Tinggalkan komentar

Menulis Sajalah

Oleh:  Odi Shalahuddin

Apapun tulisan kita, tentulah akan memiliki pengaruh. Ia akan membawa berbagai rasa di dalam diri pembacanya. Baik atau buruk. Atau bercampur keduanya. Tidak sekedar hitam-putih. Tergantung dari sisi mana orang lain menilainya. Pandangan orang bisa berbeda-beda. Itulah sesungguhnya kekayaan kita sebagai manusia. Perbedaan yang bisa membuat dunia berkembang. Tapi bisa juga meruntuhkan tatanan. Mengelola perbedaan menjadi sebuah energi positif, tentulah itu yang diharapkan.

Ketika kita menulis. Tentunya ia tidak hadir dalam ruang kosong. Ada beragam referensi yang telah melekat dalam kepala. Baik berdasarkan pengalaman diri, mendengar, menyaksikan, maupun dari berbagai bahan bacaan. Keseluruhannya, bisa telah bertahun-tahun mengendap dan tersimpan dalam memori otak kita. Sehingga diluncurkan-pun bisa terasa lancar.

Menulis, setuju atau tidak setuju, pastilah tersimpan tujuan di dalamnya. Apapun itu. Kita tidak bisa memungkirinya. Tulisan yang sengaja kita buat agar orang-orang marah, orang-orang tersenyum atau bahkan tergelak, membuat orang merasa tersindir dan malu dengan sendirinya, atau apalah. Pastilah itu ada. Tersimpan di dalam kepala kita atau bisa pula tertuang bersama tulisan yang kita buat.

Kadang memang meleset dari tujuan. Tulisan yang kita buat agar orang-orang bisa tertawa, malah membuat orang-orang menjadi marah. Tidak percaya. Cobalah buat humor-humor rasis atau yang bersifat diskriminatif. Bila dahulu tidak menjadi persoalan, namun kesadaran baru yang berkembang pesat seperti konsep anti diskriminasi, keadilan jender, hak asasi manusia, penghormatan dan perlindungan terhadap difabel, telah menyebabkan pemaknaan juga mengalami perubahan. Pada beberapa komunitas, hal-hal tersebut tidak bisa ditolerir. Itu sah pula adanya. Sehingga bagaimana menempatkan diri pada situasi, menjadi salah satu pertimbangan yang layak pula kita lakukan.

Mengekang kemerdekaan kita sebagai manusia untuk berekspresi, menuangkan gagasan/pemikiran liar, yang menjadi hak mendasar manusia? Bisa ya, bisa pula tidak. Saya harus katakan, pasti itulah tergantung situasinya. Opportunis? Bisa ya bisa tidak. Kukatakan sekali lagi itu tergantung situasinya? Lho, mau jadi bunglon? Tidak juga. Hm, bagaimana ya? Tapi begini sajalah, kemerdekaan kita, pastilah dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Itu saja yang bisa menjadi batas atas kemerdekaan kita. Nah, bila ada yang bertindak otoriter untuk membungkam secara semena-mena kebebasan berekspresi, saya kira itu memang layak untuk dilawan bersama.

Loh, kok aku kok ngelantur sih. Sebenarnya ingin menulis apa sih? Ya, gak jelas juga. Yang penting aku lagi mencoba menulis. Begitu saja kok repot…!!! Nah, loh.. dah terpengaruh nih… Hi..hi..hi..hi..

Yogyakarta, 10 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: