4 Komentar

Berkunjung ke Kampung Tua di Kefamenanu

Oleh:  Odi Shalahuddin

Ini kali kedua aku berkesempatan mengunjungi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Pertama kali aku ke kota ini sekitar bulan Maret 2009 selama empat hari. Kini bisa lebih panjang, selama delapan hari. Hal yang menyenangkan, ada jadwal kosong satu setengah hari, yang kupikir bisa kugunakan untuk mengenali beberapa tempat di Kefamenanu.

Sayang, pada hari ketiga terkena flu membuatku harus istirahat semalaman. Dampaknya, laporan harian perjalanan melakukan wawancara dengan anak-anak, pemerintah desa, tokoh-tokoh masyarakat dan lembaga di desa yang bergerak di bidang perlindungan anak, menjadi tertunda, dan bertumpuk dengan kegiatan hari selanjutnya. Seakan lenyaplah kesempatan untuk jalan-jalan. Waktu kosong pastilah akan terisi dengan pekerjaan menyusun laporan.

Namun pada hari Sabtu, selepas melakukan wawancara dengan beberapa orang dari instansi/institusi di tingkat kabupaten, seorang kawan menawariku mengunjungi satu tempat yang menurut mereka sangat unik: Tamkesi.

”Ini desa adat yang sudah ada sejak jaman batu. Rugi kalau tidak ke sana,” James, melontarkan tawaran.

Semula aku ragu, khawatir tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tapi pada akhirnya setuju. Sekalian refreshing.

Maka berangkatlah kami berempat, Aku, James, Robby dan Albert, sekitar pukul empat sore, menggunakan dua buah motor menuju Tamkesi yang jaraknya sekitar 60 km. Kami melalui jalan propinsi yang menghubungkan ke Attambua yang menjadi perbatasan RI dengan Timor Leste.

Setelah melalui desa Tapenpah, yang sehari sebelumnya kukunjungi, kami berbelok ke arah kiri dan menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar. Melewati perkampungan, melewati lahan pertanian, melewati hutan-hutan, dengan jalan berkelok-kelok, menanjak dan menurun. Beberapa kali kami melewati jalan aspal yang rusak, atau jalan bertanah. Ngeri juga hati ini. Berada di boncengan motor yang melaju kencang. Sampai leher jadi menegang.

Pemandangan terlihat indah setelah berada di daerah tinggi. Terlihat lembah, bukit-bukit di kanan kiri, dan samar terlihat lautan. Angin bertiup sangat kencang sekali. Aku minta berhenti, mencoba mengabadikan pemandangan dalam kamera.

”Nanti akan ada tempat yang sangat menarik untuk berfoto. Masih di atas sana,”  seru James dan Robby.

Benar, setelah melaju kembali, kami sampai di sebuah tempat yang datar di atas bukit. Pemandangan yang kurasa baru kali pertama aku nikmati. Matahari sore yang menghujam lepas, angin yang melaju kencang dan hampir menjatuhkan motor yang kami parkir namun beruntung kami sempat menahannya dan mengganti posisi parkir, lembah dan bukit yang menghijau. Aku terkesima. Sulit mencari kata-kata untuk menggambarkannya. Terasa lepas seluruh beban dalam kepala.

Tiba-tiba saja aku teringat akan Desa Rangkat, desa imajinasi, yang terbangun seluruh ruang-ruangnya dalam imajinasi para Rangkater. Teringat pula pesan dari kawan Hikmat Nugraha agar aku bisa mengabadikan banyak pemandangan yang indah selama perjalanan ke NTT. Sayang, ini memang banyak terlewatkan, selain kamera yang terbatas untuk mengabadikannya. Ah, tampaknya seperti inilah desa imajinasi, yang kutemukan dalam realitas nyata.

Kami melanjutkan perjalanan lagi.

”Masih jauhkah?” tanyaku pada James.

”Di balik bukit itu?”

Ah, masih jauh, bila kulihat ke arah mana ia menunjuk. Jadi kami harus masih menaiki bukit lagi, menuruni bukit dan naik kembali. Ada kecemasan, ada rasa penasaran dan ada rasa senang. Bercampur jadi satu.

Melanjutkan perjalanan, bertemu dengan gerombolan kuda-kuda. Di sisi-sisi bukit, kadang melintas jalan bertanah ini. Sampai di satu jalan mendaki, aku memutuskan untuk turun, karena jalan rusak, dan hanya ada jalan setapak di sebelah kiri, dengan jurang di sisinya. Kawan yang lain tetap nekat berboncengan naik ke atas. Kuakui aku tidak memiliki kenekatan.

Setelah mendaki, kami menurun kembali walau tidak curam, dan memasuki daerah dimana pohonan rimbun berada di sisi kanan-kiri. Kira-kira seratus meteran panjangnya. Seperti pintu gerbang memasuki Tamkesi.

”Ya, seperti pintu gerbang,” kata James membenarkan komentarku.

Sekitar 500 meter dari situ, barulah kami sampai di bibir perkampungan Tamkesi. Ada bukit batu di sisi kanan, dengan pepohonan yang rimbun. Kami harus berjalan kaki ke atas dengan jalan yang berbatu. Terasa segar, dan terasa ringan kaki melangkah mendaki.

Sampai di atas, ada tiga bangunan yang kami temui. Di sebelah kiri ada sebuah rumah adat yang disebut Ume berbentuk bulat dengan rangkaian ilalang sebagai atapnya, pintu pendek dan untuk memasukinya harus berjongkok. Ini adalah rumah tradisional di Timor yang masih bisa ditemukan, namun tidak berfungsi sebagai rumah lagi, melainkan sebagai dapur. Di tengah area ini ada bangunan lapo yaitu bangunan yang biasa ada di rumah-rumah penduduk sebagai tempat menerima tamu atau juga dijadikan sebagai tempat untuk musyawarah desa. Di depan kami ada satu lagi rumah yang dihuni oleh warga setempat.

Seorang perempuan menyapa kami.

”Bayar buka pintu. Nanti di atas bisa mengisi buku tamu,” katanya.

”Loh, biasanya tidak, bu. Berapa?”

”Lima puluh ribu,”

Tanpa menanyakan lebih lanjut, Robby mengeluarkan uang dari dompetnya. ”Biar saya saja yang bayar, Mas”

Setelah itu kami naik ke atas lagi, melewati beberapa rumah yang masih berupa bangunan tradisional, hingga hampir di puncak. Satu bangunan adat yang berada di puncak tampak tinggal puing-puing.

Inilah kampung Tamkesi, yang diakui sebagai desa adat. Kampung yang berpenghuni sebanyak 18 KK, yang telah ada turun temurun sejak ratusan tahun lalu. Bangunan-bangunan yang ada tetap sama dan tidak boleh bertambah. Banyak penghuninya, yang telah tinggal membangun perkampungan di bawah kampung Tamkesi.

Seorang lelaki tua dan seorang perempuan setengah baya tengah berada di lopo tengah menghangatkan tubuh mereka dengan menyalahkan kayu bakar di tengah-tengah Lapo. Aku mendekati mereka, ikut duduk dan menawarkan rokok kepada lelaki tua itu. Seorang kawan melontarkan pertanyaan dengan bahasa Dawan. Aku ragu untuk menyapa dan bertanya, namun ketika mengajak bicara dalam bahasa Indonesia, mereka lancar menjawabnya.

”Kampung ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu,” kata lelaki tua bernama Philipus ini. ”Jumlah rumah yang ada, tidak boleh ditambah. Ya, hanya yang ada di seputaran sini. Bangunan didirikan tanpa paku, hanya diikat dengan rumput. Lapo ini (menunjuk bangunan dimana kami duduk di dalamnya), pondasinya juga tidak dalam, tapi biarpun angin kencang, tidak goyah.”

Kuakui, angin kencang yang selalu berhembus, memang tidak membuat bangunan di sini bergoyang. Padahal bila dilihat, tampak seperti kurang kokoh.

”Ada tiga rumah adat di sini, di bawah, sebelum lopo, di situ, dan ada satu lagi di belakang yang sama sekali tidak boleh dimasuki dan difoto,” jelasnya lagi. Ia sebenarnya menyebutkan nama tiap rumah ada dan fungsinya. Saya aku tidak membawa kertas dan ballpoint untuk mencatatnya.

”Halaman ini, kelihatan kecil tapi bisa menampung berapapun orang yang datang,” perempuan setengah baya itu turut menjelaskan. ”Setiap ada yang datang, bisa masuk dan selalu ada ruang kosong untuk diisi lagi,”

Aku lihat halaman ini memang tidak terlalu luas. Kuperkirakan tidak lebih dari 60 meter persegi. Masak bisa menampung ratusan orang?

”Tapi benar Mas,” James kemudian menjelaskan. ”Saya pernah menyaksikan sendiri ketika ada suatu upacara yang dihadiri oleh keluarga kerajaan, tokoh-tokoh adat, bupati, dan aparatnya, serta masyarakat di sekitar sini, ratusan orang jumlahnya, semua bisa tertampung di halaman ini. Setiap ada yang datang, ditambah kursi, selalu ada ruang. Saya juga tidak tahu kenapa,”

Sayang, kami datang sudah sangat sore. Sekitar jam enam kurang sedikit. Gelap sudah merangkak. Kawan-kawan sudah mengajak pulang. Aku sendiri juga khawatir mengenai perjalanan yang ”mengerikan” menurut ukuranku. Ya, sebelum gelap berkepanjangan, harus segera bergegas, setidaknya bisa menyebrangi bukit dan tiba di jalan aspal.

”Seharusnya memang dari pagi atau siang ya, ke sini. Biar puas menikmati dan mengetahui lebih banyak tentang Kamtesi,”  ujarku sambil menuruni tangga berbatu.

Yogyakarta, 2 Pebruari 2011

____________________________

Selanjutnya lihat tulisan:

Tamkesi Desa Adat yang Masih Bertahan, Klik di SINI

Iklan

4 comments on “Berkunjung ke Kampung Tua di Kefamenanu

  1. Mas Odi, sedikit koreksi ya. Dalam tulisan disebut LAPO. Yang benar adalah LOPO yakni bangunan bulat bertiang 4. bangunan ini multifungsi, sebagai tempat pertemuan, kumpul keluarga dan juga sebagai lumbung tempat menyimpan stok pangan.

  2. mas, Alvin (?) nama sebenarnya albert

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: