Tinggalkan komentar

Tidak Boleh Pakai Kaos

Oleh:  Odi Shalahuddin

Kebiasaan yang kuanggap paling menyenangkan adalah menggunakan kaos dan bersandal (apalagi sandal jepit). Dengan begitu, hati kita terasa terbebaskan. Setidaknya, tak disibukkan dengan ketakutan kemeja akan kusut atau resah ketika sepatu tak terlihat mengkilat. Benar-benar merdeka.

Pagi ketika memilih pakaian (yang juga tidak banyak), tangan yang hampir menyentuh kemeja, spontan saja berubah memilih kaos. Kaos berkerah. Kaos kenang-kenangan dari acara reuni bersama kawan-kawan SMA. Sederhana saja, bisa merasa nyaman, dan biasanya acara semacam yang akan kuikuti kecenderungannya orang-orang yang senang menggunakan kaos.

Bersama kawan dari Timor Leste dan dari Kamboja, kami keluar dari hotel Grand Tropic menuju hotel Ciputra yang kira-kira berjarak 300-400 meter, menyusuri jalan S. Parman. Di pertengahan jalan, terlihat sebuah truk polisi berhenti, berhamburan turun orang-orang, sebagian kecil menggunakan seragam polisi, sebagian besar menggunakan seragam satpol PP. Sontak, hal ini mengejutkan para pedagang kakilimayang berjualan di pinggiran jalan. Mereka segera mengemasi barang-barang dagangan mereka. Aku sempat berjalan pelan dan berhenti untuk memperhatikan. Lalu melanjutkan perjalanan. Menjelang memasuki areal hotel terlihat banyak polisi mengatur jalan dan ikut mengawasi. Memasuki pelataran parkir, terlihat pula satu truk polisi dan truk gegana. Wah, kok terlihat penjagaan ketat?

Di pelataran kulihat seorang kawan yang tidak asing bagiku. Pakde Sus, demikian ia dikenal. Seorang kawan yang banyak bergelut dengan anak-anak jalanan Jakarta , dengan sanggarnya yang kukira sudah banyak dikenal karena sering tampil di berbagai acara, pernah pentas di hadapan presiden ketika dijabat Gus Dur, juga beberapa kali bermain musik dalam acara-acara di televisi: Sanggar Akar.  Nah, Pakde Sus ini juga turut membintangi film ”Rindu Purnama” besutan Mathias Muchus.

”Wah, ikutan juga? Kapan datang?”sapanya ramah dengan senyumnya yang renyah, dengan asap yang masih terlihat keluar dari sela bibirnya.

Aku tertawa sambil menyalami. ”Sudah dari hari Minggu,”

”Penjagaan Ketat,”

”Yang buka Wapres.”

”Oh….” barulah aku merasa paham. ” Pantas Pakdhe pakai batik,”

Di Lobby, penuh sekali. Orang-orang masih saja melakukan registrasi, walaupun sebenarnya berdasarkan pengumuman sebelumnya sudah ditutup beberapa hari sebelumnya. Kepadatan juga sangat terasa di depan lift. Empat buah lift terasa kurang.

Di lantai enam, terjadi lagi antrian. Kita harus melewati ruang pemeriksaan. ”Wah, pengalaman pertama mengikuti kegiatan masyarakat sipil harus ada pemeriksaan ketat seperti kita memasuki bandara.

Berhasil melewati pemeriksaan di lantai enam, seorang kawan lama yang kebetulan menjadi salah seorang panitia mendekatiku dan berbisik dengan santun: “Maaf, Mas, Paspampres melarang masuk bagi yang menggunakan kaos. Tidak apa-apa ya?”

Seorang panitia lainnya menyusul mengatakan hal serupa. Aku bersungut, mencoba memaklumi. Menimbang-nimbang apakah perlu mengikuti upacara seremoni pembukaan acara atau tidak. Bila ingin ikut, maka harus kembali ke hotel dulu berganti pakaian. Artinya harus berjalan kaki sekitar 300-400 meter dikali dua, karena pulang pergi.

Kembali turun, di lobby semakin penuh saja. Bertemu dengan banyak kawan lama, yang kutahu dulunya adalah penggemar pengguna kaos. Tapi kini semuanya berbaju. Ha.h.ah.a.h.ah.

Akhirnya kuputuskan untuk berganti baju. Penasaran juga ingin mengikuti acara pembukaan. Cukup lumayanlah untuk berolahraga pagi dengan tubuh berkeringat. Ya, mengalah sedikit. Atau tertaklukkan ?

Ketika kembali, terlihat Menteri Luar Negeri, H.E. Marty Natalegawa sudah berada di Lobby, berbincang dengan beberapa orang, salah satunya adalah Rafendi Djamin salah seorang anggota ASEAN Intergovernemental Commission on Human Rights (AICHR).

Antrian di depan lift semakin padat dibandingkan sebelumnya. Satu lift dalam kondisi terbuka tapi dijaga tiga orang petugas. Jadi bisa terbayangkan kepadatannya karena hanya tiga yang berfungsi. Beruntung seorang penjaga keamanan hotel, mencolek diriku dan beberapa orang, lalu mengajak untuk menggunakan lift lain yang sebenarnya diperuntukan bagi karyawan hotel.

Pengulangan kembali terjadi. Melewati pemeriksaan. Ugh….

Akhirnya, sambil memasuki ruangan, aku membayangkan bagaimana para pejabat ini bisa berpikir dan bertindak untuk rakyat kebanyakan yang mungkin masih banyak menggunakan sarung, kaos oblong, atau baju kusam, dan mungkin dengan alas sandal jepit, bila hanya untuk menatap beliau dari kejauhan, dirimu harus menggunakan pakaian ”sopan”. Tentu saja nilai kesopanan yang bisa berbeda dengan pandangan atau mungkin kemampuan dari rakyat kebanyakan.

Ya, begitulah sedikit pengalaman mengikuti acara pembukaan ASEAN Civil Society Conference (ACSC)/ASEAN People Forum 2011 yang ketuju, yang berlangsung pada tanggal 3-5 Mei 2011, dan diikuti lebih dari 1,300 orang dari berbagai negara di ASEAN.

Mengenai acara ini, semoga masih terluang waktu untuk berbagi kepada rekan-rekan Kompasiana.

Jakarta, 4 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: