Tinggalkan komentar

Dwa Aung San Suu Kyi

Oleh:  Odi Shalahuddin

Siapa tak mengenal Aung San Suu Kyi? Dilahirkan pada tanggal 19 Juni 1945 di Rangon sebagai anak ketiga dari pasangan Jendral Aung San dan Daw Khyin Kyi, Ia telah menjadi simbol perlawanan damai dalam menghadapi penindasan dan memperjuangkan demokrasi dan hak-hak asasi manusia di negaranya.

Peraih hadiah nobel perdamaian pada tahun 1991, dan pernah mendapatkan berbagai penghargaan seperti Rafto Prize dan Shakarov Prize for Freedom of Though pada tahun 1990, serta mendapatkan penghargaan Jawaharlal Nehru Award for International Understanding dari pemerintah India dan International Simon Bolivar Prize dari pemerintahan Venezuela pada tahun 1992, yang kesemuanya didapatkan berkat perjuangannya yang tidak pernah henti melawan junta militer Myanmar.

Ayahnya tewas terbunuh pada tahun 1947 sekitar enam bulan sebelum kemerdekaan. Sedang ibunya kemudian menjadi tokoh politik terkemuka. Pada tahun 1960, ibunya ditunjuk menjadi duta besar untuk India dan Nepal. Aung San Suu Kyi mengikuti ibunya dan menyelesaikan studinya di Lady Shri Ram di New Delhi. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di St Hugh’s College, Oxford dan memperoleh gelar B.A. pada bidang filsafat, politik dan ekonomi pada tahun 1969. Setelah lulus ia tinggal di New York dan bekerja di PBB selama tiga tahun. Pada tahun 1972, ia menikah dan dikaruniai dua anak.

Pada bulan Maret 1988, Aung San Suu Kyi kembali ke Burma untuk merawat ibunya yang sakit. Suatu kebetulan, pemimpin militer dan partai yang berkuasa, Jendral Ne Win mengundurkan diri pada tanggal 23 Juli. Hal ini menyebabkan demonstrasi besar-besaran untuk demokrasi yang dikenal sebagai pemberontakan 8888 (8-8-1988) yang diberangus oleh pemerintahan militer yang kemudian mengambil alih kekuasaan pada bulan September. Pada 26 Agustus 1988, Aung San Suu Kyi pada pidato politik pertamanya menyerukan pembentukan pemerintah yang demokratis di depan Pagoda Shwedagon. Pada 24 September  dibentuk Liga Nasional Demokrasi, yang menempatkan Aung San Suu Kyi sebagai Sekretaris Jendralnya. Pada tanggal 20 Juli 1989, ia dijatuhi hukuman tahanan rumah. Militer berjanji akan membebaskan bila ia mau keluar dari Myanmar. Namun hal tersebut ditolak oleh Suu Kyi. Ia justru bersumpah tidak akan meninggalkan Myanmar sampai pemerintahan sipil dipulihkan.

Pada tahun 1990, hasil pemilihan umum menunjukkan kemenangan Liga Nasional Demokrasi dan mendapatkan 59% suara dan mendapatkan 80% kursi di parlemen. Namun kemenangan ini diabaikan oleh Junta militer. Militer menolak untuk menyerahkan kekuasaannya.

Pada 10 Juli 1995, Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah namun gerakannya tetap dibatasi. Pada tahun itu Ia ditetapkan sebagai ketua partai Liga Nasional Demokrasi. Perjalanan keliling negeri dihambat oleh militer, dan pada tahun 2000 kembali ia dikenakan tahanan rumah dan dibebaskan 19 bulan kemudian. Pada Mei 2003, ia ditahan dipenjara Insein selama tiga bulan, dan selanjutnya menjadi tahanan rumah.

Menjelang KTT ASEAN ke 17 di Hanoi, Menteri Luar Negeri Myanmar, Nyan Win,  mengumumkan pembebasan Suu Kyi.

Isu demokratisasi di Myanmar selalu menjadi salah satu agenda dari KTT ASEAN sejak tahun 2003. Pada KTT ASEAN ke 18 di Jakarta, Indonesia, tersebar kabar bahwa Myanmar bernafsu ingin menjadi Ketua ASEAN yang seharusnya diraih pada tahun 2005 (berdasarkan urutan abjad) namun dianggap tidak siap sehingga digantikan oleh Malaysia, di tahun depan yaitu tahun 2014 yang seharusnya menjadi jatah dari Laos. Kaukus antar-Parlemen ASEAN untuk Myanmar (AIPMC) menyerukan kepada para pemimpin ASEAN untuk menolak permohonan Myanmar itu. Presiden AIPMC Eva Kusuma Sundari mengatakan bahwa pemilu Myanmar pada Nopember 2010 bukanlah langkah menuju perdamaian dan demokrasi, karena parlemen hasil pemilu tersebut tunduk kepada militer.

Nah, pada penyelenggaraan KTT ASEAN ke 18 di Jakarta, kelompok masyarakat sipil menyelenggarakan ASEAN Civil Society Conference/ASEAN People’s Forum 2011, pada tanggal 3 – 5 Mei 2011. Acara yang dihadiri oleh 1,300-an peserta dari negara-negara ASEAN yang dibuka oleh Wakil Presiden RI, Budiono, akhirnya berhasil menampilkan rekaman video yang berisi pidato Dwa Aung  San Suu Kyi.

Sebelumnya, tersiar kabar akan ada pemboikotan atas pemutaran rekaman tersebut karena Pihak Istana Wakil Presiden merasa khawatir hubungan Indonesia-Myanmar akan buruk bila pidato Aung San Suu Kyi ikut disiarkan usai pidato pembukaan oleh Wakil Presiden. Video rekaman ini sendiri diputar setelah Wakil Presiden meninggalkan lokasi acara.

Berikut adalah pidato kunci oleh Dwa Aung San Suu Kyi, penerima hadiah Nobel Perdamaian 1991 dan Pemimpin gerakan demokrasi Burma kepada Konferensi Masyarakat Sipil/Forum Rakyat ASEAN di Jakarta:

____________

Saya sungguh bahagia bisa berbicara di depan anda semua hari ini, masyarakat sipil ASEAN/Forum Rakyat ASEAN. Burma adalah bagian dari ASEAN.

Kami rakyatBurmaingin bekerja dengan serta dengan bangsa-bangsa ASEAN lainnya. ASEAN vital sifatnya bagi kepentingan-kepentingan kami; ASEAN vital sifatnya bagi masa depan kami. Dan kami juga berharap kami pun vital bagi ASEAN.

Banyak orang bilang bahwa nilai-nilaiAsiaberbeda dari nilai-nilai Barat. Mereka mengatakan ini sering dalam rangka untuk melawan perjuangan kami menuju demokrasi. Pernyataan yang berulang-ulang bahwa demokrasi adalah sebuah konsep Barat menyakiti kami yang tengah berjuang meraih demokrasi diburma.

RakyatBurmayang memulai gerakan mereka menuju demokrasi pada 1988 tahu sedikit sekali tentang konsep Barat akan demokrasi. Yang mereka pahami adalah bahwa mereka menginginkan keamanan, mereka menginginkan perdamaian. Mereka ingin bebas untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Mereka ingin hidup di tanah yang bebas dari rasa takut dan bebas dari rasa ingin. Mereka ingin hidup dalam sebuah bangsa di mana rakyat dapat memilih pemerintah mereka sendiri. Mereka menginginkan suatu pemerintahan dari rakyat untuk rakyat, dan oleh rakyat. Bukan karena mereka pernah mendengar pidato presiden Lincoln atau pernah membacanya, namun karena insting mereka memberi tahu mereka bahwa inilah jenis pemerintahan yang akan menjaga kepentingan-kepentingan mereka.

Jadi, apa yang tengah kami coba lakukan di Burma, adalah untuk memperbaiki kehidupan kami, dan kami percaya bahwa cara terbaik untuk melakukan adalah melalui lembaga-lembaga demokrasi. Tentu saja demokrasi di Burma akan memiliki suatu cita rasa khusus Burma, suatu aroma Burma, satu aspek tertentu dari Burma di dalamnya. Ini tak terhindarkan.

Namun terdapat konsep-konsep dasar tertentu dari demokrasi yang tidak dapat  kita abaikan. Bila konsep-konsep ini terabaikan, apa yang kita miliki bukanlah demokrasi, melainkan dari permukaan saja menyerupai demokrasi.

Saya yakin anda semua mengerti ini, khususnya di Indonesia, di mana Anda telah melakukan transisi yang mengagumkan dari kekuasaan otoriter menjadi tata pemerintahan demokratis. Kami iri pada Anda, kami ingin seperti Anda, kami ingin meraih apa yang Anda berhasil raih. Dan ijinkan saya maju satu langkah lebih jauh dan mengatakan bahwa kami berharap untuk meraih bahkan lebih banyak lagi. Saya pikir sangat alami bagi kami untuk menginginkan yang terbaik bagi negara kami, bagi rakyat kami. Namun kami juga menginginkan yang terbaik untuk kawasan kita, kami ingin yang terbaik untuk dunia ini, namun kami harus mulai dengan diri kami sendiri.

Jadi bukan berangkat dari sikap mementingkan diri sendiri bahwa saya meminta Anda untuk membantu perjuangan kami bagi demokrasi di Burma, untuk membantu upaya-upaya kami untuk memperkuat masyarakat sipil di negara kami. Dengan mulai dari sinilah kita bisa memulai membangun kawasan kita dan seluruh dunia.

Saya berharap akan tiba waktu di mana terdapat pertukaran gagasan dan warga di antara kedua negara kita dan diantara negara-negara ASEAN lainnya. Akan tiba waktunya, di mana kita semua sepakat bahwa kita menginginkan sebuah dunia yang lebih baik berdasarkan Hak-hak Asasi Manusia bagi kita semua.

Ketika kita tiba pada titik tersebutm saya berpendapat bahwa ASEAN akan menjadi sebuah kawasan yang lebih bahagia, lebih kuatm dan saya bayangkan akan menjadi sebuah kawasan yang dipandang oleh seluruh dunia dengan rasa kagum dan puas.

Terima kasih atas semua yang telah anda lakukan untuk meningkatkan kesatuan diantara rakyat bangsa-bangsa ASEAN. Kontak, keterlibatan diantara rakyatlah yang lebih penting dari apapun.

Pemerintah juga penting namun hanya bila mereka bekerja untuk rakyat. Jadi, mari kita dambakan bersama hari dimana adalah rakyat ASEAN-lah yang menentukan apa yang akan dilakukan atas kawasan kita.

Terima kasih.

_______________

Tentu kita berharap bahwa proses demokratisasi dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia dapat dijunjung tinggi oleh negara-negara ASEAN.

Yogyakarta, 9 Mei 2011

Keterangan:

Tulisan disusun dari berbagai sumber. Sedangkan naskah pidato didapatkan dari panitia pelaksana ACSC/APF 2011.

Sumber gambar ilustrasi di atas dari SINI


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: