Tinggalkan komentar

Penelitian Berdasarkan Fakta Dianggap Menipu

Sebelumnya saya mohon maaf kepada seluruh kompasianer. Sungguh, saya menulis secara serius tentang fakta yang ada dan lekat dalam kehidupan kita berkompasiana. Saya tidak menulis sesuatu yang mengada-ada. Saya mengadakan riset super kecil. Walaupun saya sadar riset itu belum memenuhi kaidah dan standar minimal sebagai studi ilmiah, namun hasilnya saya berani untuk mempertanggungjawabkannya.

Saya mencari data yang saya yakini sebagai data yang tidak diragukan validitasnya, menyebutkan sumber datanya, menarasikannya, dan sebagai peneliti saya berani untuk mengambil kesimpulan yang saya yakin tidak bisa terbantahkan, walaupun sekali lagi riset ini belum memenuhi standar sebagai studi ilmiah.

Sebelum saya melakukan riset kecil, saya memiliki asumsi. Asumsi inilah yang saya buktikan. Sebelum menuliskan laporan singkat hasil penelitian, saya juga memiliki asumsi tentang reaksi yang akan muncul ketika hasil penelitian super kecil ini dipublikasikan.

Asumsi saya kembali terbukti. Hasil penelitian super kecil ini, yang didasarkan pada data dan fakta-fakta valid yang bersifat tidak tunggal, dengan membuat perbandingan dengan data/fakta lain, oleh karenanya bisa menjadi sah, tetap dianggap sebagai sesuatu yang main-main. Lebih dari itu, bahkan dianggap sebagai penipuan.

Ya, itulah yang terjadi ketika saya membuat penelitian super kecil tentang siapa kompasianer yang paling banyak menduduki peringkat Headline sehingga layak dijuluki sebagai Raja Headline yang saya posting di Kompasiana tercinta ini, pada tanggal kemarin yang baru melewati jam. Saya kira seluruh komentar yang hadir merasa dirinya tertipu atas hasil penelitian super kecil ini. Atau menganggap tulisan itu main-main.

Sungguh, saya menuliskannya secara serius. Mengingat saya punya asumsi atas reaksi yang akan muncul dari hasil penelitian super kecil ini, saya membuat pengamanan untuk mengurangi reaksi yang berlebihan, yaitu kalimat penutup dalam tulisan (He..he..he..he..he. Jangan marah ya) dan kalimat selepas tanggal (tulisan iseng pengusir gundah).  Kalimat yang bisa mengendorkan urat syaraf bagi pembaca penelitian ini yang merasa kecewa atau bahkan merasa dirinya tertipu, dan menganggap bahwa tulisan hasil penelitian berdasarkan fakta sebagai humor belaka.

Berdasarkan pengalaman ini, saya memiliki dasar untuk merespon opini dari seorang (calon) doktor dengan mengacu kepada hasil penelitian super kecil dengan data dan fakta yang bisa diverifikasi kebenarannya, dengan menyatakan bahwa perasaan orang yang merasa tertipu, belum tentu dikarenakan karena ia dihadapkan pada sesuatu yang bersifat fiktif apalagi – bila terkait dengan tulisan – fiksi.

Pertanyaan kemudian yang layak dikemukakan adalah mengapa seseorang bisa merasa dirinya tertipu ?

Ini bisa menjadi bahan diskusi kita bersama. Akan lebih mudah mengeksplorasi gagasan mengingat kita sudah mengalami perasaan semacam itu. Bukankah begitu para kompasianer ?  (Odi Shalahuddin)

Yogyakarta, 25 Mai 2011

_________________________

Komentar-komentar:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: