Tinggalkan komentar

Mau Headline? Hindari Fiksi

Oleh:  Odi Shalahuddin

Sebelum hiruk-pikuk memperdebatkan (atau juga menuangkan ekpresi emosi) tentang lontaran fiksi sampah di Kompasiana oleh Astree Hawa (Wah, kemana ya orang itu. Semoga masih hadir di Kompasiana, walau dengan nama yang lain), para penulis fiksi entah prosa ataupun puisi atau sekedar curhatan, adalah kalangan penulis diantara para kompasianer yang agak terabaikan.

Jumlah penulis fiksi sangat besar dan mereka adalah golongan yang aktif memposting tulisan. Dari serakan postingan, banyak yang bagus, laksana mutiara di padang gersang. tapi bisa terpilih sebagai Headline (HL) masih dianggap mimpi. Lantaran mimpi yang disadari sebagai mimpi, maka saya kira tidak banyak yang berharap postingannya menjadi HL. Sudah menulis, memposting untuk berbagi, saling memberikan komentar dan bersapa, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri.

Lantas, tidak ada HL di rubrik fiksi? Tentu saja ada. Namun, pada masa itu, hanya segelintir orang saja yang bisa bertengger di sana. Mungkin admin cukup pusing bila harus menyeleksi dari ratusan atau ribuan postingan untuk rubrik fiksi yang tak pernah mati. Padahal ada misalnya (sekedar menyebutkan contoh) G dengan puisinya yang menarik atau  Endah Raharjo dengan cerpen-cerpennya yang kuat pada deskripsi situasi.

Bisa jadi, karena hal itu pula, maka pada rubrik fiksi, tulisan yang telah menjadi HL bisa tak tergantikan lebih dari seminggu. Bahkan ada yang pernah mencapai 14 hari atau dua minggu. Ketika berganti, tulisan dari penulis yang sama pula yang menggantikannya. Nah, daripada mikir tentang HL, yang bisa buat pusing tujuh keliling hingga bisa frustasi, maka yang dikembangkan adalah semangat untuk tetap menulis, memposting untuk berbagi dan bersapa.

Vonis dari Astree Hawa tentang fiksi di kompasiana semuanya sampah, telah menggerakkan para kompasianer untuk unjuk gigi. Berbagai tulisan fiksi, pembahasan tentang fiksi, dan juga gugatan terhadap vonis itu, telah menghiasi berbagai postingan di kompasiana.

Selanjutnya ada yang tergerak, menghimpun tulisan yang dinilai baik, dan diposting ke kompasiana yang mendapatkan respon baik. Berawal dari situ, Mommy yang memposting tulisan tersebut, membangun sebuah desa bernama Rangkat yang merupakan kependekan dari Rangkaian Kata. Desa ini berkembang, dengan lahirnya warga-warga baru, dan karya hasil kolaborasi juga sudah sering bermunculan dengan kualitas yang menunjukkan peningkatan.

Di tengah suasana hiruk-pikuk tentang karya sampah, mengemuka pula berbagai postingan yang bernada menggugat tentang kriteria HL, yang dinilai berputar dari sosok-sosok yang itu-itu juga. Kepanjangan HL kemudian sering diplesetkan secara satire oleh para kompasianer menjadi: ”Hanya Lewat”

Pada masa-masa inilah saya melihat ada perubahan, terutama pada rubrik fiksi. Tulisan fiksi yang menjadi HL mulai berseling dengan kompasianer lain. Selanjutnya, mulailah nama-nama baru bermunculan menghiasi HL dari rubrik fiksi seiring dengan semakin menariknya karya-karya fiksi yang diposting para kompasianer. Hal menarik pula, para kompasianer yang biasanya menulis untuk rubrik-rubrik lain mulai terlibat meramaikan fiksi kompasiana.

Saya kira, di luar faktor-faktor lain, Astree Hawa turut memberikan kontribusi untuk menarik perhatian admin kepada rubrik fiksi, lantaran lontaran kritikannya telah meramaikan postingan.

Mau menjadi HL? Lewat fiksi telah terbuka bagi seluruh kompasianer untuk dilirik admin.

Yogyakarta, 7 Desember 2010

Keterangan: Catatan iseng di tengah hari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: