanan, hak anak, dan pelacuran anak. Pekerjaan saya banyak bersentuhan dengan hal tersebut. Pada masa-masa itu, masih sedikit tulisan tentang anak. Jadi ada obsesi, bagaimana masalah-masalah anak bisa mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Perkembangan kemudian, obsesi saya berubah lagi, bagaimana apa yang saya tulis harus bisa menjadi referensi bagi orang-orang yang akan memahami persoalan anak atau tengah menulis. Saya merasa beruntung, banyak tulisan, artikel, penelitian, skripsi, tesis ataupun disertasi yang berkaitan dengan anak jalanan, menggunakan beberapa artikel atau buku yang saya tulis sebagai bagian dari referensi yang digunakan.

Pada tahun 2008, saya merindukan menulis secara bebas. Saya membuat blog, saya maksudkan untuk menulis catatan sehari-hari. Bertahan sejenak, setelah itu, walau saya berusaha untuk mencatat tentang apa yang saya lakukan dan saya alami, gugur pula untuk mewujudkannya.

Tahun 2010, saya berkenalan dengan Kompasiana. Membaca sebuah tulisan, lalu membuat akun. Beberapa bulan kemudian, barulah memposting tulisan pertama. Selanjutnya, terdorong untuk terus memposting. Artinya, harus membuat tulisan. Saya posting tulisan-tulisan lama untuk membangkitkan gairah menulis. Berhasil, kemudian saya mulai membuat tulisan-tulisan baru.

Pada saat terjadi bencana Merapi, saya aktif menulis perkembangan situasi di lapangan. Obsesi saya, bagaimana situasi dan kegiatan yagn dilakukan oleh Tim kemanusiaan Merdeka (TKM) SAMIN dapat diketahui sebanyak mungkin orang. Berulang kali liputan menjadi headline. Jujur, tentu senang rasanya. Tapi memasuki tahun 2011, saya berubah pikiran. Saya akan belajar lagi menulis fiksi, utamanya cerpen, dan membuat tulisan bebas yang saya istilahkan sebagai ocehan.

Awalnya menyenangkan lantaran merasa ada tantangan yang sengaja diciptakan di kepala. Menulis dan terus menulis. Tapi lama-lama ada yang menggoda. Saya mulai merasa resah karena puluhan tulisan tidak masuk ruang highlight. Maka saya mulai memberikan perhatian terhadap pergerakan highlight. Mulai memposting tulisan mengkritisi pekerjaan admin. Buat apa saya melakukan itu? Sadar atau tidak sadar itu sesungguhnya menunjukkan adanya kepentingan dari diri saya sendiri atau terganggunya sebuah obsesi. Apakah dibenarkan? Nah, kompasiana membuka ruang ekspresi yang demikian, maka tidaklah ada yang bisa dipersalahkan. He.h.eh.e.he.h.e

Kini, saya masih menulis. Lantas apakah yang menggerakkan saya untuk tetap menulis? Saya yakin pasti ada kepentingan dan obsesi yang bila tidak saya katakan, maka itu tersimpan di dalam diri saya.

Jadi? Bangunlah kepentingan dan berbagai obsesi, sehingga kepala dan jemari bisa bekerjasama mewujudkan dalam tulisan-tulisanmu. Kepentingan dan obsesi itulah yang akan melahirkan berbagai ruang tantangan yang harus dihadapi bukan untuk dihindari. Menghindari tantangan akan menyebabkan kita mati. Menyesali diri? Ah, jangan sampailah…..

Semarang, 1 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: