Tinggalkan komentar

Hukum Saja Yang Mengganggu

Oleh:  Odi Shalahuddin

Masih lekat dalam kepala kisah dari seorang senior tentang senior lainnya yang menjadi partner dari senior yang menceritakannya kepada saya. Kedua orang ini dikenal sebagai tokoh gerakan yang aktif mempromosikan persoalan-persoalan anak sejak tahun 80-an hingga tumbuhlah orang-orang dan organisasi-organisasi yang khusus bekerja untuk anak-anak.

Senior saya bercerita tentang pengalamannya ketika mereka berdua pergi ke suatu tempat yang berada di pinggiran pantai. Mereka diantar oleh seseorang yang kelak menjadi aktivis hak anak juga, tapi sekarang sudah jadi pejabat negara.

Mereka bertemu dengan anak-anak nelayan, langsung membuat kegiatan. Ramai anak-anak bergerak bebas, menyanyi bebas, dan bermain-main secara bebas. Tidak ada yang terganggu dengan suara. Pada proses ini, ada satu anak yang sering menjahili kawan-kawannya sehingga dianggap menggangu proses kegiatan. Sekali diingatkan, dua kali diingatkan, tiga kali diingatkan, tetap saja tak berubah.

Senior yang diceritakan itu kemudian menghampiri anak itu, menyeretnya ke pinggiran pantai. Membalik tubuh anak, memegang kedua kakinya. Posisi kepala si anak di bawah. Ia meronta-ronta. Setiap meronta, air laut bisa masuk ke telinga dan mulutnya. Agak lama, barulah anak itu dilepas.

Semua tercengang. Tidak membayangkan seorang tokoh anak memperlakukan anak sedemikian keras. Semua diam, tapi ia mengambil gitarnya. ”Ayo menyanyi lagi,”. Tak lama hiruk-pikuk gembira telah membahana. Bernyanyi, bergerak, bebas merdeka.

Anak yang jahil, menangis, tapi tak meninggalkan tempat itu. Ia memandang saja kawan-kawannya yang bernyanyi.

”Bagaimana? Kita ajak lagi si ”Anu” bergabung?” senior yang diceritakan bertanya pada anak-anak.

”Tidak!!!!” teriakan anak-anak serempak.

”Mengapa?”

”Nanti jahil lagi. Mengganggu!!!”

”Kalau tidak mengganggu dan tidak jahil lagi, boleh bergabung?”

”Boleh…!!!”

Senior kita mendekati anak yang masih belum tuntas isaknya. Anak itu mundur dan agak takut-takut.

”Sini, tidak apa-apa. Nah, kamu dengar kawan-kawanmu. Mau ikutan lagi? Tapi janji tidak boleh jahil dan mengganggu kawan-kawanmu, ya?”

Anak itu mengangguk.

”Ayo, gabung,” dan ikutlah anak itu bersama kawan-kawannya. Larut dalam kegembiraan.

Saya yang mendengar cerita itu, tetap saja merasa tidak terima.

”Loh, tapi perlakuannya bukankah itu kekerasan terhadap anak?”

”Saya juga berpikir seperti itu. Karena itulah saya langsung menanyakannya setelah kegiatan. Ketika ditanya, ia langsung menjelaskan. Pada kebersamaan yang merdeka, boleh saling ribut. Boleh saling berdebat, boleh saling memaki, tapi tetap dalam irama belajar. Tapi bila ada yang mengganggu sehingga mengakibatkan semua proses kegiatan berhenti, maka kita harus mengambil tindakan. Kita harus memilih, apakah proses belajar berhenti lantaran satu anak itu, atau kita memilih kepentingan yang lebih besar. Jadi, harus diberi pelajaran. Anak bersalah, tetap harus diberi hukuman, tapi tidak disingkirkan. Buktinya, ia mau bergabung lagi, bermain lagi, belajar bersama lagi. Sebab dibiarkan saja, ia akan merasa tidak memiliki salah, merasa akan selalu benar segala tindakannya. Mendiamkan, kita akan menjerumuskan anak itu menjadi liar. Ia bisa tersingkir dari kehidupan sehari-hari. Jadi, malah lebih bahaya bila membiarkan ia berlaku seperti itu.”

Saya manggut-manggut saja mendengar kisah ini. Saya tidak merasa yakin mampu untuk melakukannya.

Yogya. 05.01.11

 _______________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: