Tinggalkan komentar

Maaf, Tulisan Saya Tidak Layak

Oleh:  Odi Shalahuddin

Memang saatnya untuk mengevaluasi dan merefleksikan diri. Saya percaya, pada suatu ketika, bila terlupa melakukannya, apalagi bila sudah merasa puas, seseorang akan dikejutkan bahwa dirinya ternyata tak bergerak kemana-mana.

Dunia terus bergerak, hampir setiap detik tercatat berbagai sejarah, dalam ruang yang semakin luas dan mudah. Ketika orang-orang mengabadikan lewat tulisan, kamera, dan film. Menyimpan untuk kebutuhan sendiri, sah-sah saja. Ingin menyebarluaskan dengan berbagai motif/kepentingan, sah pula adanya. Semua boleh dilakukan (memang siapa yang melarang?) dan mudah sekali melaksanakannya. Kita bisa memanfaatkan berbagai media yang tersebar dan banyak pula bisa menggunakannya secara gratis melalui peralatan yang juga tidak mahal dan tidak asing lantaran sudah menjadi keseharian dalam kehidupan kita, seperti HP dan internet. Jadi, jangan salahkan dunia, bila dirimu terhenti, atau diam dalam tidur, dunia terus bergerak.

Menulis, menjadi salah satu bagian dari pekerjaan untuk menghidupi keluarga. Menulis juga saya gunakan untuk bersenang-senang menyalurkan segenap ekspresi secara merdeka, dan menjadi bagian obat penghilang kepenatan. Pekerjaan dan hobi yang menjadi satu walau untuk kepentingan yang berbeda.

Maka ketika kepenatan terus saja menggelayut, sama halnya dengan para pekerja lain yang membutuhkan ruang lain, hobi yang akan lebih mengemuka. Itu juga terjadi pada diri saya. Apalagi sekitar 10 bulanan ini saya mendapatkan satu ruang yang bisa menjadi tempat untuk untuk memajang ekspresi yang sekaligus bisa langsung mengetahui respon atas tulisan-tulisan yang dibuat, bisa berkomunikasi dengan pembaca dan para penulis lain, yang semakin meningkatkan gairah untuk terus bermain dalam hobi.  Seringkali karena hobi, pekerjaan menjadi tertinggal.

“Lha, tulisan-tulisanmu terus hadir berkali-kali dalam satu hari, mana dong tulisan yang dijanjikan?,” seringkali rekan-rekan yang memberi pekerjaan melontarkan kritik halus.

“Mana ada orang percaya kamu kesulitan menulis, sedang tiap hari menulis terus ? Sudah, jangan mengeluh stress kalau pekerjaanmu tak selesai-selesai, lha, wong tidak kamu kerjakan,” komentar istriku, yang kemudian ia lanjutkan, “Memang susah kalau pekerjaan dan hobi itu sama. Seharusnya Mas mencoba mencari hobi yang lain deh,”

Ha.h.ah.a.h.ah, ya memang susah ya. Walau perasaan di hati dan hasil keluarannya bisa berbeda. Sebagai hobi saya bisa bebas menulis apa saja. Mau sekedar ocehan kosong, sok romantis dan puitis, sok berfilsafat, melalui puisi, prosa, tulisan bebas, atau apa sajalah. Ada ruang kemerdekaan yang besar, yang tidak bisa didikte oleh siapapun. Walau otak dan hati kita sendiri seringkali memiliki dinding untuk memfilter apa yang sebaiknya untuk disampaikan. Apalagi tulisan yang dimaksudkan untuk bisa dibaca oleh orang lain. Bukankah begitu? Bagaimana dengan pengalaman kalian sendiri?

Terus terang, dalam kemerdekaan yang saya miliki, untuk hal-hal tertentu saya membatasi kemerdekaan untuk tidak secara merdeka menuliskan apa saja. Terutama bila menulis yang terkait dengan bidang yang saya geluti, yaitu isu (hak-hak) anak.

Para organisasi dan aktivis (hak-hak) anak tentu memiliki kesadaran tentang kode etik ketika membuat sebuah tulisan yang menyangkut anak-anak. Ketika saya mencantumkan sebuah nama anak dalam tulisan saya, berarti saya telah meminta ijin sebelumnya kepada anak tersebut (bisa lisan namun untuk kepentingan yang berbeda, harus memiliki ijin tertulis) bahwa apa yang dikatakannya akan saya tulis. Bila itu tidak saya lakukan, biasanya saya akan menggunakan fiksi sebagai sarana, dan tentu saja mengembangkannya imajinasi ke dalamnya.

Pengaturan kode etik telah dirumuskan oleh International Federatian of Journalist dalam dokumen Guidelines and Principle for Reporting on Issues Involving Children. UNICEF sebagai badan/organisasi PBB yang bekerja untuk kepentingan anak-anak juga telah mengembangkan dokumen: Ethical Guidelines: Principle for Ethical Reporting on Children. Di Indonesia sendiri, perwakilan 29 organisasi jurnalis yang telah mengembangkan kode etik jurnalistik, salah satu isinya memuat tentang pengaturan secara khusus untuk anak yang mencakupi kerahasiaan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Ya, kode etik itu menjadi acuan ketika saya menulis hal-hal yang menyangkut anak-anak. Pada prakteknya memang ada pikiran nakal untuk menyelundupkan sesuatu yang kiranya bisa melanggar kode etik. Pada penulisan judul, misalnya. Judul bagi para penulis, dan tentang ini tampaknya sudah banyak yang membahas, bisa menjadi penentu ketertarikan orang untuk membacanya. Lantaran judul itu pula, banyak orang bisa menjadi kecewa ketika membaca ternyata isi tidak sesuai dengan judul. Nah, beberapa kali saya secara sadar, walau tidak vulgar, membuat judul yang bisa dianggap melanggar kode etik. Saat saya membuat tulisan berjudul: Ngesek itu enak, loh, Mbak, yang merupakan kisah fiksi berisi penuturan dari seorang anak yang dilacurkan saat diwawancarai, menimbulkan banyak protes dari kawan-kawan aktivis anak dan Perempuan, termasuk dari istri saya sendiri. Ketika saya memposting ulang tulisan itu ke situs lain, oleh admin, judul dan isi yang berisi kata “ngesek” diganti menjadi “anu”, sehingga alur menjadi kacau.

Penggunaan istilah menjadi penting dan menunjukkan paradigma yang digunakan.  Misalnya, pada kasus prositusi anak, ada perubahan radikal di tingkat internasional yaitu perubahan paradigma legal bahwa anak yang menjadi korban Ekpsloitasi Seksual Komersial terhadap Anak diperlakukan sebagai “korban” bukan “pelaku kejahatan”. Sebaliknya, pihak yang terlibat dalam penjerumusan anak ditempatkan sebagai “pelaku kejahatan”. Salah satu wujud dari paradigma di atas adalah dengan menghindari penggunaan istilah “pelacur anak” (child prostitutes) melainkan menggunakan istilah “anak yang dilacurkan” (child Prostituted). Hal ini untuk memberikan tekanan pada bobot yuridis anak yang berbeda dengan orang dewasa dan menegaskan posisi anak sebagai korban. Sedang untuk menyebut situasinya digunakan istilah “pelacuran anak” (child prostitution).

Wah, kok tulisan menjadi berbeda dengan tujuan ketika saya menulis ini. Malah melebar. Ok, kembali lagi. Sesungguhnya niat saya membuat tulisan ini adalah untuk mengevaluasi dan merefleksikan tulisan-tulisan yang saya buat, terutama yang saya posting di sini. Saya merasa bahwa tulisan-tulisan saya semakin jelek, tidak bermutu dan tidak membawa manfaat. Memang ada perubahan, dimana saya tidak memasukkan ilustrasi gambar ataupun foto. Itu pekerjaan tersendiri yang membuat repot, sedangkan saya hanya ingin menulis.

Indikator yang mengakibatkan munculnya perasaan itu? Setidaknya dalam 25 tulisan terakhir yang saya posting di sini, hanya dua tulisan yang dinilai admin layak untuk masuk ke highlight. Sedangkan lainnya hanya lewat saja. Berdasarkan keterangan tentang tulisan yang dianggap tidak layak masuk ke kolom Highlight adalah:

  • Tulisan-tulisan milik penulisan dari blog atau media lain yang secara serentak dipindahkan ke Kompasiana.
  • Tulisan yang dibuat (atau hasil copy paste) dalam bentuk makalah ilmiah, skripsi atau sejenisnya.
  • Tulisan pendek atau singkat.
  • Tulisan tanpa isi.
  • Tulisan yang sama sekali tidak bermanfaat.
  • Tulisan yang diduga atau berpotensi melanggar ketentuan.

He.h.eh.e.he.e, begitu saja deh.

Yogyakarta, 05 April 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: