1 Komentar

[Desa Rangkat] Kompasiana, Saya dan Desa Rangkat

Bermula dari isu fiksi sampah yang dilontarkan AH yang membuat gerah para kompasianer khususnya yang biasa bergelut di bidang fiksi. Apabila AH menggunakan istilah “sampah” untuk memancing reaksi, maka ia telah berhasil. Keberhasilan ini seandainya diikuti oleh dialog yang produktif, tentunya akan menghasilkan banyak manfaat bagi siapapun (kompasianer) yang mengikuti proses tersebut.

Headline di Kompasiana

Sayangnya, AH tidak siap dengan itu sehingga ia tergagap. Sayangnya lagi, kegagapannya dimunculkan dengan bersikap “angkuh” merendahkan para kompasianer yang memberikan komentar di lapaknya. Seandainya saja ia bersikap rendah hati, ia bisa dikatakan sebagai “pahlawan” yang menggeliatkan kehidupan fiksi di kompasiana sehingga menimbulkan perhatian yang meluas kepada para kompasianer lain yang awalnya tidak pernah bersentuhan dengan rubrik fiksi.

Adalah Mommy, yang jengah dengan kritikan AH, ia memposting puisi: Hanya Puisi Sampah , yang seminggu kemudian dilanjutkan dengan menghimpung berbagai komentar yang dinilainya puitis dan menarik kemudian mempostingnya menjadi satu himpunan kata-kata yang menyentak perhatian. Mommy memposting tulisan: Mari Merangkai Kata pada tanggal 16 Oktober 2010:  Pada postingan berikutnya, ia masih merangkai tulisan para kompasianer sekaligus mendeklarasikan tentang desa imajinatif, yaitu : DESA RANGKAT (Lihat: Celotehan Penduduk Desa Rangkat: . Ia memulai catatannya dengan:

.Disebuah desa khayalan… Namanya sebut saja Desa Rangkat sebuah desa kecil dikaki gunung  Naras. Alamnya masih sangat asri udara pegunungan yang sejuk belum tercemar polusi, yang menarik dari desa Rangkat, penduduknya gemar sekali bertegur sapa dengan rangkaian kata yang indah seperti berpantun atau berpuisi ,Keramahan penduduk Desa Rangkat sudah terkenal keseluruh Negeri.

Pada tulisan di atas, Mommy tidak menjelaskan tentang apa itu Desa Rangkat, namun menanggapi komentar yang ada, ia menuliskan:

Cerita ini terinspirasi dari koment yang ada di merangkai kata… Desa Rangkat… singkatan dari rangkaian kata…. byk sekali kata2 indah disana…. mom berharap teman2 yg melanjutkanya dg gaya masing2…. asal kata2 yg ada disana bisa dimasukan… hhehe

Sebagai catatan, kelak kemudian kepanjangan Rangkat bukan lagi Rangkaian kata yang bersifat pasif melainkan menjadi Merangkai Kata yang bersifat aktif (cipta). Untuk ini lihat misalnya masukan dan penjelasan dari Pak Yayok selaku Kades Desa Rangkat:

“Rangkat itu adalah meRANGkai KATa
Bukan RANGkaian KATa
Merangkai Kata adalah MENCIPTA
Sedang rangkaian kata adalah HASIL KARYA

Mencipta, selalu mencipta, adalah KERJA
Selama kita hidup sebagai warga desa
Salam Asah-Asih-Asuh…”
(Komentar Pak Yayok, lihat DI SINI)

Itulah jawaban Mommy atas kritik “fiksi sampah”. Jawaban cerdas, lantaran ada dua hal yang dimunculkan: 1) menunjukkan bahwa sebagian kompasianer memiliki potensi dan élan berkarya yang layak untuk diapresiasi, 2) menarik kompasianer untuk berhimpun, melatih diri, dan berbagi, dengan fokus pada karya puisi.

Pada butir kedua inilah, komunikasi intensif antar kompasianer melalui postingan, tanggapan, rangkaian tanggapan yang menjadi karya kolaboratif, diposting, dan begitulah sehingga semacam ada siklus pergaulan produktif untuk menghasilkan karya. Mommy, tak henti-henti mempromosikan kepada para kompasianer untuk bergabung bila ada kompasianer yang menorehkan komentar atau ajakan melalui pesan-pesan ke inbox. Satu persatu hadir, langsung berinteraksi, melontarkan postingan, hingga kemudian terbentuklah apa yang disebut sebagai warga desa rangkat.

Awalnya puisi, kemudian berkembang menjadi cerita. Sepengamatan saya, cerita-cerita awal mengandalkan pada prosa liris. Mengandalkan pada kata-kata yang puitis. Namun kemudian, terbebaskan dari persyaratan demikian. Ketika saya menanyakan kepada Mommy, berikut yang disampaikan dalam komentarnya:

“Mas odi… niat awalnya lahir desa rangkat….adalah postingan berupa puisi…yang dirangkai dengan cerita….. tapi memang setelah byk tulisan yg publish… tidak semua bisa memenuhi hal itu….. akhirnya biarlah mengalir saja… namanya juga masih baru..hehhe” (26 Oktober 2010, 18:02:55)

Menjadi Warga Desa Rangkat

Saya sendiri, tak kuasa menolak ajakan Mommy untuk bergabung. Setelah menimbang-nimbang dan membaca postingan-postingan yang sudah ada tentang Desa Rangkat, saya masih merasa ragu. Pertimbangan ini kemudian saya tulis dan posting ke kompasiana, pada tanggal 26 Oktober 2010, bertepatan dengan hari pertama meletusnya Merapi: Pak Guru Bingung . Hal mana sehari setelahnya, saya membuat keputusan untuk bergabung, dengan memposting tulisan pada tanggal 27 Oktober pukul 00:00: Keputusan Pak Guru.

Beberapa bencana yang terjadi, menjadi perhatian dari para warga Rangkat melalui postingan-postingannya. Karena itulah, dalam kolom tanggapan di bawah postingan Keputusan Pak Guru, saya menuliskan:

Warga desa Rangkat nan mulia
senantiasa berdoa untuk umat manusia
sisihkan ego, kedepankan kebersamaan demi hidup sejahtera dan kebahagiaan
tangis di ujung dunia juga duka bagi segenap warga mengalir doa-doa
bukan mantra-mantra sebab para warga beragama walaupun tidak harus serupa
Kehidupan di Desa Rangkat penuh dengan dinamika menghargai berbagai perbedaan

dengan dialog terbuka
tak ada hujat menghujat
tak ada lempar batu sembunyi tangan
sebab suara adalah cahaya jiwa
berkata berbeda adalah anugrah

maka, bila hendak belajar
hiduplah di desa Rangkat
berbagai ilmu bertebaran
pada setiap ruang dan pada setiap jiwa

ayo, janganlah ragu…

Saya sendiri setelah memutuskan bergabung kebetulan ada kegiatan yang tidak memungkinkan saya mengikuti perkembangan Desa Rangkat. Saya mengikuti sebuah acara lebih dari 10 hari yang tidak memungkinkan saya untuk bisa OL. Sebagai pengantar atas kepergian sementara saya memposting tulisan pada tanggal 28 Oktober 2010: Tugas Dari Pak Kades.

Sayangnya, setelah itu saya juga belum bisa terlibat banyak meramaikan Desa Rangkat. Sesekali saya masih mengikuti beberapa postingan warga Desa Rangkat yang semakin ramai di kompasiana dengan beragam tema. Saya melihat kompasianer yang biasanya tidak membuat fiksi sudah mulai terlibat. Dalam hal ini, saya merasa bahwa Desa Rangkat berhasil menularkan virusnya kepada para kompasianer untuk tidak saja menoleh atau melirik ke fiksi, tetapi juga menjadi pelaku pencipta fiksi.

Rangkat di mata saya

Mencermati postingan dari para warga rangkat, patut diakui ada semangat yang menggelegar. Berbagai imajinasi tertuang dalam berbagai karya fiksi yang dilekatkan ke Desa Rangkat. Persoalan-persoalan yang tengah mengemuka, menjadi sasaran yang ditampilkan dan dikemas dalam bungkus Desa Rangkat. Artinya, realitas dikemas ke dalam imajinasi, disertai pandangan dan gagasan terhadap persoalan. Ini berarti pula semangat menciptakan fiksi yang tidak mengabaikan realitas kehidupan sehari-hari, baik dari tingkat yang terkecil di lingkup keluarga hingga lingkup yang lebih besar, menyentuh persoalan-persoalan berbangsa dan bernegara. Ini semua sangat terbuka untuk dilahirkan.

Karena itulah, ketika menulis: Membangun Dunia di Kompasiana, saya mengambil contoh perkembangan Desa Rangkat. Tanpa ragu saya menulis:

Sadar atau tidak sadar, pada akhirnya kompasioner yang bergabung dalam Desa Rangkat tidak sekedar merangkai kata-kata, melainkan juga mencoba membangun dunia. Dunia ideal untuk mensikapi kehidupan nyata yang sama sekali sudah menjemukan dan memuakkan. Terlebih melihat para pemimpin bangsa ini yang cenderung brengsek.

Desa Rangkat tengah membangun nilai-nilai kehidupan yang hingga saat ini belumlah selesai. Ia akan terus tumbuh seiring dengan gagasan-gagasan liar kehidupan yang tumpah di desa imajinasi ini.

Selanjutnya saya juga melontarkan sebuah pengharapan:

Suatu perubahan dalam kehidupan, tak jarang lahir dari pengharapan dan mimpi-mimpi, termasuk imajinasi. Imajinasi dalam karya, bisa terasa lebih nyata. Siapa tahu, dari gagasan liar yang hidup di Desa Rangkat, kita bisa menemukan gagasan yang bisa diterafkan di dalam dunia nyata, terutama di Indonesia, untuk membangun sebuah bangsa dan negara yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan bagi para warganya. Mungkinkah itu? Saya kira, mungkin……

Saya mungkin sangat subyektif di dalam memberi penilaian terhadap Desa Rangkat mengingat saya, walaupun tidak sangat aktif, juga terlibat di dalamnya. Namun itulah kesan dan pandangan saya.

Selanjutnya, saya melihat intensitas hubungan yang sangat tinggi, tidak terbatas pada komunikasi dalam ruang komentar-komentar atas postingan dengan tag ”desarangkat”, melainkan juga adanya kopi darat yang beberapa kali terjadi, komunikasi melalui chatting, email, sms, dan telpon, membuat warga desa rangkat semakin lekat.

Tidak mengherankan apabila karya-karya kolaborasi dalam bentuk puisi-puisis senantiasa lahir. Kemudian, yang secara mengejutkan adalah penulisan cerita yang diberi tajuk ”Episode Cinta Rangkat” yang dalam hitungan hari sudah mencapai lebih dari 50 cerita. Luar biasa sambutan dari gagasan untuk membuat cerita-cerita tentang cinta.

Bagi pembaca, tentu mengejutkan bahwa masing-masing cerita dapat bersambung dengan tokoh dengan karakter dan posisi yang tidak berbeda antara satu dengan lainnya walau para penulisnya beragam. Inilah lagi yang patut dicatat bahwa setiap orang bisa hadir di desa rangkat, mengambil posisi dan peran tertentu, setelah itu membangun imajinasi tentang lingkungannya. Bila tidak salah, sudah ada 100-an warga dengan beragam posisi yang hadir dengan posisi-posisinya sendiri dalam berbagai kisah tentang Desa Rangkat.

Aset Kompasiana

Tanpa mengesampingkan komunitas-komunitas lain yang hadir di dalam kompasiana, komunitas Desa Rangkat merupakan aset berharga dari Kompasiana. Di luar kelemahan dan keterbatan-keterbatasan yang ada, para kompasianer ini telah dengan sukarela meluangkan banyak waktunya untuk saling belajar, saling menyemangati, saling bersapa, sehingga lahirlah karya-karya fiksi yang bukanlah tidak mungkin suatu saat akan lahir karya yang baik yang bisa meramaikan tidak sekedar fiksi di kompasiana melainkan juga fiksi di tanah air.

Hanya masalahnya, dibutuhkan adanya kompasianer yang bersedia meluangkan waktu untuk mencermati karya-karya Desa Rangkat dan memberikan penilaian obyektif sebagai suatu karya. Masukan bahkan kritik sepedas apapun saya kira akan mampu diterima oleh para kompasianer yang berhimpun di Desa Rangkat. Hal ini penting, mengingat, di tengah hiruk-pikuk komunikasi yang sangat intens, biasanya orang sering terlupa untuk menjaga dan meningkatkan kualitas tulisannya, karena asyik dengan kesendirian dan komunitasnya, sehingga komentar-komentar lebih cenderung pada sapa-sapa sesama kompasianer yang tidak kritis lagi.

Desa Rangkat bukanlah wilayah tersendiri dari kompasiana. Seperti sebuah sekolah, akan ada kerumunan-kerumunan perkawanan yang bisa terbentuk secara alamiah. Tapi bagaimanapun juga tetaplah mereka sebagai bagian dari sekolah tersebut.

Yogyakarta, 29 Desember 2010

One comment on “[Desa Rangkat] Kompasiana, Saya dan Desa Rangkat

  1. udah mempunyai tugas masing2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: