Tinggalkan komentar

Di Jurnalisme Warga Kok Nulis Fiksi

Oleh:  Odi Shalahuddin

“katanya sering nulis?”

“Ya,

“Di mana?”

”Kompasiana”

”Wah, hebat dong. Punya kompas, ya?”

”Iya”

”Nulis apa?”

”Prosa, seringkali puisi,”

”Loh..?!”
”Kenapa?”

”Katanya citizen jornalism,”

”Ya, memang,”

”Kok?”

”Maksudnya?

”Kok prosa dan puisi. Itu kan fiksi,”

”Kenapa? Aneh?”

”Jurnalisme warga menurut wikipedia adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Kok kamu nulis fiksi sih? Memang boleh?”

”Loh, memang tidak boleh,”

”Kan tidak ada unsur informasi dan berita?”

”Ya, gak tahu ya. Habis ada rubrik fiksi sih. Malah tulisan fiksi sepertinya paling banyak. Juga ada catatan harian loh,”

”Kok bisa?”

”Ya, gak tahu. Nyatanya waktu saya mendaftar ke sana, sudah ada rubrik itu kok. Jadi saya salah?”

”Hm.. Gimana ya, kalau ada rubriknya, ya sah-sah saja sih. Tapi kok aneh,”

”Maksudnya?”

”Kalau sebagai jurnalisme warga, sesuai dengan pengertian itu kan berisi informasi dan berita,”

”Oh, begitu, Pantas saja,”

”Kenapa?”

”Walau ada rubrik fiksi, sepertinya ini menjadi anak tiri deh,”

”Ya, mungkin untuk melengkapi saja,”

”Oh, malah jadi kepikiran,”

”Kenapa?”

”Seharian di hari Minggu, terjadi keributan,”

”Maksudmu?”

”Para penulis fiksi tersinggung lantaran ada postingan yang menilai fiksi sebagai kenikmatan fiktif. Penulisnya bukan orang main-main lagi. Seorang Doktor, guru bahasa Indonesia, seorang penulis banyak buku termasuk buku cara membuat fiksi, dan tulisan-tulisannya sering ditempatkan sebagai headline.”

”Wah, kok bisa berpandangan seperti itu ya? Padahal dia yang seharusnya mempromosikan tentang pentingnya fiksi di dalam dunia pendidikan,”

”Ya, seharusnya sih begitu. Tapi kok malah ada pikiran macam-macam nih di kepala,”

”Kenapa?”

”Aneh saja. Aneh kalau orang sehebat itu demikian ceroboh menuliskan hal semacam itu yang tentu saja bisa menimbulkan banyak reaksi. Jangan-jangan pancingan,”

”Ah, kamu itu selalu saja berprasangka buruk terhadap orang lain. Memang fiksi bisa menggangu loh di dalam media jurnalisme warga,”

”Ya, maksud saya seperti itu,”

”Seperti itu bagaimana?”

”Jangan-jangan untuk chek-sound. Dulu pernah terjadi perdebatan ramai seperti ini. Ramai tentang keberadaan fiksi yang merasa dianak tirikan. Pernah ada janji dari admin kemungkinan ada blog tersendiri tentang fiksi. Tapi belum kesampaian hingga kini. Boleh jadi rubrik fiksi menjadi ganjalan bagi kompasiana. Jurnalisme warga kok ada fiksi? Bisa begitu ya?”

“Ah, kok malah kamu sendiri berprasangka begitu. Jangan dikembangkan ah,

“Loh, namanya saja prasangka. Belum tentu benar. Baru pikiran. Ketika diucapkan, masih bertanya tentang kemungkinan. Masak salah sih,”

”Ya, boleh, tapi belum tentu begitu,”

”Artinya juga bisa begitu. Iya kan?”

”Ah, kamu itu,”

”Ah, sobat ini,”

Termenung. Hari melelahkan. Setelah berlari-lari dari satu lapak ke lapak lain. Mencermati perkembangan diskusi. Lama-lama bergeser dengan pernyataan prasangka. Lama-lama jadi berisi hujatan. Ah, kenapa bisa terjadi seperti ini.

”Aneh, tulisan semacam itu bisa masuk terekomendasi. Admin pasti tahu bahwa tulisan itu berpotensi menjadi kontroversi,” demikian salah satu kompasianer mempersoalkan.

”Jangan-jangan disengaja,” kata kompasianer yang lain.

Ramailah perbincangan tentang itu. Entah faktor kebetulan atau apa, tulisan terekomendasi yang biasanya meluncur teratur satu persatu, langsung melorotkan beberapa tulisan. Tulisan yang dinilai kontroversi-pun hilang.

Tapi alangkah baiknya sang penulis kemudian memberi klarifikasi. Mejeng di Highlight agak lama. Menjadi perbincangan lagi. Faktor kebetulan lagi, kemudian segera melorot.

”Sebenarnya ada apa sih? Admin pasti sengaja membuat situasi seperti ini,” kompasianer menggerutu sambil melemparkan prasangka.

”Kalau tidak suka dengan fiksi, lantaran dianggap menyimpang dari obsesi menjadikan kompasiana sebagai jurnalisme warga, kan bisa dikatakan baik-baik. Diumumkan saja. Rubrik fiksi, dihapus. Selesai. Protes paling cuma sebentar, setelah itu akan kembali normal. Yang benar-benar menulis fiksi pada lari, yang lainnya bisa berganti hanya menulis informasi dan berita tentang lingkungan sekitar. Begitu saja kok repot,” gerutu kompasianer yang lain.

”Sudahlah, kita ini kan cuma anak kost,”.

Banyak perbincangan. Membuat mata berkunang-kunang. Lantaran benar-benar seharian hanya memandangi layar komputer. Di klik tentang kompasiana:

Kompasiana adalah sebuah Media Warga (Citizen Media). Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video.

Kompasiana menampung beragam konten yang menarik, bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan dari semua lapisan masyarakat dengan beragam latar belakang budaya, hobi, profesi dan kompetensi. Keterlibatan warga secara masif ini diharapkan dapat mempercepat arus informasi dan memperkuat pondasi demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kompasiana juga melibatkan kalangan jurnalis Kompas Gramedia dan para tokoh masyarakat, pengamat serta pakar dari berbagai bidang, keahlian dan disiplin ilmu untuk ikut berbagi informasi, pendapat dan gagasan.

Di Kompasiana, setiap orang didorong menjadi seorang pewarta warga yang, atas nama dirinya sendiri, melaporkan peristiwa yang dialami atau terjadi di sekitarnya. Tren Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) seperti ini sudah mewabah di banyak negara maju sebagai konsekuensi dari lahirnya web 2.0 yang memungkinkan masyarakat pengguna internet (netizen) menempatkan dan menayangkan konten dalam bentuk teks, foto dan video.

Keterangan: Huruf tebal dari penulis.

Menghela nafas. Ya, bisa jadi. Sekarang bagaimana para penulis fiksi? Apakah mau menagih janji tentang penyediaan sebuah blog khusus tentang fiksi? Atau pada lari mencari tempat bernaung yang baru. Toh, percuma ngotot mempertahankan tentang pentingnya fiksi, bila itu bukan bagian dari strategi. Dulunya bagaimana sih bisa ada ruang fiksi? Akhirnya beginilah jadinya.

Sebaiknya bagaimana? Entahlah. Waktu sudah lewat dari 00:00 Sudah terlalu capek untuk memikirkannya. Biar besok bagaimanalah. Apapun yang akan terjadi. Biarlah terjadi. Begitu saja kok repot…….

Yogyakarta, 23 Mei 2011 pukul 00:05

______________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: