Tinggalkan komentar

Menulis dan menulis….. (Setahun di Kompasiana #3)

Odi Shalahuddin

Di kepala saya, ada obsesi untuk kembali belajar menulis. Saya sungguh sangat iri dan terangsang dengan para sahabat di Kompasiana yang sangat aktif menulis. Apalagi pada masa itu, terpampang lima wajah yang menjadi penulis teraktif di kompasiana. Sungguh menggoda apabila bisa menjadi salah satu dari mereka. Bukankah itu sah adanya? 

Ya, sekedar mengenang, sejak SD saya sudah suka menulis, terutama puisi. Saat SMP, berkembang lagi menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Saat SMA, bertambah lagi menulis esai dan liputan mengingat saya menjadi pimpinan redaksi untuk buletin remaja yang terbit bulanan dan didistribusikan di berbagai desa wilayah DIY dan Jawa Tengah, juga menjadi anggota redaksi buletin ”Petani”. Oh, ya pada saat kelas satu SMA, saya dan beberapa kawan juga menerbitkan buletin untuk kelas kami.

Saat berkesempatan menjadi mahasiswa di awal tahun 1990-an, lingkaran perkawanan saya di kampus dan di luar kampus, salah satunya adalah dengan para penulis cerita pendek. Sebab itulah, sekitar dua tahun lebih, antara tahun 1993 – 1995, lebih dari seratus cerpen telah saya hasilkan dan puluhan diantaranya berhasil dimuat di media nasional dan daerah. Sayang saya tidak memiliki dokumentasinya lagi lantaran klipping saya titipkan ke seorang kawan yang pada saat itu merintis pendirian pusat studi cerpen, namun orang tersebut tidak tinggal lagi di Indonesia. Dua bundel dokumentasi saya juga hilang ketika pada tahun 2006, seorang kawan yang menjadi penerbit meminta naskah untuk dibukukan, saya minta ia untuk memilih sendiri. Kawan tersebut merasa sudah mengembalikan, sedang saya merasa belum dikembalikan. Tapi, ya sudahlah…

Memang saya masih menulis. Tapi menulis dalam kaitan dengan pekerjaan. Menulis sesuatu yang tidak bebas nilai, harus tertata. Sebagai bahan presentasi sebuah diskusi, seminar atau pelatihan. Menulis laporan berbagai penelitian. Menulis sebagai bagian dari kumpulan tulisan untuk sebuah buku. Menulis dengan obsesi apa yang saya tulis bisa menjadi bahan rujukan atau referensi.

Saya merindukan bisa menulis apa yang mau saya tulis dengan merdeka. Memainkan imajinasi dan memainkan kata-kata. Saya merasa sekarang ada ruang yang terbuka lebar untuk melakukannya, yaitu di kompasiana.

Salah satu cara untuk merangsang saya menulis adalah dengan cara aktif memposting di kompasiana. Tulisan-tulisan lama menjadi sasarannya. Seolah-olah aktif menulis padahal hanya memposting dokumentasi. Pada saat itu pula saya mencoba menulis. Belajar menulis apapun. Sampai saya merasa terbiasa menulis. Saya masih pada keyakinan bahwa menulis adalah soal kebiasaan. Semakin terbiasa, lama-lama pastilah akan lancar. Dengan keyakinan tersebut, maka saya sepakat dengan prinsip Omjay untuk menulis minimal satu tulisan satu hari sebelum tidur.

Pada akhirnya Saya merasa berhasil dalam artian kembali lancar untuk menulis. Imajinasi dan ide/gagasan berkelebatan dan tidak semuanya bisa tertangkap untuk bisa dituangkan ke dalam tulisan. Bukan apa-apa. Soal waktu yang terbatas juga menjadi kendala, walau selalu saya usir agar tidak menjadi pembenaran manakala saya tidak menulis apapun dalam satu harinya.

Kebiasaan buruk tatkala menulis (di luar konteks pekerjaan) yang saya jalani sejak kecil, saya selalu menulis sekali jadi. Spontan. Setelah itu jarang sekali (untuk menghindari kata tidak pernah) untuk dikoreksi kecuali koreksi pada penulisan kata yang salah dan tanda baca. Sekali saya berusaha mengkoreksi, maka bukan semakin baik tulisan tersebut, tapi akan menjadi tulisan baru yang bisa berbeda dengan tulisan awal.

Semangat menulis yang membuta, membuat seringlupa segalanya. Di tengah pertemuan atau rapat terbatas saja, sambil menyimak dan melontarkan beberapa gagasan, saya mencuri waktu menulis sesuatu yang langsung saya posting di Kompasiana. Tatkala kepala sudah sumpek dengan pekerjaan, menulis lagi, diposting ke kompasiana. Sampai pada titik di mana  para rekan kerja yang menagih pekerjaan (yang terkait juga penulisan) karena terabaikan oleh diri saya, menjadi jengkel. ”Lha, kenapa tidak tulisan/laporan itu dulu yang diselesaikan, tapi kamu mendahulukan kompasiana,”. Istri saya juga sering menyindir ketika saya suntuk di depan komputer, apalagi ketika diajak bicara olehnya saya tersenyum-senyum sendiri: ”Pasti lagi berkompasiana,”

Memang, pada akhirnya kompasiana telah membelenggu saya. Di saat menyalahkan laptop, terhubung dengan akses internet, pertama kali yang terbuka adalah kompasiana. Bepergian kemana-pun, apalagi pada saat-saat menunggu, maka hape yang terbuka juga kompasiana. Kebiasaan bergadang, di tengah kesibukan apapun, jendela kompasiana selalu terbuka, dan sering terlongok.

Sungguh, saya sudah berada dalam jajahan kompasiana. Padahal, bila dipikir-pikir, tidak ada yang dipertaruhkan di kompasiana ini. Tidak menulis, juga tidak akan memiliki pengaruh lantaran ratusan tulisan bisa hadir dari para kompasianer. Menulis terus menerus, kita juga tidak mendapatkan imbalan materi. Justru kita banyak menghabiskan waktu, energi, dan biaya untuk menyetubuhi kompasiana.

Tapi, memang semuanya selalu tidak bisa diukur dengan materi. Perasaan senang, bahagia, damai, semangat, merdeka, pastilah lebih bernilai tinggi. Bayangkan banyak orang bisa menghabiskan uang yang sangat besar demi mendapatkan perasaan  senang dan bahagia. Bila itu bisa didapatkan di kompasiana, dengan interaksinya yang melibatkan banyak manusia dengan keragaman karakteristik, bukankah murah biaya yang kita keluarkan?

Yogyakarta, 6 Juni 2011

______________________

Tulisan terkait:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: