Tinggalkan komentar

Mengenang Dua tahun Kepergian WS. Rendra

Odi Shalahuddin

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
Atau gatal  

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
Untuk punya posisi yang ideal dan wajar 

Aku pengin membersihkan tubuhku
Dari racun kimiawi  

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
Kepada Allah  

Tuhan, aku cinta padamu  

Rendra
31 Juli 2009
Mitra Keluarga

Puisi tanpa judul, merupakan puisi terakhir dari WS Rendra ketika masih terbaring sakit di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta. Puisi itu seakan mengisyaratkan kepergiannya ke keabadian.

Pada tanggal 6 Agustus 2009, sekitar pukul 22.00  terdengar kabar bahwa WS Renda telah pergi menuju keabadian. Seluruh rakyat Indonesia pun berduka, kehilangan sang ”Burung Merak”, penyair dan dramawan besar kita.

Tak terasa, sudah dua tahun ia pergi. Di Yogyakarta, setidaknya ada dua acara yang digelar untuk mengenangnya.

* * *

Paguyuban Sastrawan Mataram yang diketuai oleh Sigit Sugito mengambil tema ”Tribute to Rendra” dalam penyelenggaraan Malam Sastra Malioboro Edisi VIII yang digelar di trotoar depan monumen Serangan Oemoem Satu Maret (SO) pada tanggal 6 Agustus 2011.

”Acara malam ini memang untuk anak-anak muda. Agar anak-anak muda tetap mengenal karya-karya Rendra. Nah, kalau untuk acaranya para senior, besok dilangsungkan di Karta Pustaka,” MC Wahyana Giri memberikan penjelasan di awal acara karena adanya kesalahan informasi.

Penyelenggaraan di lokasi yang juga dikenal sebagai Kilometer Nol (km 0), berlangsung sederhana, dengan setting ruang berkain putih dengan satu kursi bambu dan di sisi kiri-kanannya terpampang gambar WS Rendra dengan petikan puisi terakhirnya. Para penonton sebagian duduk lesehan, dan sebagian berdiri sehingga membentuk posisi setengah lingkaran. Acara tetap berlangsung khidmad di tengah keramaian kendaraan yang lalu lalang dan kerumunan orang-orang di luar lingkaran dengan berbagai aktvitasnya masing-masing.

Para penyair muda bergantian membacakan puisi-puisi dari WS Rendra. Terdengarlah syair-syair: Sajak Sebatang Lisong, Makna sebuah Titipan, Pamflet Cinta, Ibu di atas Debu, dan syair-syair lainnya.

Turut didapuk untuk membacakan puisi adalah Esti Wijayati, anggota DPRD DIY dan Drs. H. Haryadi Suyuti, Wakil Walikota Yogyakarta, yang kebetulan hadir dan langsung ditodong untuk turut berpartisipasi.

* * *

Semalam (7/08), bertempat di Pendopo Karta Pustaka, Lintas Komunitas Yogyakarta juga menyelenggarakan dua tahun Mengenang WS Rendra dengan Tajuk ”Maskumambang”, yang diambil dari salah satu judul puisi WS Rendra.

Setelah sambutan dari pimpinan Karta Pustaka (Anggi) dan Ketua Panitia (Untung Basuki), tampil pertama adalah DS Priyadi.  Ia berbicara selintas tentang arti Maskumambang. ”Sebaiknya tidak perlu berpanjang, langsung saya bacakan puisinya saja,”

Rasamaya dari Solo, kelompok musik tradisi yang mengiringi DS Priyadi saat pembacaan puisi melanjutkan dengan membawa empat komposisi lagu.  Berikutnya acara diselang-seling antara testimoni, pembacaan puisi, dan musik.

Testimoni disampaikan oleh para sahabat Rendra yaitu Bakdi Soemanto, Guru Besar UGM di Fakultas Ilmu Budaya yang dikenal juga sebagai kritikus sastra, Fajar Soeharno seorang pengatur lakon, Haris Kertoraharjo dari Sanggar Matematika Budaya, seorang penyair yang sekaligus juga pengusaha, ketiganya pernah aktif di Bengkel Teater Yogyakarta, dan seorang penyair muda, Raudal Tanjung Banua, pengelola Komunitas Rumah Lebah, yang pernah dikunjungi WS Rendra sebelum kematiannya.

Pembacaan puisi, selain DS Priyadi,  turut tampil pula Herman Aga, Hari Leo, nurul Hadi, dan mantan istri WS Rendra ialah Sitoresmi Prabuningrat.

Sedangkan kelompok musik yang berpartisipasi adalah  Sabu dari Yogyakarta yang dikoordinir oleh Untung Basuki yang membawakan tiga lagu dari puisi Rendra, Balemong dari Ungaran dengan membawakan lagu-lagu bertema pedesaan dan Kepal SPI dengan empat lagu bertema sosial.

Acara ditutup oleh Emha Ainun Nadjib ketika waktu telah menunjukkan lebih dari jam 12 malam. Cak Nun, demikian panggilan akrabnya, yang dikenal juga sebagai Kyai Mbeling, seperti biasanya menyoroti berbagai persoalan dengan komentar-komentar pedasnya yang menyegarkan. “Kita tidak perlu mendoakan Rendra masuk surga, karena yakinlah Rendra pasti masuk surga.  “Kita tidak perlu mendoakan Rendra masuk surga, karena yakinlah Rendra pasti masuk surga”.

Cak Nun mengusulkan untuk peringatan tiga tahun WS Rendra, acara dibuat lebih besar, misalnya dua hari. Hari pertama terkait dengan pemikiran-pemikiran WS Rendra seputar masalah budaya, ekonomo, dan politik serta progresifitas Rendra dan hari kedua mengkaji spiritualitas Rendra.

Sebelum menutup dengan doa, Cak Nun membacakan puisi yang diakuinya baru saja dibuatnya sebelum acara. Sepenggal puisi yang dibacakannya:

”Rendra yang kami cintai, berpindah rumahnya
Dari penglihatan dan pengetahuan
menuju rumah sejati abadi yang benama makna, keyakinan dan cinta
Kemarin selama dia hidup kami selalu melihatnya
sehingga tidak sanggup memaknainya
Kemarin kami sibuk bersombong  merumuskan pengetahuan tentang Rendra
sehingga terbentang jarak untuk mampu mencintainya
Kemarin bersamanya kami semua terpenjara oleh eksistensi dan kepentingan
sehingga menjadi terlalu bodoh untuk menemukan keyakinan tentang roh Tuhan yang bersemayam di dalam jiwa puisi-puisinya”

Acara yang dihadiri ratusan seniman, penikmat seni, mahasiswa, dan dari berbagai unsur lainnya, tampak terlihat anak-anak Rendra, para mantan anggota Bengkel Teater, Djoko Pekik, Indro Tranggono, dan Totok Raharjo.

Yogyakarta, 8 Agustus 2011

Foto WS Rendra di ambil dari SINI
Baca juga: Rendra di Mata Cak Nun

_______________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: