Tinggalkan komentar

Lagi Malas Nulis

Oleh:  Odi Shalahuddin

Sungguh, penyakit yang menyebalkan bila rasa malas menyerang dan otak terasa buntu untuk menuangkan kata-kata. Bukan lantaran tidak ada ide. Bukan pula lantaran tidak ada peristiwa bermakna yang bisa menjadi bahan berita. Bukan. Bukan itu. Ini Indonesia. Pasti banyak kisah dan cerita. Dari gosip hingga berita. Sungguh. Bukan itu.  Cuma malas saja. Malas, penyakit yang menyenangkan tapi sekaligus membuat muak diri.

Ketika semua bergolak dalam diri. Sedang penyaluran otak telah buntu. Bukan tidak mungkin akan menjadi magma yang panas dan akan meledakkan isi kepala. Pecah berkeping-keping. Berhamburan dalam segenap ruang. Benar-benar berantakan. Tak terurai. Kehilangan nyawa. Kehilangan makna. Menjadi bencana. Tentunya kita tidak menginginkannya. Bukankah begitu, kawan?

Lantas?

Kehadiran dagelan-dagelan para badut politik, bukan membuat kita tertawa, tapi menjadikan geram bahkan mungkin kemarahan tak tertahan. Lewat begitu saja, tanpa menjadi tulisan (ah, tentang ini punya keyakinan akan selalu berulang, pada suatu ketika pastilah banyak berita bisa diangkatnya).

Kelebatan peristiwa di jalanan, tentang aksi marah, tentang bentrokan, tentang orang-orang yang beristirahat di bawah jembatan, tentang orang pontang-panting lantaran razia satpol PP. Lewat pula.

Sungguh. Jengkel rasanya. Mungkin engkau sendiri pernah mengalaminya.

Secangkir kopi dan kepulan asap yang tak henti, tak mampu jua membangkitkan gairah untuk menuangkan kata-kata. Memandang layar, meng klik-klik beragam tulisan dan gambar. Bagaikan siluet, berkelebatan, berlarian, melemparkan senyum menggoda, ada pula seringai membuat bulu kuduk berdiri, ada pula wajah memelas patut dikasihani. Hanya sekelebatan yang tak pernah putus, berganti-ganti.

Stop!  Cukup satu sajalah. Hingga bisa terlaksana. Tapi apa?

Jemari bekerja. Hanya klik. Klik. Klik. Mata menatap, tapi pikiran mengembara. Sungguh. Memang tidak menjadi apa-apa. Ini tentu menjadi persoalan pula.

Ah, sudahlah. Nikmati saja. Tak perlu berburuk sangka. Apalagi terhadap diri sendiri. Tenang sajalah. Ini suatu hal biasa. Sama sekali tidak luar biasa. Apalagi menduga ada dukun bekerja. Mematikan rasa.

Yogya, 18 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: