Tinggalkan komentar

Saya Penulis Gagal

Oleh:  Odi Shalahuddin

Pengakuan. Jujur. Harus saya katakan padamu. Daripada mengganjal di hati. Membawa beban pada perjalanan waktu. Menjadi sosok semu. Terlena. Lupa diri. Bisa tersesat jadinya. Maka jalan terbaik adalah membuat pengakuan. Pengakuan sebenar-benarnya kepadamu.

Sungguh. Ini harus disampaikan. Sebagai syarat utama, maka saya pertegas tentang kondisi saat ini. Saya berada dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya. Saya tidak berada dalam pengampuan. Tidak dibawah pengaruh alkohol yang bisa mempengaruhi tingkat kesadaran saya. Tidak dibawah tekanan untuk mendapatkan bukti pernyataan. Sama sekali tidak. Sungguh. Sekali lagi harus ditegaskan.

Saya akui bahwa kehadiran awal saya di kompasiana benar-benar untuk belajar menulis. Kalaupun toh pada masa lalu pernah aktif menulis, menulis fiksi dan artikel, banyak termuat di berbagai media nasional dan lokal, tapi setelah lebih dari lima belas tahun, pastilah telah menjadi tumpul. Jadi harus memulai dari awal lagi. Belajar menulis lagi.

Awalnya, saya melakukan kecurangan-kecurangan dengan memposting tulisan-tulisan lama. Tulisan awal tahun 90-an yang masih terselamatkan. Ini semata-mata agar bisa menjadi pemacu semangat. Biar kelihatan produktif. Sehingga tertantang untuk terus menulis. Saya memang terus berusaha menulis. Tulisan-tulisan pendek. Tidak bermutu. Tapi yang penting bisa terus memposting.

Ah, saya bahagia, pada akhirnya, saya mendapatkan ketrampilan seperti dulu. Menulis apa yang mau ditulis. Saya merasa lancar. Tidak terganggu dengan situasi apapun. Pada saat pertemuan misalnya, setengah mencuri, kalau ada ide berkelebat, langsung saja saya tuangkan. Bila ada akses internet, langsung saja saya posting ke kompasiana ini.

Kebiasaan buruk sejak dulu. Saya selalu menulis sekali jadi. Tidak pernah mengkoreksi. Kecuali memeriksa apakah ada kesalahan penulisan dan tanda bacanya. Begitulah.

Tema tulisan, saya memulai dari apa yang dekat dengan persoalan yang saya kuasai. Tidak muluk-muluk. Menulis saja. Menulis sehingga pada akhirnya bisa lancar. Akhirnya, lahirlah tulisan yang benar-benar baru. Tulisan-tulisan lama saya stop untuk diposting.

Ketika tulisan untuk pertama kalinya menjadi Headline. Jujur, saya merasa sangat senang sekali. Tapi saya belum merasa terganggu. Ketika kemudian menjadi sering. Baru saya merasa terganggu. Di bawah alam sadar ada obsesi agar tulisan-tulisan yang tercipta bisa menjadi Headline. Ini bahaya!

Saya sadari bahwa ini tidak sehat bagi saya. Ada ketakutan. Bayang-bayang ketakutan yang bisa jadi saya ciptakan sendiri. Lantaran itulah, saya berusaha menghindari menulis sesuatu yang saya nilai berpotensi menjadi Headline. Bukan mengharamkan pada diri saya sendiri untuk menulis hal semacam itu, yaitu Reportase.

Memasuki tahun 2011, saya malah banyak berkutat pada tulisan fiksi. Selanjutnya tulisan yang saya sebut sebagai ocehan-ocehan, lebih saya pilih. Sesekali reportase apabila saya anggap penting untuk diketahui atau untuk berbagi. Beruntung pula, pada perubahan kompasiana, muncul sub-rubrik baru yaitu catatan harian. Ah, ini merupakan wilayah bebas. Wilayah merdeka untuk menulis tentang apa saja.

Tapi dasar saya manusia biasa. Kembali obsesi muncul di benak saya. Saya berobsesi untuk menulis suatu persoalan dengan mengutip narasumber dari masyarakat kebanyakan. Dari orang-orang biasa. Dari kawan-kawan. Itu saya mulai. Beberapa kawan sempat mengolok saya. “Awas, hati-hati. Kalau berbicara dengan Odi, nanti akan jadi tulisan,”

Saya berusaha menghindari sebisa mungkin untuk tidak mengutip pemikiran-pemikiran “orang besar”. Saya hanya belajar memahami pemikiran mereka. Mengkaitkan dengan situasi nyata. Mendengarkan pandangan “orang-orang biasa”, memaknakannya, kemudian membahasakan ke dalam tulisan. Tapi untuk inipun saya akui saya gagal. Pada perjalanan, misalnya pada tahun ini saja, saya gagal untuk menampilkan suara-suara para petani yang mensikapi hidupnya dengan menggunakan nilai-nilai tertentu yang sudah melekat menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat desa. Saya gagal menampilkan suara-suara dari para tukang becak yang dulu pernah akrab dan menjadi bagian dari hidup saya. Saya gagal menampilkan suara-suara para buruh. Saya gagal menampilkan suara-suara dari orang-orang yang tersisihkan. Pengecualian, saya masih berkesempatan berdialog dengan anak-anak jalanan dan anak-anak yang berada di prostitusi karena kebetulan beberapa pekerjaan di tahun ini banyak bersentuhan dengan mereka. Kesempatan yang terbuka lebar bisa bertemu dan bersapa serta berdiskusi di berbagai kota. Selanjutnya, saya merasa ”sok” menyuarakan suara-suara yang seolah-olah merupakan aspirasi dari ”masyarakat tersisih”. Ah, sungguh saya merasa bersalah dalam hal ini. Merasa sebagai salah satu bentuk kesombongan saya.

Rasa geram lahir pula atas kesombongan diri. Pernah di awal April 25 tulisan yang diposting berurutan, hanya dua yang sempat bertengger di highlight, selebihnya hanya lewat. Ini mengakibatkan hati saya merasa galau. Kesombongan dan harga diri bergejolak. Apakah tulisan saya dianggap tidak bermutu? Sampai akhirnya saya membuat tulisan cengeng: Maaf, Tulisan saya tidak layak.

Berangkat dari pengalaman berkompasiana sejak Juli 2010, maka saya sampaikan kepadamu, para kompasianer. Saya adalah penulis gagal. Penulis yang tidak berhasil mewujudkan obsesinya. Menulis dengan angkuh dan sombong seolah-olah saya adalah orang yang bijak. Seolah-olah saya bisa menjadi rujukan bagi nilai-nilai tertentu. Sungguh. Saya merasa tersika oleh beban semacam ini.

Saya adalah manusia sempurna. Karenanya memiliki banyak kesalahan dan kelemahan. Jujur. Ini saya akui. Saya sampaikan kepadamu. Agar engkau, sebagai seorang kawan, sebagai seorang sahabat, sebagai seorang guru, dapat menjewer saya apabila saya masih melakukan kesalahan-kesalahan serupa atau terjebak pada kesombongan. Saya yakin, saya bukanlah apa-apa. Maka jeweran dari rekan semua akan menjadi bagian dari kehidupan saya untuk senantiasa memacu memperbaiki diri.

Demikianlah pengakuan saya yang saya buat sejujur-jujurnya. Saya yakin pasti banyaklah yang terlewat. Bila teringat, akan saya tambahkan.

Terima kasih kepada semuanya. Janganlah lupa untuk selalu mengingatkan dan menjewer saya!!!

Yogyakarta, 24 Mei 2011

Sumber Gambar dari SINI

__________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: