Tinggalkan komentar

Penulis Cengeng, Jangan Diikuti

Odi Shalahuddin

Sebenarnya sejak semalam saya bersemangat kembali untuk menulis dan memposting di Kompasiana. Setidaknya membuat tulisan mengenai pengalaman dan kesan-kesan saya terhadap berbagai peristiwa di Kompasiana selama setahun saya berada di sini. Saya putuskan untuk menghentikan puasa memposting di kompasiana. Tapi kembali, kegalauan menyelimuti saya. Gelisah, resah, sedih dan marah.

Setahun di kompasiana, beberapa tema tulisan telah saya siapkan dan tiga tulisan sudah terposting, yaitu Setahun di Kompasiana, Kilas Balik (Setahun di Kompasiana #2) dan Menulis dan menulis (Setahun di Kompasiana #3). Sedangkan tulisan selanjutnya yang saya persiapkan, diantaranya adalah Hiruk-pikuk di Kompasiana, Headline…Terima Kasihku pada Astree Hawa, dan Membangun Mimpi Perubahan.

Di tengah menulis, tiba-tiba saya terpaku membaca berita di Kompas.com tentang 7 ABG ”Ngelem” Digrebek Warga. Berita yang memprihatinkan dan membuat ingatan saya melayang kepada berbagai kasus anak-anak jalanan yang juga suka ”ngelem”. Itulah yang pada akhirnya mendorong saya untuk menulis dan memposting ”Ngelem”. Di alenia awal saya hanya menyinggung tentang berita tersebut, namun selanjutnya saya lebih banyak menceritakan tentang situasi dan perkembangan mengkonsumsi ”ngelem” di kalangan anak jalanan.

Tulisan tersebut Hanya Lewat. Tidak masuk Highlight. Kalau soal Headline, sungguh saya tidak ambil pusing dan tidak memiliki beban.Sebagaimana para kompasianer saling menyemangati, bila Headline anggap saja bonus. Ini untuk mempertahankan semangat menulis. Tapi sebagian besar tulisan tidak masuk highlight? Masalah inilah yang sebenarnya membuat saya gundah pada beberapa bulan terakhir.

Awalnya, sungguh saya tidak mau ambil pusing, yang penting menulis dan memposting. Merasa senang bila ada yang membaca, tambah senang ketika komentar bermunculan. Di kepala saya, ini adalah kesempatan, di mana ruang terbuka bagi semua untuk menulis dan berbagi. Bisa berlanjut pada diskusi. Setidaknya saling sapa. Melencengnya saling maki dan hujat. Tapi secara keseluruhan, semuanya berlangsung damai-damai saja. Tidak ada peperangan yang berarti kecuali hanya kata-kata yang bisa mengganjal di hati. Begitulah.

Tidak masuknya tulisan dalam highlight saya sadari bukan hanya saya saja yang mengalami. Berbagai bercandaan seringkali muncul dalam berbagai komentar sesama kompasianer. Dulu-pun saya sering mengalami dan ikut bergabung dalam bercandaan. Semua bisa disikapi dengan canda dan tawa.

Suatu ketika, keisengan muncul di akhir Maret. Saya mulai memperhatikan apakah tulisan saya masuk highlight atau tidak. Hasilnya membuat saya terkejut. Dua puluh lima postingan berturut-turut, hanya dua yang masuk highlight. Pada saat itu, saya berusaha tenang-tenang saja.

Persoalannya, berdasarkan informasi dari admin tentang tulisan yang dianggap tidak layak masuk ke kolom Highlight adalah (lihat: Kriteria Headline, Highlight dan Rekomendasi)

  • Tulisan-tulisan milik penulisan dari blog atau media lain yang secara serentak dipindahkan ke Kompasiana.
  • Tulisan yang dibuat (atau hasil copy paste) dalam bentuk makalah ilmiah, skripsi atau sejenisnya.
  • Tulisan pendek atau singkat.
  • Tulisan tanpa isi.
  • Tulisan yang sama sekali tidak bermanfaat.
  • Tulisan yang diduga atau berpotensi melanggar ketentuan.

Mengacu kepada kriteria di atas, saya merasa bahwa tulisan-tulisan saya tidak masuk kategori tersebut. Ketika saya tanyakan, seorang admin menjawab bahwa tulisan yang masuk highlight adalah tulisan-tulisan yang dianggap bermutu.

Merespon hal tersebut, terpostinglah tulisan: Maaf, Tulisan Saya Tidak Layak, yang inipun juga tidak masuk Highlight.  Tapi begitulah seterusnya yang terjadi. Kendati ada beberapa tulisan yang sempat menjadi Headline, namun sebagian besar tulisan saya hanya lewat saja. Artinya mengacu kepada jawaban diatas dianggap sebagai tulisan tidak bermutu oleh admin.

Persoalan lain yang bersifat subyektif, sehingga menimbulkan prasangka yang tidak-tidak di kepala saya adalah, saya sering mengalami di mana misalnya pada tulisan terbaru, tulisan di atas atau di bawah tulisan saya masuk highlight dan tulisan saya terlewati. Sungguh, ini seringkali terjadi, dan membuat beragam perasaan berkecamuk. Saya berharap ini hanya faktor kebetulan yang selalu berulang saja.

Saya nilai, diri saya sudah tidak sehat. Niat awal untuk belajar menulis berbagai kisah, imajinasi, dan pikiran dengan sesama kompasianer telah terkotori oleh perasaan egois. Tidak masuk highlight saja sudah resah. Bukankah begitu?

Lantaran itulah, saya memilih untuk menulis di ruang yang saya kira merdeka, tidak terbebani oleh pikiran-pikiran agar bisa highlight, bisa headline atau bisa terekomendasi, yaitu catatan harian. Saya menganggap cara ini bisa berhasil meredam kekecewaan dan mengurangi obsesi yang berlebihan di kompasiana. Bagaimana-pun berkat Kompasiana, saya merasa berhasil melatih diri untuk sering menulis, di tengah kesibukan seperti apapun.

Tapi ternyata saya gagal. Saya hanya seorang penulis cengeng. Penulis yang ”mutung” karena merasa dinilai tulisannya tidak bermutu oleh admin. Penulis yang lantaran hal semacam begini, lantas  mengajukan pertanyaan atau lebih tepatnya mengadu kepada admin. Mencoba mempersoalkan. Kegagalan menata hati untuk tidak terbawa emosi menyebabkan saya mengambil keputusan yang saya tuliskan dalam postingan: Mohon Maaf, Saya pamit tidak menulis sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kepamitan saya hanyalah tidak memposting tulisan, tapi tetap hadir dalam postingan para kompasianer untuk memberikan komentar ataupun berdiskusi.

Pada posisi ini saya sungguh menikmati. Sekaligus berefleksi diri, bahwa ternyata selama ini saya adalah orang yang kurang adil. Pada masa berpuasa ini, saya berusaha untuk membayar kelemahan saya dengan mengunjungi berbagai lapak para sahabat. Nikmat rasanya. Saya tidak terbebani apapun. Di sisi lain, saya tetap menulis, mengirimkannya ke tempat lain. Juga membaca-baca lagi berbagai tulisan lama.

Namun, ketika melihat profil pada tanggal 5 Juni 2011, saya baru tersadar saya membuka account di sini pada tanggal 4 Juni 2010. Artinya sudah setahun saya berada di kompasiana. Ini menggerakkan saya untuk kembali menulis. Setidaknya meriviu perjalanan saya di Kompasiana, dengan mempersiapkan dan memposting tulisan sebagaimana saya sampaikan di bagian awal tulisan ini.

Cilakanya, saya menulis hal lain, yang tidak masuk highlight dan memunculkan kecengengan saya. Saya menghentikan beberapa tulisan yang saya rencanakan. Sungguh, saya adalah penulis cengeng yang tidak patut ditiru. Jangan diikuti sikap cengeng saya. Menulis, menulislah. Dengan niat baik, tentu akan menghasilkan yang terbaik pula.

Semoga para kompasianer senantiasa terjaga kesehatan dan semangatnya. Mohon maaf apabila selama ini ada kata-kata yang tidak berkenan. Kepada beberapa rekan yang pernah menanyakan alasan mengapa saya berpuasa untuk memposting tulisan di kompasiana, semoga tulisan ini bisa memberikan jawaban.

Yogyakarta, 6 Juni 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: