Tinggalkan komentar

Bertemu Rohmat

Odi Shalahuddin

Setelah  tiga hari berada di Semarang, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk memenuhi janji saya. Berkunjung ke tempat Rohmat. Rohmat, inisiator atau penggagas Gerakan Kompasiana Bersih (GKB). Satu gerakan yang menimbulkan pro-kontra. Tapi tentu itu merupakan hal yang biasa dan merupakan dinamika dalam kehidupan, bukan? Termasuk di Kompasiana tentunya, dimana pro-kontra atas sesuatu sudah menjadi hal yang biasa. Bukankah kompasiana merupakan ruang merdeka yang dicintai banyak penghuninya..?    

Ini merupakan kopdar pertama kali yang saya lakukan dengan kompasianer, di luar memang yang saya sudah kenal sebelumnya. Sekitar pukul sembilan malam, saya tiba di tempat kerjanya. Sebuah pertokoan. Tempat jual beli-laptop. Ketika saya  menelpon, tepat di depan tokonya. Ia keluar, dan saya yakin inilah orangnya, sesuai dengan pic di kompasiana.

Kami nongkrong di kedai kopi, tepat di sebelah tokonya. Aku pesan kopi hitam. Ia pesan Milo. Seorang banci mendekat menyanyi. Cukup menghibur walau tanpa basa-basi, menyanyi hanya sebentar, sudah berpindah tempat lagi.

Rohmat Hidayatulloh, saya tidak menanyakan apakah ini nama asli atau samaran. Tapi saya tidak peduli tentang inilah. Ia seorang mahasiswa tingkat akhir di Universitas Diponegoro, Fakultas MIPA yang tengah menyelesaikan skripsinya. Ia pernah aktif di organisasi kemahasiswaan dan pernah menjadi Presiden BEM.

Wajahnya bersih, pembawaannya tenang, dan nada bicaranya sangat santun. Ia sangat aktif pada kegiatan-kegiatan sosial, dan beberapa kali bergabung sebagai relawan di berbagai organisasi yang bekerja untuk orang-orang terpinggirkan. Saat ini, ia juga menggalang kawan-kawannya untuk melakukan pendampingan terhadap anak-anak di perkampungan seputar Tembalang. ”Saya prihatin melihat anak-anak lebih banyak di tempat-tempat PS dan Warnet-warnet. Jadi kami membuat kegiatan-kegiatan yang sehat bagi mereka seperti kegiatan oubond,”

Ia senang menulis opini. Utamanya di blogdetik. Atas ajakan seorang kawannya di blog tersebut, bergabunglah ia di Kompasiana. Apakah ia datang di saat yang tidak tepat ketika orang-orang tengah hiruk-pikuk berbicara tentang keprihatinan terhadap situasi yang terjadi dan tidak bisa dipungkiri, atau justru sebaliknya. Keprihatinan yang dilihatnya dari berbagai postingan dan komentar, ia sambut dengan membuat postingan yang akhirnya ramai dengan komentar. Rating basi dan asal tulis tertoreh dalam postingan tersebut. Ini pula yang membuat dia gerah dan menyampaikan keprihatinannya kepada beberapa kompsianer melalui komentar yang ditorehkan, shout pada beberapa lapak yang dilanjutkan dengan mengirim pesan lewat inbox.

Saya pribadi menyampaikan dukungan atas gagasan yang dilontarkan. Tapi saya katakan, untuk hal ini harus ada yang berani pasang badan. Artinya siap menggalang dukungan termasuk pula menghadapi resiko terhadap reaksi negatif atas gerakan. Ia menyatakan siap. Lalu terjadilah seperti apa yang telah kita saksikan dan alami di dalam negeri kompasiana ini.

Hiruk-pikuk terjadi lagi. Seperti biasa. Bukan sesuatu yang luar biasa. Karena, jujur sajalah hal-hal semacam ini memang biasa kita alami. Sesuatu yang berbeda ketika ada embel-embel ”gerakan’ ketika ada daftar siapa yang mau terlibat, maka berarti ini kegiatan yang terorganisir.

Kritikan dan sinisme terhadap GKB tak henti mengalir seiring dengan dukungan yang juga hadir. Kompasianer baru yang mencari sensasi, bercermin dululah, pion yang disetir, dan berbagai tuduhan dialamatkan kepadanya. Saya melihat, kadang Rohmat cukup jernih mencoba menanggapi komentar yang hadir, kadang tergagap, kadang juga tak bisa menahan emosinya yang membuat ia terjebak pula.

”Saya tidak mengira interaksi di kompasiana yang sedemikian ramai,” komentarnya semalam ketika menyinggung reaksi terhadap GKB. ”Padahal GKB tidak membuat ancaman apapun. Hanya himbauan dan desakan ketegasan terhadap admin”

”Tapi itulah daya tarik kompasiana,” sahutku, ”Sebagai ruang merdeka, orang bebas berekspresi dan menyampaikan pandangannya, dan berlangsung interaksi yang hangat bahkan panas. Hal inilah yang justru membuat orang mencintai kompasiana”.

Sayang tidak lebih dari setengah jam, saya harus bergegas kembali. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan malam itu juga. Maka berpamitanlah saya…

Tetaplah semangat Rohmat. Dunia memang tidak hitam-putih. Mencinta seseorangpun, tetap saja bisa memunculkan reaksi negatif. Niat baik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Itulah hidup. Kehidupan. Tidak ada kebenaran tunggal. Tidak ada kesalahan tunggal. Tergantung bagaimana memandangnya.

Semua orang bergerak. Pastilah berharap bisa bergerak maju. Tidak akan ada orang yang bersedia jalan di tempat. Maka, maju jalan, bagi semua kompasianer. Tetap semangat saling berinteraksi dan berbagi. Perbedaan bukanlah untuk melahirkan permusuhan, tapi bisa menjadi proses dialog panjang yang saling mencerahkan dan membangun kesadaran baru. Semoga bisa begitu.

(Bersiap kembali ke Yogya)

Semarang. 13.01.11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: