1 Komentar

Kilas Balik (Setahun di Kompasiana #2)

Odi Shalahuddin

511 tulisan dengan tema yang beragam. Jumlah tulisan saya selama setahun.  Dibandingkan dengan para penulis aktif di kompasiana, jumlah ini tentulah tidak seberapa. Tapi bagi saya, yang mencanangkan pertama kali niat untuk belajar menulis, tentulah bisa menjadi jumlah yang sangat banyak. Harus diakui, tidak semua adalah tulisan terbaru. Sebagaimana pernah saya akui dalam satu postingan ”Aku Penulis Curang”, pada proses awal, saya banyak memposting tulisan-tulisan lama saya.

Urusan Lima Menit, Suara Anak Dibungkam (Catatan untuk Hari Anak Nasional), itulah postingan saya yang pertama tertanggal 25 Juli 2010. Diawali dari rasa resah dan amarah tatkala membaca berita tentang pembatalan pembacaan ”Suara Anak Indonesia” di Hari Anak Nasional yang dihadiri oleh Presiden. Sesungguhnya, pada periode-peride sebelumnya, pembacaan ”Suara Anak Indonesia” selalu menjadi agenda. Suara yang dihasilkan dari Kongres Anak Indonesia yang rutin dilakukan menjelang peringatan Hari Anak Nasional. Tahun 2010 adalah Kongress Anak yang ke sembilan yang dilakukan di Pangkal Pinang, Propinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Alasan pembatalan adalah karena adanya perintah dari Istana.

Rasa resah dan amarah yang kian memuncak bahwa pada acara tersebut, tersiar kabar tentang seorang anak yang ”ditoyor” oleh seseorang yang diduga anggota Pasukan Pengamanan Presiden. Terjadi penyangkalan dari istana bahwa pelaku bukanlah anggota Paspamres, tapi tidak ada informasi tentang siapa sesungguhnya pelaku tersebut. Ini sangat menyedihkan, mengingat orang-orang yang bisa berada di sekeliling presiden tentulah orang-orang yang terbatas. Memprihatinkan. Peristiwa yang menunjukkan adanya sesuatu yang bermasalah di ”lingkaran kekuasaan”. Kalau anak saja sudah dikorbankan, apalagi terhadap kelompok-kelompok masyarakat rentan lainnya?

Ya, begitulah postingan pertama saya di kompasiana yang bukan merupakan tulisan pertama saya atas kasus tersebut. Hal ini lantaran saya menulis beberapa tulisan yang sudah saya posting di beberapa tempat, termasuk di note FB.

Berawal dari postingan tersebut, saya kemudian melihat-lihat postingan lainnya. Tertarik dan melihat ini ada ruang yang lebih luas dibandingkan note-note di FB. Maka mulailah saya memposting tulisan-tulisan lama terutama puisi dan cerpen di lapak Kompasiana ini. Sesekali memposting tulisan baru. Hal yang menyenangkan ketika muncul komentar-komentar dari para kompasianer lainnya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya saya mulai tergila-gila dengan kompasiana. Kesan terhadap suasana di Kompasiana saya gambarkan dalam postingan: Gara-gara Kompasiana Saya Jadi Bodoh! (18/8/10)

Inilah ruang demokrasi, pikirku. Ruang bagi semua orang bisa ber-apa saja. Bebas, merdeka, mau bersuara apapun. Menulis dan berkomentar, sekedar berkomentar saja atau memang cuma jadi penonton. Tapi seperti nonton pentas musik di tanah lapang. Ada yang bisa menikmati musiknya, ada yang senang memberikan komentar atas kesalahan, ada orang yang memang senang ramainya saja. Berjoget bersama, saling senggol bisa membuat orang bertambah kawan, tapi bisa juga melahirkan rasa berang. Apalagi kalau penontonnya merupakan gerombolan. Atas nama solidaritas bisa berang semua. Bisa terjadi pengeroyokan. Tapi kalau lawannya juga gerombolan, maka bisa terjadi tawuran masal. Tapi, tampaknya hal tersebut belum terjadi. He.he.h.eh.e.. Soal beginian, memang tergantung orang. Sejauh mana orang mau memahami dan bermain dalam permainan yang demokratis. Terima kasih kepada Kompasiana tentunya yang telah membuka ruang itu.  

Tampaknya kesan yang saya tulis di atas, masih bisa berlaku hingga saat ini dengan wajah situasi yang juga tidak berubah banyak.

Yogyakarta, 6 Juni 2011

Iklan

One comment on “Kilas Balik (Setahun di Kompasiana #2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: