Tinggalkan komentar

Yuk, Tetap Menulis

Jujur sajalah, saya kira tidak ada satupun penulis, hanya akan puas bila ia bisa menyelesaikan tulisannya, melemparnya ke publik melalui berbagai media – jejaring sosial, blog, ataupun media cetak – lalu menulis lagi, melemparnya lagi, dan seterusnya demikian. Menulis status di jejaring sosial, seperti FB saja, tiba-tiba akan menyeruak keresahan dalam diri kita bila tidak ada seorang kawan-pun menorehkan sesuatu walau sekedar memberi tanda jempol saja.

Menulis, suka atau tidak suka, kita akan berharap tulisan kita akan dibaca. Semakin banyak orang membaca, semakin senang rasanya. Apalagi bila muncul komentar memuji tulisan kita, memberikan tanda sebagai tulisan yang aktual, inspiratif, bermanfaat, menarik atau menghibur. Ketika kita merasa sudah bersusah payah menulis, yang tentunya membutuhkan waktu dan energi, namun hanya tercatat segelintir orang yang membacanya, keresahan pula yang akan kita alami. Kalau kita merasa tulisan kita merupakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah diperhatikan oleh orang lain namun ia hadir dalam kehidupan, namun tidak tersentuh bagi orang untuk meng-klik dan membacanya, bisa pula muncul kejengkelan. Menganggap orang lain bodoh dan tidak peduli. Keresahan, kejengkelan ataupun kemarahan, dapat dipastikan bisa muncul ketika tulisan kita dianggap sebagai tulisan yang ”biasa, basi, tidak penting, asal tulis,”. Kita akan menganggap orang lain sebagai pihak yang sama sekali tidak mau menghargai orang lain. Bukankah menulis perlu waktu, pikiran, dan (mungkin juga) biaya?

Saya tidak akan menyinggung orang yang tulisannya dituduh atau dapat dibuktikan sebagai karya plagiat. Itu memang memalukan!

Tapi tulisan yang dinilai provokatif? Saya kira ini bisa bermakna positif dan negatif. Tulisan provokatif yang membawa kita pada pencerahan terhadap sesuatu ”persoalan” kehidupan, saya kira ini bisa menjadi pujian bagi penulisnya. Tapi tulisan yang ditandai provokatif yang membawa pada kerusakan, ini tentu persoalan sendiri. ”Kerusakan” yang saya maksud adalah kerusakan yang benar-benar merugikan orang atau banyak orang. Tulisan provokatif, tentulah dibuat dengan sesadar-sadarnya oleh sang penulis agar mampu menimbulkan reaksi. (saya tidak tahu mengapa rating untuk provokatif letaknya paling bawah, di bawah plagiat, yang bisa dimaknakan sebagai penilaian terburuk. Lebih buruk bahkan daripada tulisan yang dinilai asal tulis)

Melalui gambaran di atas, maka ketika kita menulis – apapun motifnya – kita membutuhkan tulisan kita dibaca dan mampu melahirkan berbagai respon dari para pembacanya. Maka berbahagialah kita semua, ketika terbuka ruang yang memungkinkan hal itu dapat diwujudkan, yaitu melalui Kompasiana.

Kompasiana yang dijadikan sebagai sebuah Media Warga (Citizen Media) telah mulai menghipnotis banyak orang untuk menggaulinya. Setiap hari selalu lahir ratusan tulisan dengan beragam tema. Setiap hari pula, puluhan atau mungkin ratusan orang mulai bergabung di dalamnya dan turut meramaikan. Hiruk-pikuk setiap hari dan orang-orang bersapa, berdebat, yang semoga tidak melahirkan permusuhan. Inilah ruang demokrasi, ruang bagi semua orang bisa ber-apa-apa. Semua bisa menulis apa saja, ter-publish tanpa sensor. Intervensi admin Kompasiana baru terjadi bila tulisan sudah dipublish. Sebagaimana dinyatakan dalam ketentuan di tata-tertib: Kompasiana berhak memoderasi, menghapus ataupun tidak menayangkan Konten yang ada. Moderasi dilakukan terhadap Konten yang sudah ditayangkan oleh pengguna.

Jadi, Kompasiana benar-benar sudah menjadi ruang yang demokratis. Hal ini sebagaimana pernah saya tuliskan mengenai kompasiana (Gara-gara Kompasiana, Saya jadi Bodoh!), yaitu:

Inilah ruang demokrasi, pikirku. Ruang bagi semua orang bisa ber-apa saja. Bebas, merdeka, mau bersuara apapun. Menulis dan berkomentar, sekedar berkomentar saja atau memang cuma jadi penonton. Tapi seperti nonton pentas musik di tanah lapang. Ada yang bisa menikmati musiknya, ada yang senang memberikan komentar atas kesalahan, ada orang yang memang senang ramainya saja. Berjoget bersama, saling senggol bisa membuat orang bertambah kawan, tapi bisa juga melahirkan rasa berang. Apalagi kalau penontonnya merupakan gerombolan. Atas nama solidaritas bisa berang semua. Bisa terjadi pengeroyokan. Tapi kalau lawannya juga gerombolan, maka bisa terjadi tawuran masal. Tapi, tampaknya hal tersebut belum terjadi. He.he.h.eh.e.. Soal beginian, memang tergantung orang. Sejauh mana orang mau memahami dan bermain dalam permainan yang demokratis. Terima kasih kepada Kompasiana tentunya yang telah membuka ruang itu.

Hal menarik lainnya, tersedia ruang kompetisi bagi para penulis yang ditentukan oleh Admin yaitu ruang ”Headline” (HL) dan yang ditentukan oleh para pembaca, yaitu ruang ”Ter”. Kedua ruang ini, menjadi pendorong kuat atau harapan bagi para penulis agar tulisannya bisa dilirik oleh Admin dan terpilih menjadi HL atau menjadi pusat perhatian agar bisa menjadi ”Ter” atau bisa meraih keduanya.

Karena itulah, berbagai cara bisa ditempuh oleh para penulis. Misalnya saja memberondong dengan beragam tulisan, membuat judul yang bisa menarik perhatian banyak orang, mengumumkan tulisannya ke berbagai lapak atau ke jejaring sosial lainnya, dan sebagainya. Tulisan-tulisan mengenai kiat-kiat untuk bisa masuk HL dan menjadi yang “Ter” juga sudah bermunculan. Termasuk pula tulisan-tulisan yang mengkritisi tulisan para penulis lainnya yang dinilai berambisi untuk menjadi ”Ter” dengan cara-cara yang dinilai tidak sehat.

Admin juga tidak luput menjadi sasaran. Penilaian terhadap tulisan-tulisan yang dijadikan HL, walau sudah dirumuskan dalam tata-tertib, tetap saja digugat mempertanyakan kriteria dari Admin. Termasuk pula gugatan terhadap masa penayangan HL yang diskriminatif dalam setiap rubrik. Ada HL yang bisa bertahan lebih dari seminggu, tapi ada juga yang hanya beberapa jam saja sudah terganti. Apakah HL itu karena tidak ada tulisan yang bagus untuk menggantikan posisinya atau karena Admin tidak memperhatikan rubrik itu dan asyik dengan beberapa rubrik saja yang HL-nya sangat dinamis terus berganti?

Inilah ruang yang benar-benar demokratis. “Rumah Sehat” demikian banyak disebut. Ruang bisa ber-apa saja. Sepatutnyalah kita menjaga agar ia tetap hidup sebagai rumah sehat yang demokratis. Yuk, tetap menulis, dan menulis !

Salam damai penuh jiwa merdeka!

Yogyakarta, 18 September 2010

_______________________________

Ilustrasi gambar dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: