1 Komentar

Gara-gara Kompasiana, Saya Jadi Bodoh


4 Juni 2010, saya buka account di Kompasiana. Tapi setelah itu terabaikan begitu saja. 25 Juli, baru saya meng-upload tulisan pertama. Ini karena geregetan atas kasus pembatalan pembacaan “Suara Anak Indonesia” yang dihasilkan dari Kongres Anak Indonesia, di depan SBY saat peringatan Hari Anak Nasional di TMII.

Berawal dari situ, mulai melihat lapak-lapak para Kompasianer. Sebagai pendatang baru, cuma jadi penonton saja. Asyik juga. Ada dialog, ada canda, ada makian, ada gosip, ada debat kusir, ada….. sepertinya semua ada. Seperti toko kelontong yang sekecil apapun, tapi menyediakan apa saja. Sayangnya toko kelontong semakin sedikit. Sudah terpinggirkan oleh mini market, supermarket, dan mall-mall.

Inilah ruang demokrasi, pikirku. Ruang bagi semua orang bisa ber-apa saja. Bebas, merdeka, mau bersuara apapun. Menulis dan berkomentar, sekedar berkomentar saja atau memang cuma jadi penonton. Tapi seperti nonton pentas musik di tanah lapang. Ada yang bisa menikmati musiknya, ada yang senang memberikan komentar atas kesalahan, ada orang yang memang senang ramainya saja. Berjoget bersama, saling senggol bisa membuat orang bertambah kawan, tapi bisa juga melahirkan rasa berang. Apalagi kalau penontonnya merupakan gerombolan. Atas nama solidaritas bisa berang semua. Bisa terjadi pengeroyokan. Tapi kalau lawannya juga gerombolan, maka bisa terjadi tawuran masal. Tapi, tampaknya hal tersebut belum terjadi. He.he.h.eh.e.. Soal beginian, memang tergantung orang. Sejauh mana orang mau memahami dan bermain dalam permainan yang demokratis. Terima kasih kepada Kompasiana tentunya yang telah membuka ruang itu.

Saya mengirim beberapa tulisan lagi, secara jujur, awalnya tulisan-tulisan lama. Di sela-sela itu, mencoba untuk membuat tulisan. Lama-lama membuat tantangan pada diri sendiri, minimal dalam sehari mengirim dua tulisan. Nah, ini yang menjadi masalah.

Saya harus meluangkan waktu untuk menulis. Sedangkan saya tidak pernah berani untuk menyediakan waktu khusus untuk itu. Kebetulan saja, saya tengah berhutang banyak untuk pekerjaan yang juga berhubungan dengan tulisan, yang tak kunjung selesai karena keterbatasan saya. Tapi bersyukur, spontanitas muncul untuk menulis sesuatu, yang entah untuk apa, tapi biar gampang dikategorikan saja sebagai fiksi.

Banyak terlintas untuk menulis tentang sesuatu. Tentang persoalan-persoalan anak-anak yang kebetulan saya geluti. Tapi saya hanya berhasil menulis tentang anak yang dilacurkan. Itupun saya sama sekali tidak merasa puas. Terlintas untuk menulis anak-anak yang berada dalam situasi konflik, tentang anak jalanan, tentang anak yang berkonflik dengan hukum, tentang organisasi-organisasi anak yang tumbuh di berbagia kota, tentang… tentang … dan tentang…… anak-anak. Atau terlintas pula untuk menulis masalah-masalah sosial-budaya, yang dulu pernah menjadi perhatian saya.

Tapi, ya hanya lintasan-lintasan saja. Tak pernah atau hingga saat ini belum terwujudkan. Ketika akan memulai, saya merasa “tahu” namun “tidak tahu”. Untuk menuliskannya, saya menyadari harus banyak membaca, harus memiliki interaksi dengan persoalan, harus membangun obsesi tentang perubahan. Di sinilah, saya merasa sangat-sangat bodoh. Ditambah lagi, membuka dan menguak lapak-lapak dari para kompasianer yang mampu menulis dengan baik. Semakin menggoda untuk menulis, tapi saya tak mampu dan sekali lagin membuat saya semakin bodoh. Semakin tidak mengerti apa yang akan saya tulis.

Gara-gara kompasiana, saya jadi bodoh. Merasa bodoh! Hal ini menantang saya untuk belajar banyak. Dan berharap memiliki kemampuan menulis. Berharap membuat tulisan yang memiliki kegunaan. Akankah itu terwujud atau itu hanya omong kosong obsesi belaka. Entahlah. Waktu yang akan menjawabnya. Semoga…

Yogyakarta, 18 Agustus 2010

________________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

Iklan

One comment on “Gara-gara Kompasiana, Saya Jadi Bodoh

  1. […] sudah menjadi ruang yang demokratis. Hal ini sebagaimana pernah saya tuliskan mengenai kompasiana (Gara-gara Kompasiana, Saya jadi Bodoh!), […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: