2 Komentar

Membangun Dunia di Kompasiana

Oleh:  Odi Shalahuddin

Saya akui, saya mungkin banyak ketinggalan dan merupakan sosok yang masih asing bagi para kompasioner lainnya. Interaksi saya (terutama secara fisik) sangat terbatas.  Saya tidak pernah mengikuti Kopi Darat (Kopdar) yang telah beberapa kali dilakukan termasuk di kota di mana saya tinggal,Yogyakarta. Saya juga bukan orang yang rajin berselancar menuju lapak-lapak para kompasioner lainnya. Sikap saya, mungkin satu bentuk kecurangan tersendiri di dalam relasi sosial dalam dunia maya, khususnya di Kompasiana.  Terus-terang, tiada niatan kesengajaan untuk ini. Hanya soal waktu yang terbatas, terlebih banyak dalam perjalanan, itulah yang menghambat ruang gerak saya.

Pada pengamatan yang terbatas, saya melihat telah muncul berbagai komunitas dalam ikatan-ikatan yang terbentuk berdasarkan kesamaan sikap dan pandangan ataupun gagasan. Maka, sebut saja diantaranya (tanpa mengabaikan yang lain) tentang Negeri Ngotjolia, Negri Ketol, Canting, dan Desa Rangkat.

Dari contoh yang ada, Desa Rangkat menjadi perhatian bagi saya, mengikuti sedikit perkembangannya lantaran turut terlibat di  dalamnya walaupun tidak terlalu intens sekali.

Desa imaginasi yang diprakarsai oleh Mommy, yang merupakan respon dan tindakan nyata untuk menjawab perbincangan yang sempat sangat hangat berkembang di Kompasiana, yaitu mengenai fiksi sampah. Mommy memulainya dengan menampilkan suatu tulisan yang menghimpun dan mengutip berbagai tulisan  ataupun komentar yang dinilai memiliki kadar estetis dan sangatlah berharga bila dikatakan sebagai “sampah”. Rangkat kependekan dari Rangkaian Kata, yang tampaknya diobsesikan bagaimana para kompasioner memiliki ruang untuk mengeluarkan energi estetisnya ke dalam berbagai tulisan yang terdokumentasikan secara rapi, dengan tag “desarangkat”. Obsesi yang tidaklah terlalu berlebihan mengingat para kompasioner menyambut dengan hangat dan berlomba untuk merangkai kata-kata nan indah, yang enak dibaca dan dinikmati.

Berdasarkan pengamatan saya, beberapa penulis mengalami perkembangan luar biasa di dalam tulisan-tulisannya. Dorongan dan semangat tinggi untuk menulis, komentar-komentar yang muncul, masukan-masukan yang lahir baik dalam segi penulisan maupun isi dan tema, menjadi rangsangan yang menggairahkan bagi semuanya. Terciptalah sebuah ruang belajar dengan dinamika yang sehat.

Perkembangan kemudian, saya kira di luar jangkauan obsesi dari Mommy sendiri. Ketika masing-masing orang membawa gagasan-gagasan tentang Desa Rangkat, dan mencari atau memilih posisi-posisi di dalam masyarakat Desa Rangkat. Imajinasi tentang sebuah wilayah Desa Rangkat terbangun pelan-pelan. Sebuah desa yang terletak di antara perbukitan, pegunungan dan sekaligus lautan. Sebuah desa yang asri yang mampu memadukan perkembangan teknologi dengan menjaga kelestarian alamnya. Sebuah desa dengan masyarakatnya yang memiliki kesadaran kolektif tingkat tinggi demi menjaga tatanan kehidupan sosial. Sebuah Desa yang menyimpan berbagai kisah suka dan duka yang selalu berakhir bahagia. Desa Rangkat, yang menyimpan berbagai kemungkinan.

Sadar atau tidak sadar, pada akhirnya kompasioner yang bergabung dalam Desa Rangkat tidak sekedar merangkai kata-kata, melainkan juga mencoba membangun dunia. Dunia ideal untuk mensikapi kehidupan nyata yang sama sekali sudah menjemukan dan memuakkan. Terlebih melihat para pemimpin bangsa ini yang cenderung brengsek.

Desa Rangkat tengah membangun nilai-nilai kehidupan yang hingga saat ini belumlah selesai. Ia akan terus tumbuh seiring dengan gagasan-gagasan liar kehidupan yang tumpah di desa imajinasi ini.

Yoyok, sebagai Pak Kades desa Rangkat yang selalu peduli terhadap kepentingan warganya, yang tidak pernah gegabah mengambil keputusan sepihak. Mommy, istri Kades dengan mobilitas dan jiwa sosialnya yang tinggi, yang tak segan-segannya mengambil posisi dalam pekerjaan-pekerjaan bersama. Bain, warga yang sangat setia dengan pit onthelnya; Nimas pemilik warnet; Budi Van Boil, pemilik kedai kopi; Djoko, tukang becak satu-satunya yang bebas melenggang di desa Rangkat; Uleng asisten guru; dan masih beragam tokoh lainnya.

Suatu perubahan dalam kehidupan, tak jarang lahir dari pengharapan dan mimpi-mimpi, termasuk imajinasi. Imajinasi dalam karya, bisa terasa lebih nyata. Siapa tahu, dari gagasan liar yang hidup di Desa Rangkat, kita bisa menemukan gagasan yang bisa diterafkan di dalam dunia nyata, terutama di Indonesia, untuk membangun sebuah bangsa dan negara yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan bagi para warganya. Mungkinkah itu? Saya kira, mungkin……

 Yogyakarta, 17 November 2011

______________________

Iklan

2 comments on “Membangun Dunia di Kompasiana

  1. Luar biasa, bapak kalau copas dan menghapus tulisan di komapsiana disalin di sini beserta dengan komentar2nya yah?

    • Sebab komentar seringkali bermakna dan bisa menjadi masukan. Juga sebagai bentuk penghargaan kepada rekan-rekan yang telah menorehkan komentar-komentarnya… Begitu Mbak Anaz… Ada beberapa yang belum saya sertakan sih…. Tapi nanti, pastilah seluruh tulisan berkomentar akan disertai komentar-komentarnya..
      He.he.h.e.he.h.e.he.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: