Tinggalkan komentar

Perempuan Bercadar Tanpa Jarak dengan Anak Jalanan

Odi Shalahuddin

Witri Jani

Perempuan bercadar itu, saya kenal pada pertengahan tahun 1990-an. Tapi sungguh, saya terlupa kapan pertama kali bertemu dengannya. Tapi yang pasti, setiap bertemu dengannya, selalu saja ada kejutan dan kekaguman di kepala. Sungguh luar biasa! 

Saya kira, para anak jalanan, khususnya di Yogyakarta pada periode itu mengenal secara baik sosoknya. Ya, ialah salah seorang pendamping anak jalanan yang senantiasa selalu bersama anak-anak yang tergabung dalam anak Pinggir Kali atau lebih dikenal anak-anak GIRLI.

Informasi yang pernah saya terima, ia kuliah di Universitas Diponegoro dan merencanakan mengambil skripsi tentang anak jalanan di Yogyakarta.  Berangkatlah ia ke Yogya dan bergabung dengan GIRLI. Penelitian terlibat. Lama-lama jatuh cinta dan tak lepas dari kehidupan anak-anak jalanan.

Pada masa itu, resiko sebagai pendamping anak jalanan sangat tinggi. Bukan lantaran hanya karena beraneka karakter anak jalanan yang dijumpai dengan masalah-masalahnya yang pelik. Misalnya saja bagaimana mengurus pemakaman seorang anak jalanan yang tewas terbunuh sebagai korban salah sasaran dari pertikaian antar preman, mayatnya terbaring di rumah singgah berhari-hari lantaran tidak ada ijin untuk menggunakan tanah pemakaman kampung. Belum lagi kasus anak Girli yang diculik dan tewas oleh mafia asuransi. Nah, selain itu, kelompok anak jalanan dan para pendampingnya menjadi salah satu sasaran pengawasan yang ketat dari kekuasaan. Para pendamping Girli berulang kali harus berurusan dengan aparat keamanan, ditanyakan motivasi, dilacak latar belakangnya, dan diawasi kegiatannya.

Penerbitan buletin dengan karya anak jalanan, berulang kali berganti nama. Satu kali terbit, langsung dibredel, ganti nama lagi, dibredel lagi. Sungguh, suara-suara dari bawah memang tidak boleh muncul. Perempuan bercadar itu hadir pada masa-masa seperti itu dan dengan tegar mampu bertahan hingga bertahun-tahun.

Berikutnya saya mendengar ia ke Medan, masih bergabung dengan Organisasi Non-Pemerintah yang bekerja untuk anak jalanan. Mendapatkan jodoh di sana, menikah, dan memiliki anak. Berikutnya pindah ke Surabaya, masih mengurusi soal anak jalanan, tapi dengan posisi berbeda, yaitu mendampingi ornop-ornop yang bekerja untuk anak jalanan di berbagai kota. Berikutnya berubah isu menjadi isu perdagangan anak. Kini ia bertanggung jawab lagi untuk mendampingi dan memberikan dukungan kepada Ornop dan pemerintah daerah khususnya di DIY dan Jawa Tengah untuk isu anak jalanan dan anak-anak korban eksploitasi seksual komersial.

Selama tiga hari kemarin saya bertemu dengan dirinya dalam salah satu workshop yang terkait dengan anak jalanan. Saya sempat menyatakan ingin menyusun profilnya. Ia hanya tertawa saja. ”Wah, susah kalau ngomong sama Odi, pasti nanti jadi tulisan,” komentarnya.

Sungguh, saya berniat ingin menuliskan profilnya. Berharap ada kesempatan untuk berbincang banyak tentang latar belakangnya, pengalamannya, pikiran-pikirannya dan harapan-harapan masa depan khususnya terkait dengan kehidupan anak-anak.

Oh, ya, Witri Jani, itu nama yang kuketahui. Lengkapnya? Nah, itu nanti harus saya tanyakan lagi.

Yogyakarta, 21 Juli 2011

________________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: