Tinggalkan komentar

Kurasa Tidak Ada yang Salah

Laki-laki mencuci bukan masalah. Cotoh di Sekolah AlamSeorang kawan, seorang anggota DPRD Kabupaten, pernah menuliskan di status facebooknya, kira-kira begini: “Apa yang salah, bila aku menyapu, mencuci, mensetrika?” Sebenarnya lebih panjang lagi, tapi tak mampu kuingat. Intinya apa yang salah bila seorang laki-laki, yang kini memiliki jabatan melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga.

Masyarakat kita secara umum tentu masih menganggap aneh. Seorang laki-laki, memiliki jabatan, masak sih melakukan kegiatan rumah tangga? Kurang ajar sekali istrinya, tidak tahu diuntung. Mungkin bisa demikian komentar yang muncul.

Tapi aku bisa memahami. Kawan tersebut ketika mahasiswa adalah seorang aktivis mahasiswa radikal. Walau kini berada di satu partai besar yang berkuasa, setidaknya pada masa-masa mahasiswa ia bersentuhan dengan isu-isu kesetaraan gender. Juga ketika berada di sekretariat organisasi kemahasiswaan, tentulah pekerjaan-pekerjaan jenis ini menjadi pekerjaan yang terbagi.

Aku langsung menanggapi statusnya. ”Tidak ada yang salah” begitulah.

Aku sendiri, sejak kecil hidup sendiri. Harus mengurus semuanya sendiri. Termasuk pakaian. Maka harus rajin-rajinlah mencuci, terlebih seragam, karena jumlahnya terbatas. Menunda bisa berarti mempersulit diri sendiri.

Pada awal-awal menikah, walaupun aku sering mengadakan perjalanan ke luar kota. Bila di rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk mencuci pakaian sekeluarga. Pekerjaan ini aku lakukan dengan enteng saja, karena kuanggap sebagai olah raga, sebagai meditasi, sebagai ruang dan waktu untuk berefleksi. Seringkali gagasan-gagasan muncul saat-saat aku mencuci pakaian.

Ketika ada rejeki, bisa membeli mesin cuci, seiring juga dengan perjalanan keluarga yang semakin tinggi, maka ketika di rumah, aku tidak melakukan apapun. Apa-apa, istri yang melakukan. Termasuk juga mencuci piring.

Tapi hampir sebulan ini aku tidak kemana-mana. Hanya berada di Yogya. Pikiran terkonsentrasi pada anak-anak korban letusan Merapi. Walau tidak terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan memfasilitasi anak-anak, aku terlibat dalam rencana dan evaluasi harian, berbagi peran dengan beberapa kawan dalam berkomunikasi dengan pihak luar,  mengikuti perkembangan-perkembangan situasi, dan sesekali turun ke lapangan, terutama ketika melakukan distribusi bantuan atau distribusi pemberian makanan tambahan bagi anak-anak.

Pada masa-masa ini, ada masalah di rumah. Mesin cuci rusak, pompa air tidak berjalan sempurna harus dipancing terlebih dahulu. Sang istri tercinta, punya masalah dengan kedua tangannya yang sulit untuk digerakkan. Di luar itu, Bapak mertua yang tinggal di Imogiri sakit,  istriku-lah yang banyak terlibat mengurusnya. Maka kami berbagi peran. Pagi, sekitar pukul lima, aku harus ada di rumah, memancing air (ada masalah skrup-nya sulit untuk dibuka, tangan istriku tak kuat), memasak air. Anakku yang pertama bertugas membuat teh bagi kami semua. Setelah itu, istriku akan mencari sarapan buat anak-anak. Beruntung sekali, kedua anakku sudah berani mengendarai motor ke sekolah. Walau sadar belum cukup umur, anak pertama bertugas untuk mengantar adiknya ke sekolah terlebih dahulu.

Sebelum jam tujuh Aku sudah bergegas ke tempat kerja sambil membawa pakaian-pakaian kotor kami. Begitu tiba, langsung merendamnya. Setidaknya butuh waktu satu jam merendam pakaian, lalu mencucinya. Waktu yang kurasa tepat, karena setelah selesai mencuci, pada jam-jam itulah kawan-kawan relawan sudah  bangun, rekan-rekan kerja sudah berdatangan. Oh, ya di sela itu, pasti memasak air dulu untuk membuat kopi dan berselancar di Kompasiana.

Sedangkan istriku, bersih-bersih rumah, mampir ke tempat kerjaku untuk menitip kunci rumah, langsung ke rumah sakit di daerah Bantul. Ia harus wira-wiri (mundar-mandir) Rumah sakit di Bantul – Imogiri. Biasanya di atas jam sepuluh malam ia baru tiba di Yogya, ke tempat kerjaku, karena anak-anak, setelah selepas sekolah biasanya berada di tempat kerjaku, bermain dengan anak-anak di sekitar sini, belajar, dan tidur sampai ibunya datang.

Jam dua belas malam biasanya kami pulang ke rumah kontrakan yang letaknya tidak sampai satu kilometer dari tempet kerjaku. Demikian yang terjadi, setidaknya dalam seminggu ini.

Adakah yang salah dengan ini? Kurasa tidak. Walau mungkin orang-orang di sekeliling tempat kerjaku heran dengan adanya jemuran-jemuran milikku dan keluarga (ssst, untuk pakaian dalam, istriku yang mencuci di rumah) atau mungkin rekan kerjaku atau relawan-relawan yang tinggal di tempat kerjaku bertanya-tanya atau saling berbisik tentang kegiatan baruku mencuci pakain di tempat kerja.

Tapi kurasa tidak ada yang salah dengan ini. Bagaimana pendapatmu?

Yogyakarta, 4 Desember 2010

__________________________

Sumber Foto:  DI SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: