1 Komentar

Menyamar Boleh Kok

Oleh:  Odi Shalahuddin

Mau pakai topeng?

Siapa bilang menyamar dilarang? Boleh. Sah saja kok. Banyak orang merasa rendah diri, akhirnya menggunakan nama samaran. Banyak pula orang yang rendah hati, juga menggunakan nama samaran. Ingin gagah-gagahan, juga gunakan nama samaran. Ingin biasa-biasa saja, nama samaran dilekatkan. Jadi tidak ada yang aneh dengan nama samaran.  Lha, wong yang ada di penjara aja bisa menyamar dan nonton pertandingan olahraga, masih biasa-biasa saja. Santai-santai saja.

Di Kompasiana juga tidak ada larangan menggunakan nama samaran. Tidak ada yang namanya account palsu. Account Syetan Belang. Atau juga account hantu kelayaban. Semua ya, sama. Sama derajatnya dengan orang-orang yang menggunakan nama aslinya. Jadi tidak ada masalah dengan identitas yang bukan sebenarnya. Banyak tokoh-tokoh kita, artis, atau kawan kita sendiri, yang lebih kita kenal dengan nama samaran. Panggilan akrabnya. Sampai kita lupa nama aslinya. Bahkan ada orang yang juga lupa dengan nama aslinya sendiri lantaran bertahun-tahun menggunakan nama samaran. Apalagi tidak punya identitas seumur hidupnya.

Lha, kalau sekarang ada yang merasa resah. Bahkan banyak yang resah. Lantaran kompasianer yang dianggap tanpa nama dan tanpa wajah sebenarnya bergentayangan, menggedor-gedor pikiran, menggedor-gedor emosi, menggedor-gedor keluarnya kata-kata busuk, maka persoalannya bukanlah dibutuhkan nama dan wajah sebenarnya. Tapi kelakuannya. Banyak kok kompasianer tanpa nama dan wajah sebenarnya tapi bisa membuat kita tertawa, membuat kita terperangah terhadap pikirannya, membuat kita mendapatkan pencerahan dan kesadaran akan suatu hal.

Jadi, menyamar boleh saja. Entah apapun motifnya. Barangkali dengan menyamar akan merasa lebih bebas. Bisa lebih merdeka berkreasi, lebih kaya kreativitas dan pemikiran-pemikiran baru, ya, itu mungkin saja.

Di ruang publik, menyamar boleh, dan saya kira hal itu janganlah dipersoalkan lagi. Namun, di kompasiana yang menjadi rumah bersama, para warganya aktif mengkampanyekan pula agar banyak warga baru berdatangan, tentulah niat baik bagi semua agar rumah ini benar-benar bisa nyaman bagi siapapun.

Saya dulu pernah menyambut baik ketika admin membuat format isian bagi orang yang akan membuat account di kompasiana, yaitu terkait dengan personal information. Isian berkisar tentang nama lengkap, alamat, nomor identitas dan scan dari identitas. Ini menjadi data base bagi admin.

Nah, ini diterafkan saja. Kompasiana terbuka bagi siapa saja. Buka account bisa langsung aktif, tapi beri batas waktu untuk melengkapi persyaratannya. Seminggu misalnya. Biar orang bisa berselancar dulu, bisa melihat-lihat segala lapak dan pemandangan di kompasiana, sehingga bila betah, maka tidak diragukan lagi ia akan memenuhi persyaratannya. Demikian pula bagi para kompasianer baru, tetap wajib mengisi format tersebut dan menyertakan scan identitasnya. Janganlah terlalu khawatir, hanya admin yang tahu. Sebagai admin mereka tentunya memiliki kode etik untuk tidak menyebarluaskan identitas seseorang untuk kepentingan lain. Jadi, tenang-tenang saja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan, lengkapi sajalah. Ya, kecuali ada kepentingan-kepentingan lain yang tidak kita ketahui yang membuat ada yang khawatir tidak mau memberikan keterangan sebenarnya kepada admin. Ya, kita relakan sajalah orang-orang macam ini.

Kemerdekaan, harus dilandasi dengan semangat kebersamaan. Sikap terbuka, merupakan prasarat penting. Tentu kita tidak mau berkomunikasi panjang lebar dengan hantu yang tak jelas juntrungannya dari pemakaman mana. Sesama hantu saja, saya kira harus saling terbuka.

Jangankan di dunia yang terbatas seperti kompasiana ini. Konon pada wilayah-wilayah kriminal saja ada etika. Betapapun etika atau kode etik itu berusaha dilanggar, tapi itu yang menjadi patokan bagi penyelesaian perselisihan antar mafia. Katanya begitu sih. Tapi mungkin ada yang lebih tahu di sini.

Jadi, Tata tertib yang ada, jangan hanya menjadi pajangan saja yang digunakan bilamana perlu tapi membiarkan berbagai pelanggaran terjadi. Bila demikian, maka orang bisa menuduh adanya perlakuan diskriminatif. Terafkan saja. Untuk ini, ADMIN-lah yang sangat berperan. Admin memiliki kewenangan. Kewenangan artinya adalah kekuasaan. Kekuasaan yang baik adalah bekerja sesuai kewenangan yang dimilikinya. Bila tidak digunakan ketika pelanggaran terhadap tata-tertib terus berlangsung, maka secara perlahan kekuasaan itu sesungguhnya telah digerogoti sendiri. Membangun dan menegakkan akan sulit bila terlambat. Ketika orang-orang sudah tidak mempercayai lagi.

Bagi para kompasianer, apa yang dipertaruhkan di kompasiana? Saya kira tidak ada selain harga diri dan rasa memiliki. Kritik keras terhadap admin yang selama ini berlangsung, saya kira lantaran didorong oleh rasa memiliki yang sangat luar biasa. Lihat sajalah buktinya. Di tengah amburadulnya situasi ketika perbaikan terjadi, para kompasianer tetap sabar dan mencuri celah agar bisa memposting tulisan, menorehkan komentar-komentar walau harus dilakukan berulang kali, mengernyitkan kening ketika postingan muncul ganda.

Bila tidak salah, selain memberi teguran atau peringatan serta menghapus suatu tulisan, admin juga memiliki kewenangan untuk melakukan perubahan (judul misalnya) agar lebih santun.

Boleh kita bicara tentang seks, boleh kita bicara tentang agama, boleh kita bicara tentang politik, boleh kita bicara tentang gosip, boleh, sah-sah saja. Selama ini toh sudah terbukti. Hanya, berpikir panjang bahwa catatan yang kita buat adalah sejarah, dan pada proses ini adalah saling belajar, saling mengingatkan, saling berdiskusi dan berdebat yang mencerahkan masing-masing pihak termasuk para penonton yang membacanya.

Lantas bagaimana? Memang sebaiknya diserahkan kepada ADMIN. Karena admin-lah yang memiliki kewenangan. Kewenangan adalah Kekuasaan. Sebagai Kompasianer yang menggunakan media yang dikelolanya, sudah syukur selama ini admin membuka ruang untuk menerima kritik dan saran. Terima kasih kepada admin telah membuka ruang tersebut.

TAPI PR BAGI ADMIN ADALAH MENATA KEMBALI KOMPASIANA. JANGAN IKUT-IKUTAN MENGELUH DENGAN POSTINGAN YANG ADA. SEBAB ANDA-ANDALAH YANG MEMILIKI KEKUASAAN UNTUK MENATANYA KEMBALI. WALAU KAMI PAHAM ADMIN JUGA MANUSIA…..!!!!

Salam,

Yogya. 06.01.11

Iklan

One comment on “Menyamar Boleh Kok

  1. wedew…… gebe kesenggol wwkwwkwkwk … 😆 :mrgreen:

    salam om Ody

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: