Tinggalkan komentar

Ruang Merdeka di Kompasiana

Oleh:  Odi Shalahuddin

Saya mungkin bisa dikatakan penulis curang. Membuat tulisan sekenanya, tapi bisa berkelit dari kritik. Terus-terang itulah yang tengah dilakukan. Tapi jangan salahkan saya, karena memang ada ruang untuk hal semacam ini.

Admin Kompasiana memanglah bijak. Orang butuh curhat. Orang butuh mengoceh. Secara bebas. Sangat subyektif. Sebab yang diungkap adalah rasa, pikiran, prasangka, dan hal-hal yang memang subyektif sifatnya. Kebijaksanaannya adalah membuka ruang Catatan Harian, yang masuk dalam rubrik lifestyle.

Inilah ruang yang benar-benar saya suka. Apalagi bila kita memilih jenis tulisan berupa opini. Bicara bebas. Tak terarah. Berlompatan dari satu tema ke tema lain. Sehingga tak berlebihan bila disebutkan, inilah ruang merdeka di Kompasiana. Semua kompasianer bisa menulis. Tanpa perlu takut dipersoalkan tulisannya. Namanya saja catatan harian. Sama halnya kita menulis dalam diary kita. Cuma ini catatan harian yang terbuka. Siapapun bisa mengakses untuk membacanya. Tapi kukira, penulis catatan harian di sini tentulah bukan orang yang ngawur juga. Ia tak mungkin menuliskan dalam ruang ini pengalaman-pengalaman menikmati pemenuhan kebutuhan dasar sebagai manusia tadi malam tentang berhubungan seksual dengan pacar, istri atau selingkuhannya.

Catatan harian, berbentuk opini, apapun bisa dituliskan. Tanpa beban. Tanpa rintangan. Sungguh, benar-benar merdeka rasanya. Bila anda adalah perokok, di tengah pembatasan banyak ruang untuk bebas merokok, maka di sudut kecil yang pengab dengan asap yang menyergap, bisa terasa bagaikan di surga.

Maka, menulislah, jangan takut salah atau merasa serba salah. Bebas-bebas saja. Tidak akan ada gugatan. Namanya saja catatan harian. Opini lagi. Jadi subyektif. Ini perlu berulang dijadikan kesadaran. Hehe.h.e.he.h.e… Adalah kekonyolan bila pikiran subyektif diadili… Bukankah begitu pembelaan dirinya?

Di ruang ini, kita bisa sekaligus melatih cara kita menulis. Berulang kali saya pernah menyatakan: Menulis adalah kebiasaan. Jadi, ayo biasakanlah menulis. Sejauh jangan menggantungkan harapan bahwa tulisan kita akan dilirik admin untuk masuk highlight, apalagi headline, apalagi terekomendasi. Sekali lagi jangan berharap hal itu. Sebab ini ruang untuk melatih diri. Di ruang merdeka ini, cukuplah apa yang dirasa di hati, bisa tertuang dan terbagi. Siapa tahu bisa menginspirasi.

Ketika terbiasa, maka tulisan akan lancar-lancar saja, dan akan semakin bagus rasanya. Saat-saat itulah, kita bisa ke luar kandang, memasuki ruang-ruang luas melampaui pandang. Bersiap menulis secara tertata. Mengikuti logika sebuah tulisan ilmiah atau mengikuti logika tulisan jurnalistik. Bersiap pula untuk menerima masukan dan kritik. Bersiap pula untuk menerima berbagai pujian. Memang pujian tulus ataupun sekedar basa-basi sebagai sapa.

Yogyakarta, 18 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: