5 Komentar

Tetaplah Menulis Puisi

Oleh:  Odi Shalahuddin

Jangan takut menulis puisi karena puisi berbeda dengan polisi. Ada undang-undang yang mengatur tentang polisi, tapi belum ada undang-undang yang mengatur puisi. Ada protap, juknis, Surat Keputusan, Telegram Rahasia (TR), untuk mengatur apa-apa yang bisa dan harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh polisi, tapi tidak demikian dengan puisi.

Ketika polisi bertindak sesuatu, kita bisa dengan mudah mengidentifikasi apakah tindakan itu benar atau salah. Ini lantaran sudah ada hal yang baku. Tapi, tidak demikian dengan puisi. Kita sulit atau bahkan tidak berhak sama sekali menyatakan suatu puisi itu salah sebagai puisi.

Apa itu puisi? Hingga saat ini tidak ada satu-pun yang memiliki otoritas penuh untuk membakukan pengertian puisi yang menjadi pegangan bagi para penulis puisi. Ada ratusan pengertian tentang puisi di muka bumi ini. Artinya? Puisi bisa bersifat manasuka. Ada kemerdekaan yang ditawarkan, tergantung apa dan bagaimana pilihanmu. Sah-sah adanya. Dan memang semuanya, ada.

Lantaran kemerdekaan yang dijanjikan itulah, maka puisi senantiasa berkembang. Tumbuh liar menjadi hutan belantara. Menyeramkan memang untuk memasukinya, tapi siapapun berhak masuk.

Bila puisi dibangun menjadi sebuah taman. Maka tidak semua puisi bisa masuk ke dalamnya. Ada seleksi, mana puisi yang layak dijejerkan, bersanding antara puisi ”a” dengan puisi ”b”, puisi yang ditempatkan di lahan yang terhormat atau diberi pot khusus, dan ada juga puisi yang berceceran di tanah menjadi permadani penghias taman. Sebagai taman, akan ada yang menjaga dan merawatnya, agar tetap sedap dipandang mata.

Puisi di kompasiana, laksana hutan belantara. Ia tumbuh, bebas, merdeka semerdeka-merdekanya, dan tetap hidup. Seperti memasuki hutan, kita akan melihat keanekaragaman hayati. Kita mungkin bisa melihat pucuk-pucuk pohon yang melambai, pohon-pohon besar yang kokoh, tapi untuk menjelajahinya kita seringkali terhalang oleh semak-belukar yang kadang harus disisihkan guna membuka ruang jalan bagi kita memasuki kedalamannya. Seandainya saja terpikir agar mudah masuk hutan dan seluruh semak-belukar ditebas hingga ke akar-akarnya, maka hutan-pun bisa kehilangan wajahnya. Dalam artian ini, segala hiruk-pikuk tetumbuhan dan hewan-hewan yang bermain di dalamnya, itulah hutan sesungguhnya.

Kendati demikian, kita tidak bisa menjustifikasi bahwa hutan identik hanya dengan semak-semak belukar. Di dalam hutan, kita bisa menemukan hamparan tanaman luas dengan bunga-bunga yang indah, kita bisa menemukan dedaunan yang khas dan bernilai jual tinggi ketika ia diasingkan dan dimasukkan ke dalam pot-pot penghias rumah, kita bisa menemukan pohon-pohon yang menyimpan kayu yang kokoh untuk membangun sebuah rumah. Ah, akan ada banyak kemungkinan yang terjadi dan ditemukan di dalam hutan.

Kita tahu, banyak hutan telah dibasmi. Berganti menjadi hutan seragam. Tentulah berbeda rasa hati ketika berpuluh kilometer kita mengarungi hutan dengan menyaksikan pandangan hanya jenis tanaman serupa, kelapa sawit misalnya. Kita tahu, tanaman itu menyimpan nilai rupiah yang tidak kecil.

Membangun taman, sah-sah pula. Apalagi pada masyarakat kota yang telah kehilangan banyak tanaman. Taman bisa menjadi satu kemewahan tersendiri. Apalagi di bangun di tengah kota yang letaknya sangat strategis. Wow, luar biasa senangnya untuk menepi dari pikiran yang kusut sekusut kemacetan parah yang terjadi.

Ada taman yang terawat. Ada taman yang tak terawat. Sebagai orang waras, tentulah kita bisa menebaknya dengan mudah. Mana yang terawat mana yang tidak. Sebagai orang yang lewat, kita memang hanya bisa menikmatinya.

Tapi ssssssttttt, gosip-gosip biasanya bertebaran di taman….

Lantas, buat apa bicara tentang hutan dan taman? Apa hubungannya dengan puisi? Seperti tergambar di atas, kompasiana adalah hutan, jadi siapapun berhak memasuki dan mengisi ruang-ruangnya. Tak peduli menjadi semak-belukar, menjadi bunga, menjadi batu, menjadi parasit, menjadi pohon besar. Sah semua, berhak hidup semuanya.

Ketika kelak  misalnya admin mulai mengambil otoritasnya untuk menyeleksi dan menentukan mana-mana puisi yang berhak untuk di publish di Kompasiana, maka kompasiana akan berubah menjadi taman. Seolah-olah tumbuhan boleh hidup, tapi sesungguhnya keberadaannya sangat ditentukan oleh sang penentu.

Jadi, tetaplah menulis puisi, jangan khawatir ditangkap polisi. Pelarangan buku sudah dilarang, merdekakan pikiranmu untuk goreskan apapun, kita rimbunkan hutan kita ini yang bernama: Kompasiana!

Tapi jangan terlalu khawatir pula bahwa puisi-puisi yang berserak suatu saat akan terangkut dan mengisi taman-taman di berbagai penjuru indonesia atau bahkan dunia!

Bandar Lampung, 16 Oktober 2010

___________________________________

Komentar di Kompasiana

Iklan

5 comments on “Tetaplah Menulis Puisi

  1. hutan, taman, belukar, bunga bunga indah
    ah, aku pingin jadi bunga indah
    yang hiasi hutan dan taman
    tapi aku tak sanggup berjalan
    menuju Kompasiana… nun disana?
    karena aku hanya sketsa tanpa kosa kata

  2. gebe telat datangnya, dari pada tidak datangsama sekali. Salam om ody 🙂

  3. kerennnnnnnnnnnnn bs lat buat puisi neh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: