5 Komentar

Tamkesi, Desa Adat yang Masih Bertahan

Oleh:  Odi Shalahuddin

Kunjungan, walau tak sampai satu jam ke Tamkesi, sebuah perkampungan tua di Kefamenanu yang telah ditetapkan sebagai salah satu Desa Adat oleh pemerintah setempat, sangat berbekas sekali pada diriku. Perjalanan yang mempesona dengan pemandangan yang sangat indah sekaligus menegangkan karena harus melalui jalan berliku dengan laju motor yang sangat cepat untuk mengejar tidak sampai kemalaman saat tiba di sana. Itupun sudah pukul enam kurang lima menit kukira, ketika tiba di sana. Gelap sudah menyambut, dan sekitar pukul 18.25, kami segera bergegas pulang agar tidak kesulitan menempuh perjalanan dalam kegelapan di jalan perbukitan yang masih berjalan tanah, dan di beberapa penggal jalan sudah rusak. Waktu yang singkat, membuatku tidak bisa bertanya banyak pada para penghuninya tentang sejarah dan perkembangan desa tersebut yang konon telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Rasa penasaran ini, akhirnya saya mencoba mencari bahan-bahan bacaan mengenai Tamkesi untuk melengkapi dan memperkaya tulisan ini.

Tamkesi yang berjarak sekitar 60 km dari Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kampung ini secara administratif masuk ke dalam wilayah desa Tautpah. Kita akan melewati jalan Lintas Timor yang akan menghubungkan Kefamenanu ke Attambua (ibukota Kabupaten Belu). Pada persimpangan Nunbai, kita akan berbelok ke kiri, dan masih menempuh sekitar 20 km lagi. Kita akan melewati perkampungan, termasuk perkampungan yang dibangun oleh para pengungsi dari Timor Leste, areal pertanian, hutan-hutan, dan naik-turun perbukitan. Jalan di sini sudah beraspal, walau pada beberapa bagian sudah banyak yang rusak, dan selanjutnya, akan melewati jalan tanah. Jalan yang akan mudah dilalui bila cuaca cerah. Bila hujan, maka tampaknya tidak akan mungkin mencapai Tamkesi dengan mudah bila tetap nekat mengunjunginya.

Kendaraan roda empat tampaknya akan lebih sulit untuk bisa mencapai bawah bukit Tamkesi. Seorang kawan yang pernah berkunjung ke sana sebelumnya, harus turun dari mobil dan berganti ojek agar bisa mencapai Takemsi.

”Tapi ini sudah lumayan, sudah banyak jalan yang diaspal lantaran ada seorang pejabat Pemerintah Kabupaten yang asalnya dari desa sini,” kata James, seorang kawan yang mengantarkanku ke Tamkesi.

Walau medan sulit, tapi bila berkesempatan ke sana, kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Apalagi di tahun 2010 banyak hujan, sehingga bukit-bukit di sana tampak terlihat hijau. Maka beruntunglah diriku.

Tamkesi dulunya merupakan pusat kerajaan Kerajaan (Sonaf) Biboki. Sebelum di Tamkesi, Sonaf Biboki berpusat di Desa Oepuah (daerah Wini) yang bernama “Kolan Ha Siun Ha”. Sudah enam orang raja yang menempati Sonaf Tamkesi. Dua raja yang terakhir sudah tidak menempati Sonaf Tamkesi. Hal ini terjadi setelah kemerdekaan Indonesia dan sistem Pemerintahan Swapraja diganti dengan sistem pemerintahan yang baru. Namun hingga saat ini masih sering dilangsungkan upacara-upacara adat di tempat ini.

Kampung Tamkesi ini terletak di antara dua buah gunung batu yang dianggap kembar yaitu Gunung Oepuah dan Gunung Tapenpah. Gunung ini melambangkan dualisme kosmis dan dimanifestasikan dalam berbagai hubungan. Gunung di sebelah timur dianggap sebagai sisi lelaki dan bayang-bayang lelaki. Sedangkan yang di bagian barat lambang sisi wanita dan bayang-bayang wanita. Keduanya membentuk pah nitu (tanah air) yang dipercaya sebagai tempat asal usul.

Dinding tebing yang tersusun dari bebatuan yang rapi, dibuat sudah ratusan tahun yang lalu. Pemukiman Tamkesi dikelilingi benteng lapis tiga. Pembuatan benteng untuk mempertahankan keser/raja mereka dari jangkauan musuh (Belanda dan Jepang). Di lokasi ini terdapat banyak tempat yang masih keramat, digunakan untuk upacara adat dan religi.

Di bagian timur di bagian kaki Tapenpah tinggal lelaki yang memegang kekuasaan seluruh kerajaan. Sebagai representasi lelaki yang aktif di sisi pusat. Ia yang pergi menjelajah keluar (mone) dan ia yang bertugas mempertahankan tanah air serta memimpin penyerangan.

Pada bagian lain ada sonaf induk yang disebut Neno Biboki (surga Biboki) merupakan bangunan paling sakral dan menjadi sumber kekuataan penguasa dan menjadi dasar pembinaan solidaritas wilayah kerajaan. Bangunan ini terletak pada bagian paling tinggi yang ada pada bagian barat. Sedangkan sonaf-sonaf lain antara lain : Sonaf Namnu, Sonaf Unu, Sonaf Nana (ditengah), Sonaf Uskenat dan Sonaf Sul Nuaf (paling bawah).

Di bukit Tamkesi terdapat beberapa istana/sonaf. Bangunan dari bawah bukit sampai ke atas sebagai bangunan berunduk terdiri dari tujuh tingkatan. Ketujuh tingkatan tersebut adalah :

1. Tangga lopo Ksalna sebagai tempat Tasanut Kap Naijuf

2. Sonaf Muni Naijufkole

3. Sonaf Nai Ha-Mone Ha (unsur pemerintah eksekutif)

4. Sonaf Ana Leu, Neno Biboki-Funan Biboki In maen’na

5. Sonaf Uskenat (juru bicara raja)

6. Lopo Tainlasi-Lopo Taitoni (tempat musyawarah)

7. Pupna (puncak) disini ada tujuh bangunan

Tujuh bangunan yang berada di Pupna itu yakni

1. Paon Leu

2. Neno Biboki

3. Lopo Hau

4. Lopo Tasu Nai Bukae

5. Soan Bes’se

6. Soan Unu

7. Fatu Sonbai (tugu peringatan) Neno Biboki-Funan Biboki dengan Sonbai

Anak tangga berjumlah tujuh juga dianggap merupakan simbol tujuh rahmat Tuhan yang harus dilestarikan karena merupakan sumber hidup masyarakat. Ketujuh rahmat dimaksud merupakan bahan makanan pokok masyarakat berupa padi/jagung, sayuran, buah-buahan, ubi, tanaman obatan, dan tanaman untuk pakaian. Terakhir adalah hewan piaraan, seperti kerbau, sapi, ayam, dan babi.

Rumah-rumah yang ada di kampung ini seluruhnya masih dalam bentuk rumah tradisional Timor yang berbentuk bulat, dengan atap ilalang yang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai. Sebelum berkunjung ke Tamkesi, aku sempat melihat rumah-rumah semacam ini di beberapa desa. Dami, ketua LPA TTU yang mendampingi diriku sebagai penterjemah selama keliling desa menyatakan bahwa sejak tahun 70-an, rumah-rumah tersebut sudah berubah fungsi tidak lagi sebagai tempat tinggal, namun hanya digunakan sebagai dapur dan sebagai tempat menyimpan hasil panen. Sedangkan sebagai tempat tinggal dibuat bangunan baru berbentuk rumah dengan atap ilalang dan dinding dari pelepah daun nira. (sekarang sudah banyak yang menggunakan atap seng).

”Rumah semacam itulah yang dulu sempat diributkan dianggap bukan sebagai rumah sehat,” tambah Mus, seorang kawan yang bekerja di lembaga internasional yang menangani anak-anak dan baru kuketahui juga sebagai Kompasianer.

Jumlah rumah menurut Philipus, salah seorang penghuni kampung Tamkesi, tidak pernah dan memang tidak boleh ditambah, sehingga jumlahnya tetap sejak perkampungan ini didirikan. Pendirian rumah tidak menggunakan paku, melainkan menggunakan ikat rumput. Bila ada bangunan yang rusak, untuk memperbaikinya, akan dilakukan suatu upacara terlebih dahulu.

”Pondasi bangunan, kita gali tidak dalam, tapi kuat, tidak goyah diterpa angin kencang,” terang Philipus.

Ada 14 KK yang menghuni kampung ini. Anak-anak mereka, sebagian tinggal di kampung  yang terletak di lereng bukit (sekitar 1 km) dari Tamkesi, yang dibangun oleh Dinas Sosial. Keunikan-keunikan kampung tua Tamkesi ini konon sudah terkenal di seluruh dunia. Banyak orang tertarik untuk mengunjunginya, walau medan perjalanan sangat sulit. Sekali lagi, saya merasa beruntung bisa menikmati kampung ini beserta perjalanannya, walaupun hanya sejenak. Tentu saya harus berterima kasih kepada rekan James, Robby, dan Alfin, yang telah mengantarkan saya hingga bisa mengunjunginya. Semoga ada lain waktu berkunjung dan menikmati lebih lama di Tamkesi.

Baca Juga tulisan perjalanannya:

Berkunjung Ke Kampung Tua di Kefamenanu, klik di SINI

Sumber bacaan:

  1. Kampung Kuno Tamkesih, lihat DI SINI 
  2. Mengenal Istana Kamtesi, Kupang Post, 29 Agustus 2010 (lihat DI SINI)
  3. Suyanto, ”Profil Pranata Sosial di Daerah Komunitas Adat Terpencil (Studi Kehidupan Sosial di nusa Tenggara Timur, dalam JurnalJurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 26-39 (lihat DI SINI)
Iklan

5 comments on “Tamkesi, Desa Adat yang Masih Bertahan

  1. saya mau pemerintah setempat secepatnya menyiapkan sarana – sarana seperti bus wisata sehingga memudahkan
    wisatawan yg ke tmpt trsebut,memperbaiki jlan yg rusak itu,menyiapkan wc umum,serta air sehingga masyarakat setempat sllu menjga lingkungan sekitar.

    saya akan terus mendukung setelah saya selesai studi di jakarta.terima kasih.

  2. saya mohon bantuan untuk menyusun skripsi kedepannya dan judul skipsi yg sya ambil adalah membangun obyek wisata di kabupaten TTU.

  3. bung odi shalahudin tolong share lagi materi tentang tamkesi..jika ada gambar tolong disertakan. thanks before.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: