Tinggalkan komentar

Tamu

Oleh:  Odi Shalahuddin

Sejak kecil, aku, dan yakin juga dengan dirimu, selalu diajarkan untuk menghormati tamu. Tamu adalah raja, tamu adalah berkah, demikian orangtua atau guru agama kita mengajarkan.

Sebab itulah, kita harus menghindari wajah yang bermuka masam. Kita harus menyambutnya dengan senyum, terlihat gembira kedatangan tamu. Segeralah membuka pintu, persilahkan duduk, dan berikan mereka hidangan terbaik yang kita miliki. Ah, ini pasti telah kita persiapkan dengan baik ketika tamu itu telah memberitahu sebelumnya.

Seringkali, kita gelagapan juga ketika datang tamu yang tiba-tiba telah hadir di depan pintu. Ketergesahan lantaran tidak ada makanan dan minum di rumah, kantongpun sangat terbatas isinya. Tak luput, kita mencatatkan diri lagi menambaha (mungkin) catatan-catatan sebelumnya di warung-warung tetangga.

Tamu adalah raja.

Tamu adalah berkah.

Keyakinan banyak orang, hati berbangga bila rumahnya sering mendapat kunjungan dari para kawan dan sanak saudara.

Aku yakin benar, kebanggaan sangat luar biasa, bila para tamu adalah orang-orang terhormat atau terkenal. Para tokoh masyarakat, pejabat publik atau para selebritis.  Kadang, kawan-kawan kita yang sudah masuk golongan tersebut, kita bujuk agar sesekali bertamu ke rumah kita. Jawabannya tentulah hampir senada, ”ya, ya, ya, nanti kalau senggang pastilah akan singgah ke rumahmu,”

Tamu semacam di atas, dinilai bisa meningkatkan status sosial di hadapan para tetangga.

Sebagai tuan rumah, tetaplah bersikap bijak. Tetaplah tersenyum. Tetaplah menyambut dengan tangan terbuka kepada setiap tamu yang datang.

Tapi, bisa kupahami bila dirimu merasa tersiksa dengan tamu yang datang, berlama-lama, banyak bicara hal-hal yang membosankan. Atau juga kepada para tamu yang datang tanpa mengenal jam di mana saat tuan rumah ingin mengistirahatkan tubuhnya. Atau pada tamu yang menginap tanpa kita tahu kapan ia akan berpamitan.

Bisa kupahami pula bila dirimu akan bersembunyi ataupun lari, menyampaikan pesan kepada anak-anak atau pembantu atau orang-orang di rumah untuk menyatakan bahwa dirimu tidak ada, ketika pintu terketuk dan dari balik tirai kita melihat yang datang adalah para tamu yang datang menagih lantaran kita terlambat  membayar kredit.

***

Sebagai tamu, orang bebas menentukan kapan waktu untuk bertamu. Tidak ada yang berhak memaksa agar ia bertamu setiap hari, seminggu sekali atau sebulan sekali. Cobalah bila terjadi pada dirimu, engkau dipaksa, tentu akan ada reaksi.

Bila yang menyuruhmu bertamu adalah orang yang ”dituakan” atau ’dihormati”, paling-paling engkau akan meredam kejengkelan, dan hanya ”gerundelan” di belakang dan tetap memenuhi permintaannya. Bila orang yang memaksamu adalah kawan ”sebaya” atau status sosialnya sama dengan dirimu, engkau bisa menerima atau juga menolak sambil bercanda, ”Emang gue gak ada kerjaan,” Atau bila orang yang memaksamu untuk bertamu adalah orang yang kau anggap di bawahmu baik secara ”umur” ataupun ”status”, bisa jadi dirimu akan berkata (walau dalam hati) ”Emang Gue Pikirin,” Di luar itu, bila dirimu orang biasa-biasa saja yang tengah tersangkut dalam kasus tertentu, maka engkau pasti akan rutin bertamu sesuai yang ditentukan oleh pihak kepolisian.

***

Nah, di kompasiana di luar kompasianer ada ruang khusus untuk Penulis Tamu dan Blog Jurnalis. Penulis Tamu, yang pernah saya baca di beberapa postingan yang juga sudah lupa waktunya, mereka bergabung di kompasiana, lantaran di minta. Bukan meminta-minta. Mereka pun tidak mendapatkan imbalan materi.

Namanya tamu, apalagi memang diminta untuk berkunjung, dan tentunya orang-orang terpilih yang dianggap mumpuni atau memiliki ”nilai jual” yang dapat mengangkat rumah ini ke khalayak dan menarik orang-orang untuk terlibat. Kita memang patut menghormatinya. Memberikan senyum terbaik kita. Memberikan hidangan yang layak yang ada di rumah kita.

Namanya juga diminta. Ada yang datang hanya sekali setelah itu tak pernah singgah, ada yang sesekali menjenguk, atau ada yang sering bertamu. Saya yakin, jumlah penulis tamu tidaklah banyak. Satu prosen dari seluruh anggota Kompasianer yang konon mencapai 40,000 belum tentu ada.

Mengingat watak tamu yang beragam, sedangkan fasilitas untuk tamu sudah dirancang dan disediakan dalam bentuk kolom khusus di bagian depan (dan tampaknya tulisan menjadi prioritas untuk masuk sebagai Head Line). Satu kehormatan dan kebanggaan tersendiri ketika mereka mem-posting tulisan sebagai kontribusi yang tentunya dilandasi dengan niat baik nan tulus untuk berbagi.

Pada situasi di mana para penulis tamu bersifat tetap dan tidak diberi tanggung jawab misalnya dengan memposting minimal satu tulisan setiap minggu atau setiap bulan, maka cilakalah bagi para penulis tamu yang justru aktif untuk berbagi, seperti Linda Djalil. Dia akan sangat menonjol dan seolah-olah mendominasi halaman pertama lantaran namanya dan postingannya selalu hadir di kolom Penulis Tamu (dan seringkali juga di HL).

Dua tiga bulan belakangan, para kompasianer sudah mulai sering menyentil tentang status penulis tamu yang mendapat penghormatan luar biasa. Postingan yang timbul-tenggelam, lenyap menguap, lahir kembali. Tampaknya hal ini akan menjadi persoalan laten bila tidak segera diatasi.

Berdasarkan situasi yang ada, dengan rendah hati saya mengusulkan:

1.            Menghapus penulis tamu, dengan melihat realita bahwa tidak semua penulis tamu hadir secara rutin dan tidak diberi tanggung jawab untuk hadir (satu minggu sekali, dua minggu sekali, atau sebulan sekali). Hal ini berakibat buruk kepada para penulis tamu yang secara aktif memberikan kontribusi dan terus berbagi melalui postingan-postingannya. Pada satu sisi, ia menjadi sasaran tembak (karena sebagian besar kompasianer hanya mengenalnya, dan tidak mengenal penulis tamu yang lain yang tidak aktif). Pada sisi lain, penulit tamu yang bersangkutan mungkin juga merasa resah lantaran ketidakaktifan penulis tamu yang lainnya, sehingga seolah-olah mendominasi. Menjadi resah karena dituntut untuk menulis yang berkualitas melebihi para kompasianer yang lainnya sesuai bidang yang ia kuasai. Membiarkan situasi ini terus terjadi tanpa penyelesaian yang pasti, maka setidaknya kita telah mendjalimi penulis tamu yang aktif.

2.            Revitalisasi penulis tamu, dengan menempatkan penulis tamu yang bersifat tidak tetap. Admin memiliki tema-tema tertentu dan mengundang orang-orang yang dianggap ahlinya (5-10 orang, bisa juga berasal dari kompasianer) yang memiliki pandangan yang berbeda-beda atas suatu persoalan untuk ditetapkan sebagai penulis tamu dalam rentang waktu tertentu (seminggu atau sebulan misalnya). Mereka wajib menulis sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh admin (hanya mengikat penulis tamu, para kompasianer tetap dibebaskan menulis apapun sesuai tata tertib yang ada) setidaknya satu tulisan. Ini akan membuat penulis tamu dan postingannya menjadi produktif. Diskusi bisa berlangsung  hangat tapi terarah.

Manakah yang hendak dipilih? Ini tentu saja tergantung admin. Atau tidak memilih dua opsi yang diusulkan di atas tapi memunculkan opsi baru, itu juga tergantung admin. Sebab ini merupakan kewenangan admin. Melakukan langkah-langkah apapun untuk mengatasi atau menyelesaikan persoalan yang terus mengemuka, tentunya lebih baik hanya mendiamkan saja para kompasianer saling berdebat tanpa akhir dan tidak menyelesaikan persoalan. Merupakan kehormatan dan kebanggaan para kompasianer, bila admin membuka ruang diskusi untuk mengatasi hal ini. Admin yang demokratis yang mengambil keputusan dengan melibatkan pada kompasianer.

Bagaimana tanggapan anda rekan-rekan sekalian (termasuk admin)?

Yogyakarta, 7 Desember 2010

____________________________________

Catatan: pada akhirnya kolom untuk penulis tamu sudah dihapus di Kompasiana kalau tidak salah sejak Januari 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: