Tinggalkan komentar

Buat apa Menulis?

Odi Shalahuddin

Bila engkau tanya kepada saya saat ini, sungguh, dengan sangat jujur saya akan menjawabnya, tanpa bermaksud mengada-ada,  bahwa saya sudah tidak tahu lagi, buat apa saya menulis. Dengan jujur pula akan saya sampaikan bahwa akan terjadi penderitaan dalam diri saya bila sehari saja tidak menulis. Menulis, sudah seperti rokok dan kopi yang lekat dengan kehidupan saya. Sama sekali tidak sehat. Menjadi candu. 

Tapi, bila saya tidak jujur kepada diri saya sendiri, juga kepada dirimu, entah demi apa, saya akan banyak berceloteh tentang pentingnya seseorang menulis. Saya akan menjawab bahwa menulis adalah salah satu upaya untuk memelihara otak kita agar tidak beku, setelah mendapatkan siraman bahan bacaan baik secara tertulis, terdengar, ataupun terlihat dari berbagai konsep ataupun peristiwa. Otak akan membeku,  bila membiarkan saja. Tapi pastilah, secara alamiah, ia akan terterima dan akan ada respon, apapun bentuknya. Masih di dalam kepala. Bisa mudah kau omongkan secara lisan. Tapi begitu engkau tuliskan, maka akan ada banyak perangkap yang menjebakmu. Menyadarkan bahwa omongan sangat berbeda dengan tulisan. Di situlah otak kita bisa bekerja.

Atau saya katakan, bahwa hidup adalah rangkaian berbagai peristiwa yang akan hilang bila tidak diabadikan dan dimaknakan. Satu peristiwa bisa bermakna kegelapan bila kau maknakan sebagai kegelapan. Satu peristiwa yang sama bisa bermakna jalan terang bila kau maknakan sebagai jalan terang. Pemaknaan yang akan beradu dengan pemaknaan orang lain. Persinggungan yang akan melahirkan pemaknaan baru bila terjalin suatu dialog walau tiada titik temu, kecuali kesepakatan untuk tidak sepakat. Demikian pula bila dialog tidak menyentuh wilayah pemaknaan dari apa yang hendak disampaikan. Perdebatan berkepanjangan tanpa ujung, pun bisa melahirkan pemaknaan baru. Soal itu berarti bagi dirimu atau tidak, itu soal lain. Nah, apalagi bila dialog terbuka, saling mengkritisi dan memahami, maka terbukalah pemaknaan bersama.

Lain lagi, akan saya katakan bahwa saya sangat bernafsu untuk menjadi penulis terkenal. Oleh karena itulah saya menuliskan apapun yang bisa saya tulis. Dengan menulis secara terus-menerus, maka saya akan mendapatkan pembelajaran berharga, yang akan makin meningkatkan kualitas tulisan. Pada saat bersamaan saya akan mempromosikan tulisan ini ke khalayak ramai, agar terbaca, agar mendapatkan respon yang baik, sambil tidak lupa melirik berbagai penerbit agar bisa tertarik terhadap tulisan-tulisan saya.

Situasi lain, barangkali saya juga akan mengatakan, bahwa setiap orang adalah makhluk sosial. Berbagi tidak saja dalam bentuk materi. Tetapi bisa juga dalam bentuk tulisan. Tulisan yang diharapkan bisa bermanfaat bagi orang lain,  bisa menginspirasi membangkitkan semangat baru untuk melahirkan tindakan-tindakan bagi suatu perubahan yang lebih baik.

Atau, barangkali pula saya memiliki banyak obsesi untuk mempengaruhi pikiran orang terhadap sesuatu, sehingga bagaimana melatih diri untuk menuliskan sesuatu yang akan menggiring orang pada satu pemikiran tertentu. Tentu saja berpikir pula akan ada respon berkebalikan. Bukankah hidup tidak sekedar hitam-putih?

Jujur pula, bila saya jawab singkat. Saya menulis untuk dapat uang. Biar saya bisa hidup. Bisa pula menghidupi anak-istri.

Nah, sungguh, bila engkau bertanya pada saya sekarang ini. Manakah yang engkau pilih? Jawaban jujur, atau jawaban yang bisa memotivasi dirimu atau yang bisa membangkitkan kekagumanmu pada saya?

Jadi saya menulis untuk apa? Gak tahulah. Pokoknya nulis saja dulu deh.

Yogya, 26 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: