Tinggalkan komentar

Membaca dan Memaknai Pengalaman Anak

Oleh:  Odi Shalahuddin

Anak-anak adalah manusia. Ia juga memiliki pancaindera untuk menangkap sesuatu yang dilihat, dialami dan dirasakannya. Ia juga memiliki kemampuan untuk menyampaikan realitas yang dihadapi beserta pandangan-pandangannya.

Tulisan ini menjadi Headline di kompasiana

Persoalannya, dalam kehidupan sehari-hari banyak orang masih menganggap anak-anak tidak tahu apa-apa. Mereka sering hanya dijadikan obyek dari desain rencana orang dewasa, tanpa mempertimbangkan bagaimana suara dari anak-anak itu sendiri.

 Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990, memuat salah satu hak anak adalah Negara Peserta akan menjamin hak anak untuk mampu mengembangkan pandangan-pandangannya, hak untuk menyatakan pandangan itu secara bebas dalam segala hal yang berpengaruh pada anak, dan pandangan anak akan dipertimbangkan secara semestinya sesuai usia dan kematangan anak.

Ruang bagi anak untuk menyampaikan pandangan-pandangannya sudah mulai dibuka dalam pertemuan-pertemuan internasional. Special Session on Children yang merupakan spesial sesion ke 27 dalam Sidang Umum PBB yang diikuti perwakilan dari 190 negara pada tahun 2002, secara paralel menghadirkan perwakilan anak-anak. Sekitar 400 anak dari seluruh dunia berhasil juga menyusun dokumen ”Dunia yang Layak bagi Anak”. Pelibatan anak dalam pertemuan PBB menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap anak-anak untuk turut mendengar dan menyampaikan pandangan-pandangannya yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi dokumen yang dihasilkan. Sekjend PBB pada masa itu, Kofi Annan dalam pidato pembukaan menyatakan ”Anak-anak dalam ruangan ini adalah saksi hidup dari setiap kata yang kita ucapkan.”

Sejarah telah terbangun, dilanjutkan dengan berbagai pertemuan internasional, terutama yang menyangkut kehidupan anak, juga menghadirkan anak-anak sebagai bagian dari delegasi yang terlibat dalam pertemuan tersebut.

Di Indonesia, upaya membuka ruang partisipasi anak juga telah dibuka. Organisasi-organisasi anak di tingkat desa, kota/kabupaten, dan provinsi difasilitasi dan dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan pengambilan keputusan/kebijakan negara.

Mengenai ruang bagi anak untuk menyampaikan pandangan-pandangannya, saya pernah menulis, katakanlah sebuah puisi, yang pernah saya posting di Kompasiana:

Mari Dengar Suara Anak

masih terkejutkah, ketika anak-anak bersuara
seringkali di luar duga kita, membuat kita terpana
dan kita menempatkannya sebagai pikiran orang dewasa
anak-anak
anak-anak kita,
telah melesat jauh mengarungi dunia
mereka belajar mengeja, membaca, dan menyelaminya
banyak guru selain di sekolah dan selain para orangtua
berselancar menembus batas, dalam dunia maya yang nyata
Kita tahu, kita terpesona,
tapi masih saja gagap mendengar mereka bersuara
apalagi bila menyentuh yang kita anggap urusan orang dewasa
menempatkan mereka sebagai anak kecil tak tahu apa-apa
maukah kita belajar membuka mata
anak-anak tahu dunia mereka dan tahu apa yang dirasa
kita belajar mendengar suara-suara
yang mungkin mengusik kita sebagai orang dewasa
biarkan mereka hidup berjiwa merdeka
menggemakan suara-suara
demi perubahan dunia

(Yogyakarta, 9 Desember 2010)

Bersama Anak-anak Lereng Merapi

Gambar sebagai salah satu ekspresi anak

Letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010, dan disusul dengan letusan pada tanggal 3 dan 5 November 2010 telah mengakibatkan kerusakan yang sangat parah dan mengakibatkan ratusan orang meninggal. Ini merupakan bencana yang terbesar dan terlama dalam sejarah Merapi pada 100 tahun terakhir.

Ratusan ribu orang dari empat wilayah yang berada di sekitar lereng Merapi (Sleman, Klaten, Boyolali dan Kabupaten Magelang) terpaksa harus mengungsi untuk waktu yang juga cukup panjang. Diantara pengungsi itu adalah anak-anak.

Anak-anak, merupakan kelompok paling rentan dalam situasi darurat. Di tengah kepanikan dan keputusan-keputusan yang harus diambil dengan cepat, kerapkali kepentingan anak-anak justru terabaikan.

Tim Kemanusiaan Merdeka (TKM) SAMIN, merupakan salah satu kelompok yang memfokuskan pada pendampingan terhadap anak-anak di berbagai lokasi pengungsian. Selama empat bulan kelompok ini bekerja. Dua bulan terakhir mereka memfokuskan pada 12 komunitas di Kabupaten Sleman, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Magelang.

Berbagai rangkaian kegiatan diselenggarakan untuk membuat anak-anak tetap bisa menikmati dunia anak-anak yaitu bermain dan belajar. Pada proses ini dukungan psikologis untuk melakukan psiko-sosial dilakukan secara beriringan.

Pendekatan yang dilakukan adalah menggunakan pendekatan media artistik, yaitu melalui gambar, lagu, tulisan, teater, dan berbagai ketrampilan untuk menghasilkan karya. Karya yang berisi realitas kehidupan sehari-hari dan pandangan mereka. Pendekatan ini dipilih karena mengandung unsur seperti disebutkan di atas, yaitu suasana bermain dan belajar.

Bermain sekaligus belajar

Suara-suara Anak

Ada ribuan karya yang dihasilkan selama proses berkegiatan bersama anak-anak. Ini tampaknya sangat sayang bila hanya lewat begitu saja tanpa didesiminasikan. Salah satu yang dilakukan adalah memamerkan karya-karya mereka. Selain itu, juga mendokumentasikan dalam sebuah buku. Memang tidak semua karya bisa termuat dalam buku. Tapi dengan keterbatasan yang ada, layaklah diberi penghargaan atas terbitnya buku “Erupsi Merapi, Lahirkan Inspirasi dan Aspirasi” sebagai catatan dan karya anak-anak lereng Merapi.

Pada buku itu, karya anak ditampilkan apa adanya, dengan coretan tulisan tangan yang masih asli. Diselingi karya-karya gambar yang dihasilkan oleh mereka secara personal ataupun secara berkelompok. Karya-karya ini dibagi ke dalam beberapa tema. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Pandangan Anak tentang Merapi

Tanda Merapi akan meletus adalah suara sirene dan di gunung ada suara gemuruh. Jarak (puncak) Merapi dari rumahku (6) enam kilo dan itu bahaya sekali

(Wahyudi, 10 tahun)

Cerita tentang Merapi ada loh, kita tidak boleh berkata wedhus gembel. Seharusnya berkata awan panas.

(Fitria Mifta Churrohma, 12 tahun)

Mitos tentang Merapi yang tidak boleh adalah menunjuk, tidak boleh naik ke puncak Merapi kalau nekat nyawa sendiri yang mateng

(Rifky Alfianto, 9 tahun)

Tiga kutipan yang dituliskan oleh anak menunjukkan adanya pembelajaran yang hidup di masyarakat Merapi yang juga ditularkan ke anak-anak. Pemahaman ini menjadi penting sehingga anak-anak juga bisa bersikap waspada terhadap kemungkinan bencana yang akan terjadi.

Merapi dari desa Bangan, Klaten

Kearifan lokal yang ditunjukkan untuk memperlakukan Merapi, seperti tidak boleh mengatakan wedhus gembel dan menunjuk dengan jari ke arah puncak Merapi, tentu ada ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Sayang ini memang tidak terungkap dalam karya anak. Atau, penyebaran perlakuan tidak sampai pada informasi tentang makna tersebut sehingga anak-anak hanya diinformasikan tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan.

Seorang kawan, Damar Dwi Nugroho yang menjadi Koordinator Lapangan TKM pernah memiliki pengalaman dimarahi oleh Mbah Marijan saat erupsi Merapi pada tahun 1996. Pada saat itu ia menanyakan arah jalur “wedhus gembel”.

“Wedhus gembel, wedhus gembel….!!! Tidak ada itu Wedhus gembel…!!! Yang ada itu awan panas,” katanya dengan nada tinggi.

Damar menambahkan, masyarakat di sana juga memiliki pantangan lain, seperti tidak membokongi puncak Merapi.

Tanda-tanda alam akan terjadinya bencana erupsi Merapi yang dikenal selama ini ada yang bersifat logis seperti turunnya binatang buas memasuki perkampungan, unggas-unggas terlihat gelisah dan membuat suara gaduh, namun juga ada yang bersifat mistis, seperti penampakan awan dengan sosok yang disebut Mbah Petruk, terlihat awan cyrus atau awan yang memanjang (kehadiran awan ini juga sering dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya bencana gempabumi)

Mengungsi dan pengalaman di Pengungsian

Aku mengungsi di stadion Maguwoharjo. Aku mengungsi kurang lebih pukul 12 malam. Kendaraan yang dipakai untuk mengungsi hanya motor. Aku membonceng bulikku bersama ibuku. Kami sempat berhenti karena ban motor yang kami pakai bocor. Untungnya ban motor kami bocornya sudah sampai Denggung. Kami menunggu di sana sampai pukul 04.30. Pukul 05.00 akhirnya kami dijemput Omku. Kami sampai di pengungsian pukul 05.30.

(Estu Ganti Retna Utami, 11 tahun)

Letusan pertama Merapi mengakibatkan penduduk di daerah bahaya, yaitu sekitar 10 km dari puncak Merapi harus mengungsi di tempat-tempat yang telah disiapkan. Namun, perkembangannya, wilayah bahaya terus diperluas sampai 15 km, dan diperluas lagi hingga radius 20 km dari puncak. Apa yang disampaikan oleh Estu dalam tulisannya, menunjukkan proses perpindahan pengungsi pada tanggal 5 November 2010, ketika terjadi letusan terbesar Merapi.

Berpindah pengungsian dari Dompol

Perpindahan pengungsian juga sering terjadi. Pada saat di lapangan, ada anak yang menceritakan mengungsi sampai 12 kali berpindah-pindah. Sayang hal ini tidak terungkap dalam karya anak yang ditampilkan dalam buku ini. Tapi perpindahan pengungsi hingga beberapa kali muncul dalam tulisan Shopia berikut ini:

Saya pindah mengungsi empat kali. Pertama saya mengungsi di SMP Prayan, kedua saya pindah ke Karanggawan, ketiga saya pindah ke Melati, dan keempat saya pindah ke Sayegan,”

(Shopia Nurul Mahmudah, 10 tahun)

Namanya juga mengungsi, pastilah kehidupan yang dirasakan tidak mengenakkan. Anak menggambarkan situasi di pengungsian seperti berikut ini:

Aku saat mengungsi di Maguwo, tempatnya kumuh, karena banyak debunya.Tapi tempatnya luas.Air untuk mandi bersih dan banyak WC-nya, tapi kotor. Aku tidurnya beralas karpet dan tikar di tenda. Bantalnya dari baju

(Krisna Ramadhanie TRA, 8 tahun)

Setiap malam aku kedinginan. Setiap malam-pun digigiti nyamuk. Alasanyapun hanya tikar. Mengungsi membuatku malas untuk belajar. Tiap kali belajar mati lampu.

(Fika Muharan Maulana, 10 tahun)

Situasi pengungsi di GOR Pangukan, Sleman

Makan sebagai salah satu kebutuhan dasar bagi manusia harus bisa terpenuhi. Berbagai pengalaman dalam situasi darurat, kebutuhan makan bagi anak-anak sering terabaikan. Dapur-dapur umum yang terbangun misalnya, ketika mempersiapkan makanan, tanpa sadar mereka membuat masakan yang disesuaikan dengan kebutuhan orang dewasa, misalnya terlalu asin atau pedas.

Diskusi-diskusi bersama para pelaku yang memberikan pelayanan terhadap para korban bencana, persoalan semacam ini bisa mengejutkan dan melahirkan kesadaran baru. Sayang, memang tidak semua bisa menindaklanjutinya di lapangan.

Hal ini mengakibatkan anak-anak tidak bisa menikmati makanan yang disediakan. Kesadaran muncul belakangan saat mengetahui anaknya belum makan, barulah dibuatkan makan bagi anak mereka, biasanya mie instan. Seorang anak menceritakan dalam tulisannya:

Aku makan di pengungsian rasanya tidak enak sekali. Aku ingin makanan yang bergizi. Kalau di pengungsian, dikit-dikit Sarimie. Rasanya itu sangat tidak enak. Kayaknya cuma dihangatkan…..

(Ita Wulandari, 11 tahun)

Distribusi nasi bungkus untuk anak

Selain persoalan jenis makanan, di beberapa pos pengungsian seringkali cara memasak tidak terkontrol atau tidak ada pengawasan untuk menjamin makanan yang layak bagi para pengungsi. Saya ingat, pengalaman beberapa relawan yang sempat ribut dengan para pengelola dapur umum. Hal ini diantaranya ketika seorang relawan mendengar ada seorang pengelola yang mengatakan: ”Pengungsi itu dikasih apa saja pasti mau makan. Tidak perlu matang-matang, setengah matang saja juga pasti dimakan,”

Pengalaman lain terkait dengan hal ini adalah cara pengolahan makanan yang tidak sehat dan terkesan menjijikkan. Salah seorang relawan sempat menemui dan mengabadikan lewat foto ketika seseorang berpakaian seragam tertentu tengah mengaduk makanan dengan kedua tangannya tanpa sarung tangan. Ketika foto ini disebarluaskan, terjadi banyak perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa penyebar foto cuma melihat jeleknya saja tapi tidak bisa memberikan pelayanan.

Hal lain adalah soal waktu makan. Kerapkali dijumpai di berbagai pos pengungsian, mengingat banyaknya jumlah pengungsi dan keterbatasan tenaga, maka waktu makan bisa tidak teratur. Makan pagi, baru bisa disediakan pada jam 11 siang, makan siang pada sore hari dan seterusnya. Selain itu, proses distribusi tidak jarang belum menemukan mekanisme yang tepat sehingga tidak teratur. Ada orang yagn bisa mendapatkan lebih dari satu, tetapi juga ada yang tidak mendapatkan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Tusiran dan Rani berikut ini:

”…Harusnya antrian makanan yang tertib, ditulis nama biar tidak dobel. Kenapa anak-anak beli makanan di luar karna tidak diberi makan yang disukai anak-anak. Tapi kasihan ibu anak-anak tidak mencari uang karena di rumah banyak debu berserakan.”  (Tusiran, 11 tahun)

Seharusnya aku mendapatkan makanan yang banyak, tetapi orang itu tidak membagikan (Rani Widyawati, 9 tahun)

Buah-buahan dibutuhkan anak

Situasi-situasi mengenaskan di dalam pos pengungsian pastilah bisa dialami oleh seluruh pengungsi dan bisa dirasakan oleh orang-orang yang menyaksikan situasi mereka. Karena itulah, pernyataan seorang mentri yang mengatakan bahwa para pengungsi itu enak karena semuanya disediakan dan tinggal makan, sangat menciderai perasaan para pengungsi dan menimbulkan reaksi dari berbagai pihak terhadap sang mentri tersebut. (Lihat postingan saya tentang pernyataan sang mentri tersebut DI SINI)

Saat kepulangan dari pengungsian, juga tidak luput dari pengamatan anak. Hal ini terungkap dalam karya berikut ini:

Perasaan yang dirasa ketika pulang adalah senang dan gembira karena rasa kangen rumah hilang. Aku pulang ke rumah dengan menggunakan truk terbuka. Walaupun agak bahaya buat anak, tetapi hanya itu yang bisa aku naiki. Karena aku dan ibuku tidak punya alat transportasi  (Istiqomah, 11 tahun)

 Perasaan yang dirasakan ketika pulang adalah takut karena masih terdengar suara gunung…. Saya mempunyai trauma. Trauma saya adalah takut ketika mendengar suara gunung dan saya sampai menggigil. (Shopia Nurul Mahmuda, 10 tahun)

Ya, itulah selintas tentang isi buku ”Erupsi Merapi, Lahirkan Inspirasi dan Aspirasi”. Kita bisa belajar bagaimana anak-anak yang masih sangat muda juga memiliki kemampuan untuk melihat dan menyadari realitasnya serta mampu mengungkapkan pandangan-pandangan sesuai dengan kapasitasnya terkait dengan kematangan dan sesuai dengan umurnya.

Ada banyak tema lain yang juga diungkapkan oleh anak. Selanjutnya, silahkan saja tunggu dan cari bukunya.

Yogyakarta 24 Maret 2011

_____________________________

Catatan, terima kasih kepada seluruh relawan Tim Kemanusiaan Merdeka.

Dokumentasi foto TKM, terutama hasil jepretan dari Bung Aan Faizin Nur Hidayat, seringkali kugunakan untuk tulisan-tulisan mengenai kegiatan anak-anak Merapi. Terima kasih Bung…!!!

_____________________________


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: