1 Komentar

Menulis dan Menulislah

Oleh:  Odi Shalahuddin

Saat ini saya masih memiliki keyakinan bahwa menulis adalah soal kebiasaan. Sebanyak apapun pengetahuan dan informasi seseorang, belum tentu memiliki kemampuan yang baik untuk menyampaikan sesuatu melalui tulisan, apabila ia tidak terbiasa untuk menulis.

Kita tentu pernah mengalami,  sedemikian lancar menyampaikan gagasan lewat omongan, namun ketika mencoba menuangkannya ke dalam tulisan, terasa sangat tersendat-sendat.

Berbicara dan menulis memang berbeda. Pada saat berbicara, ekspresi dan intonasi memainkan peranan penting untuk menarik perhatian lawan bicara. Sedangkan pada saat menyampaikan sesuatu secara tertulis, penggunaan bahasa memainkan peranan penting.

Menulis dan menulislah terus. Jangan ragu-ragu. Pada saat awal menulis, seseorang biasanya melakukan peniruan-peniruan. Proses pencarian akan berlangsung dengan sendirinya. Hal ini mengingat kita dikaruniai oleh akal dan rasa, maka pada titik-titik tertentu kita merasa sangat tidak puas dengan apa yang kita tuliskan. Kita merasa tulisan kita sangat buruk, memuakkan, dan malu bagi kita untuk membacanya sendiri. Apalagi bila dibaca orang lain. Sehingga masuklah ia ke keranjang sampah.

Pada titik kesadaran itulah, maka kita mulai membaca tulisan orang-orang lain. Membanding-bandingkan satu tulisan dengan tulisan lain. Menulis. Menulis lagi. Dan menulis lagi.

Setelah itu kita akan merasa lancar, merasakan menemukan ruang pengungkapan yang menyenangkan. Namun, proses tidak akan berhenti. Kejenuhan pada cara pengungkapan kita akan muncul. Kita belajar lagi, mengekpslorasi berbagai kemungkinan. Begitulah seterusnya. Bisa berlangsung secara alamiah.

Menulis, membagi kepada kawan-kawan, tentulah ada respon. Ketika kita mendapat kritikan dari kawan kita dengan menunjukkan kelemahan-kelemahan yang ada pada tulisan kita, tentulah itu anugrah. Memacu kita untuk memperbaiki kelemahan yang dimaksud. Kalau kita membutakan diri, merasa sudah menulis sebaik mungkin dan marah terhadap kritikan kawan, maka proses belajar kita akan terhenti. Kita akan terkurung pada bayang-bayang sendiri.

Menulis, menulislah, dan jangan lelah menulis, apapun tujuannya. Ketika kamu sudah membagi tulisan kepada publik, jangan menghindar dari berbagai penilaian. Penilaian baik dan buruknya tulisan dari pembaca, itu menjadi masukan yang sangat berharga.

Kutulis ini untuk menyemangati diriku agar tetap belajar menulis dan menulis lagi. Kuposting ini, agar dapat berbagi. Siapa tahu, kawan-kawan bisa memberi cara yang lebih baik untuk mempercepat proses pematangan sebuah tulisan. Tidak salah kan bila berharap demikian?

Salam damai dengan jiwa merdeka!

Yogyakarta, 9 Oktober 2010

_____________________________

Komentar-komentar ketika diposting di kompasiana:

Iklan

One comment on “Menulis dan Menulislah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: