Tinggalkan komentar

Bangkitkan Imajinasimu,Menulislah Walaupun Fiksi

Vector image of the Nobel prize medal

Image via Wikipedia

Oleh:  Odi Shalahuddin

Bersyukurlah, sebagai manusia kita memang diciptakan sangat sempurna. Pada perjalanan hidup, kita tidak hanya mengandalkan pada insting belaka, seperti halnya para makhluk-makhluk bernama hewan. Sungguh sial para tetumbuhan, ia hanya dihadirkan di satu tempat, tanpa mampu bergerak apalagi bertindak, kecuali menyebarkan serbuk atau tunas-tunasnya agar kelangsungan hidupnya dapat terjaga. Itupun dibawah bayang-bayang ancaman para hewan dan manusia yang bersiap menghabisinya.

Kita dikaruniai otak, yang beratnya saya yakin tidak lebih dari 5 % berat badan kita, tidak akan lebih dari 2 kg, tapi memiliki fungsi yang menjadi kekuatan maha dahsyat bagi manusia untuk membangun berbagai perubahan di muka bumi ini. Sejarah kehidupan manusia telah menunjukkan perkembangan peradaban yang semakin sempurna. Telah terlampaui jaman pra-sejarah atau disebut juga jaman nirleka. Telah dilalui jaman batu dan jaman logam.  Kini kita telah berada pada peradaban manusia yang semakin kompleks dengan berbagai fasilitas dan kemudahan berhubungan satu sama lainnya di seluruh penjuru dunia. Kemudahan yang bisa juga membuat terpeleset. Tidak berlebihan memang bila manusia dijadikan sebagai pemimpin bumi.

Berbagai misteri tentang semesta, telah banyak terpecahkan, walaupun berjuta misteri masih saja menyelimuti. Tapi itu menjadi tantangan bagi manusia dengan segala kesempurnaan dan keterbatasannya, terus terpacu melahirkan pengetahuan baru walaupun hal-hal yang dikatakan sama sekali tidaklah baru.

Ini semua berpulang dari suatu imajinasi yang dibarengi rasionalitas manusia. Manusia pastilah memiliki harapan dan mimpi, mempertanyakan sesuatu dibalik realitas atau fakta yang ada. Bertanya terus bertanya, mendorong imajinasi dan kreativitas, dilanjtukan dengan tindakan untuk mendapatkannya, menuangkan dalam rangkaian kata-kata: Sebagai karya ilmiah ataupun sebagai karya fiksi. Mendorong lahirnya inspirasi bagi pembaca atau generasi penerusnya, dan demikianlah selalu berulang, sehingga kemajuan jaman dapat diciptakan.

Berterimakasihlah kita kepada Roger Sperry, seorang neuropsikolog yang telah bertahun-tahun bersama para koleganya melakukan penelitian di awal 60-an pada penderita epilepsy yang korpus kalosumnya, “jembatan” antara otak kiri dan kanan terputus.  Pada penelitian ini mereka menemukan bahwa otak manusia terdiri dari dua bagian (hemisfer) yaitu otak kanan dan otak kiri. Tidaklah berlebihan bila ia mendapatkan anugrah Nobel pada tahun 1981 mengingat pentingnya hasil penelitian yang mengakibatkan perubahan paradigma mengenai potensi dan kreativitas otak manusia. Otak manusia bukan hal baru, toh sudah ada sejak manusia tercipta, dan sekian juta tahun manusia baru menyadari tentang hal ini. Itulah yang saya maksud menemukan sesuatu yang bukan barang baru tapi baru.

Secara ringkas, dikatakan bahwa masing-masing bagian otak memiliki fungsi. Otak kanan berfungsi dalam perkembangan emotional Quotient (EQ) sedangkan otak kiri berfungsi dalam perkembangan intellegencia Quotient (IQ).

Otak kanan diidentikkan dengan emosional yang berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Sedangkan otak kiri biasa diidentikkan dengan rasional yang berhubungan dengan angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear, dan tahap demi tahap.

Seseorang, saya berkeyakinan tidak hanya menggunakan salah satu otaknya saja di dalam melakukan sesuatu, bekerja ataupun berkarya. Bila terjadi kecenderungan salah satu bagian otaknya yang mendominasi, memang demikianlah kenyataannya. Keseimbangan mendayagunakan kedua bagian otak tentunya akan sangat berguna bagi kita. Misalnya saja dalam penulisan. Seseorang bisa memiliki kecenderungan untuk menuliskan sesuatu yang rasional berdasarkan fakta-fakta yang dilihat atau dialaminya, sehingga lahirlah tulisan dalam bentuk berita atau reportase. Namun sebagian juga memiliki kecenderungan untuk mengungkapkannya dalam bentuk fiksi. Kedua-duanya, saya kira sah-sah adanya.

Pada media berita, hal yang dikedepankan tentulah adalah tulisan-tulisan berbentuk reportase. Kompasiana misalnya yang diarahkan sebagai media jurnalisme warga, bisa menjadi contoh. Para admin tentu akan memprioritaskan atau mendahulukan pilihannya kepada tulisan berbentuk reportase untuk dijadikan sebagai highlight, headline ataupun terekomendasi. Prioritas berikutnya barulah yang berbentuk opini ataupun fiksi.

Fiksi, pada media berita, boleh jadi diperlakukan sebagai anak tiri. Namun, terlalu gegabah bila dikatakan lantaran fiksi tidak memiliki arti. Lebih tepatnya, memang dipandang tidak memberikan kontribusi besar pada imaje sebagai media berita. Ya, hal itu sah-sah saja. Berbagai surat kabar, hanya menyediakan ruang satu dua halaman yang ditampilkan setiap seminggu sekali untuk fiksi (biasanya dalam bentuk cerpen dan puisi) bersama tulisan/berita seni sastra. Sebagian menampilkan fiksi setiap hari dalam bentuk cerita bersambung. Nah, apabila suatu media sama sekali tidak memberikan ruang bagi fiksi, apakah yang akan terjadi?

Nah, gambaran di atas hanya membatasi hubungan antara fiksi dengan media. Memang demikianlah kenyataannya.

Secara sederhana, tulisan fiksi bisa dipahami sebagai hasil karya yang dihasilkan dari imajinasi atau rekaan dari pengarangnya. Ini bisa berupa puisi dan prosa. Kendati hasil imajinasi, tentu para pengarangnya tidak berangkat dari ruang kosong. Ia memiliki berbagai pengalaman dan referensi tentang kehidupan, dan mengkonstruksikan realitas melalui imajinasinya. Bisa dikatakan dalam hal ini, seliar-liarnya imajinasi dari seorang pengarang, ia pastilah berpijak pada realitas kehidupan.

Kedalaman karya fiksi memang berbeda-beda. Tergantung motif dari masing-masing pengarang membuat karya fiksi. Ia bisa berupa curahan hati (curhat), menampilkan realitas tersembunyi dengan cara sembunyi, memunculkan gagasan tentang kehidupan (terkait kehidupan sosial-politik-budaya-ekonomi – sospolbudek) dan sebagainya. Seorang pengarang fiksi bisa menulis sekali jadi, tapi memiliki makna yang mendalam. Atau ada yang bersusah payah menuliskannya, namun hasilnya tetap terasa kering. Ada pula pengarang untuk menuliskan cerpen atau novel membutuhkan waktu untuk melakukan penelitian terlebih dahulu. Ya, ini wilayah bebas, tergantung masing-masing pengarangnya.

Hasil karya fiksi diakui tidak menampilkan realitas dan kebenaran nyata. Tapi ia bisa mendorong lahirnya nilai-nilai baru atau menginspirasi pembacanya untuk berpikir dan melahirkan tindakan-tindakan bagi perubahan yang lebih baik bagi kehidupan manusia.

Tidak percaya? Tanyalah pada Mbah Google siapa saja para pemimpin dunia yang bekerja dan melahirkan perubahan besar lantaran banyak terinspirasi dari karya-karya fiksi.

Ayo, bangkitkanlah imajinasimu, jangan meragu menulis, walaupun sebagai karya fiksi. Tentu akan lebih bermakna lagi, dalam imajinasi, kita kerahkan pula keseimbangan otak kanan dan otak kiri untuk bekerja, melahirkan kata-kata penuh inspirasi. Siapa tahu bisa lekat di hati dan mendorong para pembancanya untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi hidupnya dan kehidupan manusia.

Yogyakarta, 22 Mei 2011

_______________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: